Kepala Distrik Waibu, Dominggus Kawai ( FOTO: Robert Cepos)

Otniel Kawai: Tidak Ada Pemotongan, Justru Diberikan Secara Merata 

SENTANI- Kepala Distrik Waibu, Dominggus Kawai mengungkapkan, penyaluran bantuan Bahan Makanan (Bama) yang diberikan oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jayapura melalui Dinas Sosial, terhadap warga yang terkena dampak  Covid-19 di Kampung Bambar, diduga tidak sesuai dengan Petunjuk dan Teknis (Juknis) yang sudah diterapkan oleh pemerintah pusat.

“Di kampung Bambar bermasalah, penyaluran bantuan Bama tidak sesuai dengan Juknis,” kata Kadistrik Waibu, Dominggus Kawai kepada media ini di Kantor Bupati Jayapura, Selasa (9/6).

Menurutnya, pemerintah Kampung Bambar telah menyalurkan bantuan Bama, namun beberapa itemnya dipangkas atau dikurangi. Misalnya, setiap penerima manfaat, mestinya harus mendapatkan  gula 2 Kg dan minyak goreng 2 liter, beras 10 Kg, telur, daun teh dan beberapa item lainnya. Namun faktanya lain di lapangan, untuk bantuan minyak goreng dan gula pasir dikurangi masing-masing 1 Kg dan 1 liter. Sehingga dari 2 item itu,  penerima manfaat hanya menerima 1 liter minyak goreng dan 1 Kg gula pasir.

“Mestinya masyarakat menerima masing-masing 2 Kg tetapi mereka kurangi 1 Kg per item, khusus untuk gula dan minyak goreng. Hari ini saya melihat, 568 Kg gula dan 568 liter minyak goreng kepala kampung simpan dirumahnya,” katanya.

Untuk itu, dia berharap tim Bansos  dari provinsi maupun Kabupaten Jayapura segera melihat persoalan ini secara jeli.

Sementara itu,Sekretaris Kampung Bambar, Rudo Ebe mengatakan, apa yang dilakukan oleh Kepala Distrik Waibu itu bentuk intervensi yang terlalu jauh terhadap kewenangan  kampung. 

“Sekarang tanya beliau, bantuan ini, fisiknya dia yang terima atau kami yang terima dari Dinas Sosial,” katanya.

Diakui, data usulan penerima manfaat untuk bantuan Bama yang sudah disampaikan ke Dinas Sosial Kabupaten Jayapura sebanyak 568 kepala keluarga. Namun faktanya, bantuan Bama tersebut tidak sesuai dengan jumlah data yang pihaknya kirim ke dinas tersebut. Bahkan bantuan Bama tersebut juga ada yang dikirim belakangan.

Namun pihaknya kami tidak mau bicara kekurangan itu. Lalu kepala distrik tahu dari mana data yang didrop dari Dinas Sosial itu sesuai dengan data yang ada di lapangan.  

“Bahasa potong itu salah, jumlah penddukan di semua kampung tidak sama. Kita di Bambar ini ada lebih dari 1000 kepala keluarga, sementara yang menerima bantuan Bama itu setengah dari jumlah tersebut. Kebijakan yang dilakukan oleh kepala kampung itu tidak perlu diintervensi, itu yang saya maksud,” tegasnya.

Di tempat yang sama, Kepala Kampung Bambar, Otniel Kawai mengatakan, bantuan yang disalurkan pihaknya itu tidak ada pemotongan. Hanya saja kata dia, pemerintah kampung  Bambar mengambil kebijakan untuk membagikan Bama tersebut secara merata kepada warga  Kampung Bambar. Bahkan kata dia, bantuan yang disalurkan itu tidak lagi berpatokan pada data penerima manfaat. Menurut dia, apa yang dilakukan oleh pihaknya itu bukan pemotongan atau pengurangan, namun lebih kepada upaya pemerataan terhadap warga kurang mampu yang ada di wilayah itu.

“Intinya kami bagi tidak lagi melihat data itu, warga dari luar Bambar-pun yang mengaku tinggal di Bambar meskipun KTP-nya Doyo Baru, tetap kita layani. Jadi bahasa potong itu tidak ada, itu tidak benar. Kalau ada yang bilang tidak dapat, tolong datang kemari biar kita tanya,”tegasnya. (roy/tho)