Kepala Satuan Pamong Praja Kabupaten Merauke Elias Refra, S.Sos, MM

MERAUKE- Kepala Satpol PP Kabupaten Merauke Elias Refra, S.Sos, MM, mengaku berada dalam posisi dilema atau seperti buah silamakama terkait dengan surat edaran bupati Merauke sehubungan dengan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dalam rangka memutus mata rantai penyebaran Covid-19 di Kabupaten Merauke.
Saat dihubungi lewat telepon selulernya, Jumat (15/1), Elias Refra mengaku di satu sisi kesehatan sangat penting, namun di sisi lain ekonomi masyarakat juga penting dalam rangka menyambung hidup mereka. “Di tengah situasi ekonomi saat ini yang cukup sulit, kita juga mau bertindak semuanya serba serbi. Artinya, teman-teman dari wartawan juga bisa tahu ekonomi sekarang seperti ini. Apakah memang harus tindak mereka lagi. Untuk makan saja sudah susah,’’ kata Elias Refra.
Ia mencontohkan lokalisasi Yobar. Jika tempat tersebut ditutup maka orang yang ada di tempat tersebut siapa yang akan datang memberinya makan. “Memang betul, beliau (bupati,red) mau semua orang bisa sehat. Tetapi bayangkan saja seperti di lokalisasi, orang jual diri baru bisa makan. Nah kalau itu ditutup, siapa yang mau datang kasih makan,” katanya.
Sementara disinggung soal rencana penertiban terhadap protokol kesehatan dalam hal ini pemakaian masker, Elias Refra mengaku bahwa sampai saat ini belum ada rencana penertiban masker tersebut. Apalagi menurutnya, pegawai sekarang ini mengeluh karena belum terima gaji.
“Kita saja yang mungkin orang punya duit, tapi tidak punya uang. Apalagi pegawai kecil, kasihan. Jadi kita menghargai semua. Kita menunggu dan menanti saja,’’ jelasnya.
Namun begitu, Elias Refra mengimbau masyarakat untuk tetap taat terhadap protokol kesehatan dengan menggunakan masker, sering cuci tangan di air mengalir dengan sabun, jaga jarak dan menghindari kerumuman. (ulo/tri)