Diskusi publik tentang melihat lebih dekat sekolah di Suku Wano, saat dilakukan melalui via zoom, Rabu (16/12).( FOTO: Yewen/Cepos)

*Dari Diskusi Publik Melihat Lebih Dekat Sekolah di Suku Wano

JAYAPURA- Ketua Program Studi Kesejahteraan Sosial (Kesos) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Cenderawasih (FISIP UNCEN), Drs. La Alimudin, M.Si, P.hD mengatakan, pendidikan menjadi aset ekonomi dan kesejahteraan di Papua. 

 “Kalau orang semakin baik tingkat pendidikannya, maka tidak menutup kemungkinan akan semakin baik ekonomi dan juga akan semakin baik kesejahteraan. Karena ekonomi semakin baik akan mempengaruhi kesejahteraan,” ungkapnya disela-sela memberikan sambutan dalam Diskusi Publik tentang Melihat Lebih Dekat Sekolah di Suku Wano yang berlangsung melalui aplikasi zoom, Rabu (16/12).

 “Kalau pendidikannya rendah, maka sebaliknya ya. Yang ada adalah kemiskinan. Karena kemiskinan tentu tidak ada pendapatan dan tidak dapat memenuhi kebutuhan dasarnya. Ini saya pandang dari sisi kesejahteraan sosial,” tambahnya.

 Menurut Alimudin kemiskinan bisa ditanggulangi dengan pendidikan. Oleh karena itu, setiap daerah yang belum disentuh membutuhkan pendidikan, sehingga mendapatkan pemberdayaan dan ada perubahan yang terjadi. 

 “Sekali kita katakan dimensi pendidikan sangat penting dalam memberikan perubahan bagi masyarakat di Papua,” ucapnya.

 Pendidikan secara nasional sendiri terdiri dari pendidikan formal, informal dan pendidikan non formal. Untuk Pendikan formal sendiri tentu terdiri dari PAUD atau TK, SD, SMP, SMA sampai dengan perguruan tinggi. Sedangkan pendidikan informal dan non formal adalah pendidikan yang yang tidak memiliki kurikulum, tetapi diakui secara nasional saat ini.

 Sementara itu, Ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Sosiologi-Kesos Fisip Uncen, Laurens Victor Dasinapa mengatakan, kegiatan ini merupakan bagian dari melihat lebih dekat para pejuang pendidikan di daerah-daerah pedalaman, salah satunya adalah sekolah yang dibuka oleh Andi Rumrar di Suku Wano. 

 “Semoga dengan cerita-cerita tentang semangat membuka pendidikan di daerah pedalaman yang diungkapkan dalam diskusi publik oleh kakak Andi Rumrar dapat memotivasi kita semua sebagai mahasiswa untuk melakukan pelayanan pendidikan kepada masyarakat di sekitarnya,” ucapnya.

 Laurens berharap, kegiatan diskusi publik ini membuka cakrawala para mahasiswa, sehingga bisa lebih terbuka dalam melihat kondisi sosial, terutama permasalahan sosial di dunia pendidikan yang ada di sekitarnya.

 Diskusi publik ini menghadirkan pemateri, yaitu Kepala Sekolah Lentera Harapan Wano Kampung Mokondoma, Andi Rumrar, Penanggap Dosen Kesos Fisip Uncen, Reni Shintasari, S.Sos, M.A, Pendiri Gerakan Papua Mengajar (GPM), Agustinus Kadepa, S.Pd dan kurang lebih 45 para peserta  yang mengikuti webiner ini. (bet/wen)