Kondisi halaman Pasar Pharaa Sentani dipenuhi tumpukan sampah, Minggu (25/10). ( FOTO: Robert Mboik Cepos)

SENTANI-Kondisi Pasar Pharaa Sentani, semakin memperihatinkan. Pasar yang awalnya dibangun untuk pemberdayaan ekonomi masyarakat justru dibiarkan tidak dikelola secara baik. Padahal, pasar ini dibangun dengan anggaran yang tidak sedikit. 

Persoalan yang paling menonjol di pasar itu adalah penataan pedagang, pemanfatan los atau kios pasar yang belum maksimal hingga penanganan  sampah dan lahan parkir yang saling tumpang tindih. 

Sampai saat ini, masyarakat lokal yang khusus menjual komoditi pangan, sebagian besar memilih berjualan di luar tempat terbuka. Padahal di dalam area pasar masih tersedia gedung kosong yang tidak bertuan.

“Masyarakat harus diatur, tidak bisa mengikuti kemauannya sendiri. Kalau mau berjualan biar pasar ini terlihat bagus, indah, maka  harus ditata. Salah satunya pedagang yang ada di luar harus memanfaatkan gedung yang ada di dalam,” kata Bahrudin, salah satu pengunjung pasar Pharaa Sentani, ketika diwawancarai media ini, Sabtu (24/10).

Setidaknya banyak potensi yang bisa dikembangkan oleh pemerintah  untuk menunjang Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari pasar itu. Yang pertama dari karcis parkir kendaraan, baik roda empat maupun roda dua. Kemudian retribusi para pedagang yang ada di dalam pasar, termasuk juga retribusi bagi masyarakat atau pedagang yang menggunakan los, kios  yang ada di dalam pasar.

Salah satu tokoh masyarakat Kabupaten Jayapura, yang juga sebagai Ketua LSM Papua Bangkit, Hengky Yoku juga menyoroti persoalan ini. Menurut dia, pasar itu dibangun menggunakan anggaran yang tidak sedikit, di mana ada anggaran CSR dari BRI, PT Freeport Indonesia dan APBD Kabupaten Jayapura.

“Jika pasar  ini tidak dikelola dengan baik maka akan memberikan sumbangan PAD yang cukup besar kepada Kabupaten Jayapura,”pungkasnya. (roy/tho)