Mama- mama pedagang yang berjualan memakai badan jalan umum di Pasar Kaget Expo Waena. Kondisi ini sangat memperihatinkan karena berjualan diatas tanah dan juga tanpa adanya pentup bagian atas untuk melindungi dari hujan dan sinar matahari, Kamis (1/8). ( FOTO : Noel/Cepos)

JAYAPURA –  Pemerintah Provinsi Papua dan Kota Jayapura seharusnya malu dengan membiarkan mama – mama Papua berjualan di pinggir jalan di Expo Waena. Mama-mama Papua ini berjualan diatas tanah dan tanpa atap sehingga  menghirup dedu dan asap kendaraan, belum lagi saat hujan dan terik matahari. 

Kondisi pasar kaget yang sudah hampir sepuluh tahun ini dibiarkan Pemerintah Provinsi Papua dan Kota Jayapura. Hal ini membuat banyak masyarakat yang prihatin dengan kondisi mama-mama penjual sayur tersebut.

“Barang (sayar mayur) yang mereka jual ini ada bagian dari makan minum masyarakat, maka pasar ini harus di tata, saya pernah lihat pasar khusus bagi orang Papua di Wamena itu mereka tata rapi dan ini beda dengan pasar Kota Jayapura khususnya di Expo ini dan kami lihat orang Papua kita disisihkan betul di tanah kami, ” Ungkap salah satu warga yang di temui di Expo, Ferry Wambaru, Kamis (1/8)

Ia mengatakan bahwa pemerintah Kota Jayapura harus membela masyarakat Papua yang tersisih di negerinya sendiri terutama yang berada di Kota Jayapura.

“Apapun itu ini Otsus sudah mau berakhir jadi perhatian kepada masyakat Papua itu harus dilakukan tanpa alasan, masa mama – mama di biarkan di jalan seperti ini, seharunya pemerintah Kota Jayapura dan Provinsi malu karena ini jalan utama, bagaimana tanggapan para tamu melihat pasar seperti ini,” katanya prihatin.

Sementara itu, mama Novelina saat berjualan pinang bersama para mama – mama penjual sayur lainnya mengaku dirinya dan pedagang harus berjualan dengan beralaskan aspal dan berteduh di bawah pohon menghindari  panasnya mentari dan hujan.

“Kita biasa jual begini sudah anak (ungkapnya kepada Cendewasih Pos) kalau hujan bisa kami lari ke dalam asrama kalo panas kami tingal saja, kami suda biasa anak,” katanya. Ia mengaku benar bahwa mereka semua membutuhkan perhatian serius Pemerintah baik itu Pemprov maupun Kota Jayapura.

Sementara itu, salah satu supir taksi angkot Libu mengaku sangat kesulitan saat berputar kendaraannya karena ada yang berjualan dipinggir jalan sehingga mobil menarik harus ber parkir di badan jalan akibatnya macet.(oel/gin)