Thiasoni Betaubun, S.Sos, M.Pd, M.Si ( foto: Sulo/Cepos )

MERAUKE-Kepala Dinas  Pendidikan  dan Kebudayaan Kabupaten Merauke  Thiasoni Betaubun, S.Sos, M.Pd, M.Si menanggapi  santai  terkait dengan  rencana  PGRI  Kabupaten Merauke   akan melakukan  boikot  ujian  sekolah dan ujian  nasional  untuk SMA/SMK   sehubunngan  dengan   tidak dianggarkannya    pembiayaan  ujian   sekolah dan ujian nasional  tahun  2020 oleh  Pemkab  Merauke. 

    Thiasoni menjelaskan bahwa sudah ada surat edaran  dari kepala Dinas  Pendidikan  Provinsi Pappua sekaligus  sosialisasi   yang dilakukan langsung  oleh Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Papua kepada  para Kepsek  SMA/SMK  di Jayapura terkait dengan   pembiayaan  ujian  sekolah dan ujian nasional tersebut.   Dimana pembiayaan  untuk ujian sekolah dan ujian nasional   tahun 2019/2020   bersumber dari dana BOS. 

  “Dana BOS itu  besar. Untuk setiap siswa  khusus SMA  jumlahnya Rp 1,5 juta  per tahun. Belum lagi  ada dana OAP  yang diterima sekolah sebesar Rp 600  ribu pertahun. Saya pikir dana ini bisa digunakan sebagian  untuk  pembiayaan pelaksanaan ujian  sekolah maupun ujian nasional SMA/SMK  tersebut,’’ kata   Thiasoni Betaubun.    

  Thiasoni   Betaubun mengaku  bahwa   pada tahun  2017 lalu, Pemkab Merauke   masih menganggarkan   pembiayaan  untuk ujian  SMA-SMK  tersebut, namun   UU dan amanat sudah jelas.  ‘’Untuk guru  honor SMA sebanyak 65  orang  masih ada di Pemda Merauke. Di luar  itu, telah disampaikan  bahwa   pembiayaan melalui dana BOS,’’ katanya. 

  Thiasoni  Betaubun juga mengaku siap   untuk hadir  memberikan penjelasan   kepada  dewan apabila  diundang  oleh wakil rakyat   tersebut. ‘’Nanti kita buka-bukaan   di sana sesuai dengan aturan yang ada. Saya siap untuk memberikan penjelasan di sana, karena   informasi yang  saya terima mereka sudah  sampaikan  hal ini ke dewan,’’ terangnya. 

    Mantan Kepala Badan Penanggulangan Bencana   Kabupaten Merauke  ini mempersilahkan  jika ada sekolah  yang mengancam  memboikot  ujian  sekolah dan nasional karena   pihaknya tidak dianggarkan pembiayaan ujian sekolah dan nasional  dalam APBD. “Jelas  kalau tidak melaksanakan ujian  berarti  dana yang diterima   lewat BOS dan  sumber  lainnya   harus dikembalikan ke kas  negara karena  tidak mencapai  bobot yang  diinginkan pemerintah,’’ tambahnya. 

   Diketahui, sebelumnya Ketua PGRI Kabupaten Merauke  Sergius  Womsiwor, SPd, MPd mengancam  tidak menggelar  ujian sekolah dan ujian nasional SMA-SMK  jika  Pemkab Merauke  tidak segera mengalokasikan anggaran  untuk  pelaksanaan ujian sekolah dan nasional SMA-SMK tersebut. (ulo/tri)