Yewen/Cepos

Pemuda bernama Henry Jonadab Ukru terlihat serius menuangkan susu ke dalam gelas, untuk melayani para pembeli di usaha Runrun Pace yang berada di pinggiran jalan raya Abepura Kota Jayapura, Kamis (15/10) lalu.

Melihat Usaha Runrun Pace, Salah Bisnis yang Dikembangkan Seorang Pemuda di Abepura 

Peluang Usaha Masih Terbuka Lebar, Jangan Hanya Berpikir jadi PNS 

Kebanyakan pemuda yang telah meraih gelar sarjana cenderung ingin bercita-cita menjadi pegawai negeri sipil (PNS). Namun hal ini berbeda dengan pemuda bernama Henry Jonadab Ukru yang memilih untuk membuka usaha Runrun Pace. 

Laporan: ROBERTHUS YEWEN

Pemuda bernama Henry Jonadab Ukru terlihat serius menuangkan susu ke dalam gelas, untuk melayani para pembeli di usaha Runrun Pace yang berada di pinggiran jalan raya Abepura Kota Jayapura, Kamis (15/10) lalu. ( FOTO: Yewen/Cepos)

Kamis(15/10)  sekitar kurang lebih pukul 12.00 Wit siang terlihat beberapa orang sudah mengantre untuk memesan minuman chocolate berisi susu milk yang di jual oleh Henry Jonadab Ukru (30) melalui usahanya yang diberi nama Runrun Pace. 

 “Kesempatan bukanlah hal yang kebetulan. Tapi kau harus Menciptakannya”. Inilah motto hidup yang digunakan Henry dalam membuka usaha Runrun Pace ini. Selain itu, dukungan dari keluarga menjadi alasan utama baginya untuk bergerak. Karena baginya, di dunia ini hanya keluarga yang bisa menerima kegagalan dan kesuksesan kita.

 Usaha Runrun Pace ini berada di pinggiran jalan raya Abepura, tepatnya di sebelah Gereja Elim dan berada di samping Gereja Katolik Gembala Baik Abepura. Usaha ini baru dibuka pertama kali pada hari Senin (12/10) yang lalu. 

 Henry terlihat serius mengambil beberapa gelas plastik sambil menarunya di meja. Sebelum mencampur chocolate dan susu di dalam gelas, Henry sapaan akrabnya ini harus menanyakan kepada para pembeli tentang selera dan rasa yang disukai.  “Kakak pesan rasa apa?,” tanya Hendry kepada salah satu pembeli sambil matanya melihat pembeli tersebut.  “Saya mau rasa chocolate taro,” kata pembeli tersebut sembari menjawab pertanyaan dari Henry.

 Setiap pembeli yang datang untuk merasakan minuman Runrun Pace ini, Henry harus bertanya tentang selera dan kesukaan mereka, sehingga ketika membuat pesanan dari para pembeli tidak keliru dan salah.

 Dari tangan Henry telihat dengan mudah mengelola minuman chocolate berisi susu ini dengan sangat lincah, mulai dari mengisi bubuk chocolate taro dan bubuk chocolate lainnya yang tentunya disesuaikan dengan selera para pembeli. Setelah itu, dirinya mengaduk-ngaduk hingga telihat kental. Lalu kemudian Henry mengisi es batu dan menuangkan susu milk di dalam kelas  tersebut. Kemudian, dirinya mencampur jelly dan boba yang disesuaikan dengan selera para pembeli. Paling terakhir di lengkapi dengan toping chocolate di atasnya.

 “Rasa minuman Runrun Pace yang saya jual ini ada rasa chocolate vanilla, double chocolate, chocolate taro, chocolate redvelvet, dan chocolate avocado,” kata Alumni Fakultas Ekonimi Dan Bisnis Uncen ini singat sembari tetap melayani para pembeli.

 Setiap rasa chocolate ini di jual Henry dengan harga sebesar 15.000,- (lima belas ribu rupiah) per gelas plastik. Jika pembeli ingin menambahnya dengan jelly, maka tinggal menambah uang saku 2000,- (dua ribu rupiah) saja, karena harganya 17000,- (tujuh belas ribu rupiah) per gelas plastik. Sedangkan jika pembeli ingin menambah boba, harus menambah uang saku 5000,- (lima ribu rupiah), karena harganya 20.000,- (dua puluh ribu rupiah) per gelas plastik.

 Dalam sehari penjualan minuman chocolate ini bisa terjual kurang lebih 40-50 gelas dengan keuntungan rata-rata per hari sebesar 750.000,- (tujuh ratus lima puluh ribu rupiah) sampai dengan 1.400.000,- (satu juta empat ratus ribu rupiah).

 Tak heran jika usaha yang kini digeluti Henry ini sangat laris manis dikalangan masyarakat, karena seleranya sangat enak dan yang lebih menyehatkan lagi adalah minuman chocolate ini seratus persen menggunakan susu. 

“Minuman chocolate ini seratus persen menggunakan susu dan tidak menggunakan air putih,” ungkap pemuda kelahiran Hulaliu 28 Januari 1990 ini sambil menuangkan susu milk ke dalam gelas plastik.

 Produk bubuk chocolate dengan berbagai rasa dan tenda yang digunakan ini semua merupakan bantuan dari Runrun. Henry hanya membeli produk-produk ini dari Runrun, sedangkan untuk penjualan dan keuntungan seratus persen masuk ke kantong pemuda yang lulus sarjana ekonomi (S.E) tahun 2014 ini.

 Dengan usianya yang baru 30 tahun sebenarnya masih memiliki peluang untuk bisa melamar dan mengikuti tes calon pegawai negeri sipil (CPNS). Namun hal ini tidak dilakukan oleh Henry, karena belum tertarik menjadi seorang aparatur sipil negara.

 Henry ingin mencari tantangan lain, yaitu dengan memulai untuk membuka usaha minuman chocolate Runrun yang di jualnya baru kurang lebih satu minggu ini.  Tantangan yang diambil oleh Henry untuk membuka usaha minuman chocolate Runrun ini harus menjadi contoh bagi para pemuda lainnya di Papua, tanpa harus menunggu seleksi CPNS yang dibuka setiap 4-5 tahun sekali.

 “Kita lihat anak-anak muda sekarang terfokus pada CPNS, padahal peluang usaha masih banyak. Inilah yang saya coba untuk membuka usaha Runrun Pace ini,” ujarnya sembari memberikan pesanan kepada para pembeli. (*/wen)