Berduka, Ratusan Nakes di Pegubin Long March, Bakar 1.000 Lilin dan Pasang Bendera Hitam 

JAYAPURA-Duka mendalam bagi tenaga medis, Gabriela Meilan (22) yang lompat ke jurang saat penyerangan dan pembakaran yang dilakukan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Distrik Kiwirok, Senin (13/9) lalu dinyatakan meninggal dunia, Rabu (15/9).

Sementara rekannya Kristina yang juga lompat ke jurang bersama Gabriela saat kejadian selamat, dengan kondisi luka parah, ia mengalami luka tusuk benda tumpul di tubuhnya. Kristina selamat setelah dua hari berada di jurang lantaran tubuhnya tersangkut di batang pohon.

Kristina Sampe Tonapa bersama tenaga kesehatan (Nakes) lainnya direncanakan dievakuasi pada Jumat (17/9) dari Distrik Kiwirok ke Jayapura. Sebelumnya, evakuasi akan dilakukan Kamis (16/9), hanya saja terkendala cuaca.

“Proses evkuasi batal karena cuaca di Kiwirok masih tertutup kabut tebal. Jarak pandang hanya 50 meter dan sangat berbahaya kalau heli dipaksakan untuk masuk ke Kiwirok,” ungkap Komandan Korem 172/PWY Brigjen TNI Izak Pangemanan saat dikonfirmasi Cenderawasih Pos, Kamis (16/9).

Untuk jenazah Gabriela Meilan lanjut Danrem, belum bisa dievakuasi dari jurang dengan kedalaman sekitar 400 meter. Hal ini dikarenakan jurang tertutup kabut dan peralatan yang tidak memadai.

“Kita masih berupaya supaya jenazah Gabriela bisa kita evakuasi dari jurang, serta melakukan pencarian terhadap Nakes lainnya yang belum ditemukan,” bebernya.

Dijelaskan, saat kejadian, Gabriela dan Kristina melompat untuk menyelamatkan diri. Saat melompat ke jurang, kedua orang Nakes ini tersangkut di pohon. Gabriela yang dilihat KKB saat itu langsung didorong ke jurang.

“Mereka dianiaya terlebih dahulu. Setelah  dipikir sudah meninggal dunia, KKB mendorong Gabriela dengan  menggunakan kaki mereka. Sehingga ia jatuh ke jurang,” jelas Danrem. 

Lanjut Danrem, sebanyak 40 personel TNI-Polri yang ada di Kiwirok saat ini masih melakukan proses pencarian terhadap salah satu Nakes yaitu Geral Sukoi. Dimungkinkan Geral sudah lari menyelamtkan diri. “Dimungkinkan Geral lari menyelamatkan diri, cuman belum tahu dia lari ke arah mana,” kata Danrem.

Terkait dengan kejadian di Kiwirok, Danrem menyampaikan warga di Distrik Kiwirok sudah kosong. Warga asli juga sudah mengungsi, sementara masyarakat pendatang mengamankan diri di Pos TNI.“Warga di Distrik Kiwirok sudah mengungsi karena takut akan kontak tembak,” ucapnya.

Secara terpisah, Pembela HAM Papua, Theo Hesegem menegaskan, dilihat dari sisi humaniternya dalam kondisi perang, masyarakat sipil siapapun dia wajib dilindungi.

“Dalam posisi perang antara OPM dan TNI-Polri, warga sipil siapapun dia wajib dilindungi. OPM tidak bisa membunuh dan menghilangkan nyawa orang tanpa ada pembuktian yang jelas,” tegasnya saat dikonfirmasi Cenderawasih Pos melalui telepon selulernya, Kamis (16/9).

Theo menegaskan, masyarakat sipil sekalipun dia non Papua wajib dilindungi oleh TPN-OPM dan TNI-Polri begitu juga dengan tenaga medis.

“Tenaga medis tidak boleh diperlakukan tidak manusiawi. Sebab dia melakukan pelayanan kepada masyarakat dan mereka wajib dilindungi. Dia (tenaga medis-red) bisa bebas melayani siapapun yang sakit, entah itu sipil, TNI-Polri atau bahkan TPN OPM,” tegasnya.

Selain itu lanjut Theo, TPN-OPM tidak perlu melakukan pembakaran terhadap fasilitas publik yang ada di Papua. Fasilitas publik hanyalah benda mati, sekalipun mau merontak untuk merdeka tapi fasilitas itu juga penting.

“Daripada membakar fasilitas publik, lebih baik TNI-Polri dan TPN-OPM tentukan tempat terbuka untuk perang. Kan mereka ini merasa punya kekuatan dan punya senjata, yang terpenting jangan lukai sipil,” ucapnya.

Sementara itu, mantan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pegunungan Bintang, Yermias Tapyor menyayangkan kejadian yang terjadi di Distrik Kiwirok. Ia tak menyangka peristiwa itu terjadi disaat para tenaga medis sedang berjuang menyelamatkan orang Papua di Pegunungan Bintang.

Sebagai mantan pimpinan sekaligus menjadi orang tua dan kawan di Pegunungan Bintang, Yermias merasa hancur dengan berita duka tersebut. “Saya membekali kalian dengan pelayanan kasih bukan dengan senjata yang mematikan. Sungguh memilukan hati,” ucap Yermias dalam rilisnya.

“Saya berani menempatkan kalian melayani di pelosok negeriku, karena saya merasa masyarakat di negeriku cinta damai. Saya menempatkan kalian dengan tujuan yang mulia yaitu untuk memperpendek rentang kendali jangkauan Nakes di daerah terjauh, terisolir dan perbatasan yang selama sekian tahun tidak menerima sentuhan pelayanan kesehatan yang optimal dan kalian sudah membuktikannya,” tuturnya.

Keberhasilan Nakes telah terbukti dengan menurunkan angka kematian ibu dan anak, menurunkan angka kesakitan, menekan angka rujukan dan kematian.

Menurutnya,  Nakes yang berada di Pegununan Bintang sekalipun beda ras tetapi datang dengan tujuan mulia. Mereka datang untuk menyelamatkan anak negeri. Buktinya, mereka bisa tabah dan melayani di daerah terpencil dengan meninggalkan sanak saudaranya, meninglkan hiruk pikuknya keramaian kotanya.

“Engkau tahu sendiri apa yang mereka sudah lakukan di sini (Papua-red), belum tentu anak negeri sendiri dapat menjangkau luasnya negeri ini. Memang mereka berasal dari sebrang, tetapi saya yakin hatinya baik,” tegasnya.

“Berjuang sampai kita merdeka sekalipun bila tidak ada manusia yang mendiami bumi ini, untuk siapa kemerdekaan itu ? Menolak orang yang dianggap penjajah bukan berarti dengan cara membunuh Nakes yang sedang berjuang menyelamatkan manusia pemilik negeri ini,” sambungnya.

Dirinya menegaskan bahwa sekalipun perang antar manusia terjadi, baju putih adalah lambang kenetralan. “Tidak boleh ada pihak yang memusuhinya dengan dalil apapun, apalagi membunuh dengan cara yang keji,” ujarnya.

Atas nama putra daerah sekaligus mantan pemimpin yang merekrut almarhumah dan kawan-kawannya. Yermias menyampaikan duka yang mendalam atas gugurnya pejuang kemanusiaan sekaligus permohonan maaf dari kami kepada keluarga yang ditinggalkan.

Sementara itu, insiden ini membawa duka bagi tenaga kesehatan lainnya khususnya pada Nakes yang ada di Kabupaten Pegunungan Bintang. Bentuk duka dari Nakes yang ada di Pegunungan Bintang terhadap rekannya yang lain ditunjukan dengan sekitar 250 Nakes se-Kabupaten Pegunungan Bintang dipimpin oleh Kepala Dinas Kesehatan Kab Pegunungan Bintang melakukan aksi damai long march dan bakar 1.000 lilin sepanjang jalan protokol di Oksibil ibukota Kabupaten Pegunungan Bintang.

Rute diawali dari jalan Kabiding menuju pertigaan Mabilabol dilanjutkan pernyataan sikap dan bakar seribu lilin, pemasangan bendera hitam sebagai tanda duka yang mendalam atas gugurnya rekan sejawat Nakes dalam tugas pengabdian pelayanan kesehatan di Distrik Kiwirok.

Aksi damai long march berakhir di halaman Mapolres Pegunungan Bintang dilaksanakan dengan doa bersama para Nakes, tokoh agama,  Kapolres dan para personel Polres Pegunungan Bintang.

Dalam pernyataan sikapnya para Nakes menyampaikan, Nakes adalah garda terdepan pelayanan kesehatan masyarakat yang seharusnya dilindungi oleh negara dan seluruh lapisan masyarakat. Para Nakes prihatin dan menyesalkan aksi kekerasan yang dialami para Nakes di Distrik Kiwirok yang menimbulkan korban jiwa serta 1 Nakes belum diketahui nasibnya.

Dengan ditariknya Nakes di Distrik distrik dan kampung-kampung, maka pelayanan kesehatan ke masyarakat secara otomatis berhenti tapi jangan salahkan para Nakes karena ini bukan kehendak para Nakes.

Para Nakes hadir dan melayani di Kabupaten Pegunungan Bintang bukan untuk membunuh apalagi dibunuh. (fia/nat)