Kenius Kogoya. ( FOTO: Erik / Cepos)

PON 2021 Papua

JAYAPURA – Dengan mundurnya pelaksanaan PON XX hingga Oktober 2021 membuat KONI Papua mengambil kebijakan untuk melakukan TC sentralisasi dan desentralisasi.

Atlet yang dinilai memiliki kans mendulang medali emas dan memiliki jejak rekam prestasi dalam 2 tahun terakhir, serta atlet pelatnas dan peraih medali PON Jawa Barat dikategorikan atlet utama dan tetap mengikuti TC sentralisasi.

Sementara atlet yang belum memiliki prestasi namun memiliki peluang meraih medali di PON XX 2021 dikategorikan sebagai atlet madya atau atlet muda, dan mengikuti TC desentralisasi.

Tapi tak semua atlet yang kini menjalani TC terpusat merupakan atlet yang memiliki prestasi di PON dan Kejurnas. Tapi beberapa diantaranya merupakan atlet pemula. Sehingga peran pelatih sangat penting dalam menentukan perkembangan atletnya selama menjalani TC terpusat.

“Kita ingin pelatih memberikan masukan mengenai perkembangan atletnya selama menjalani TC satu tahun lebih. Pasti sudah ada perkembangan positif kepada atlet untuk kita jadikan sebagai atlet madya menjadi atlet potensial atau atlet utama,” ungkap Sekretaris Umum KONI Papua, Kenius Kogoya kepada Cenderawasih Pos saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (19/5) siang kemarin.

Usai melakukan rapat koordinasi dengan cabang olahraga beberapa hari lalu, kata Kenius, pihaknya melalui tim Trisula KONI telah memiliki data bayangan mengenai atlet unggulan dan atlet madya.

“Tim trisula masih terus bekerja, tadi (selasa) mereka sudah laporkan sekitar 28 cabor yang sudah dipanggil dan dalam beberapa hari ini kita akan sampaikan jumlah atlet TC sentralisasi dan ddsentralisasi,” ujarnya.

“Kita minta masukan dari para pelatih, sehingga kita tetap menjaga mereka, agar mereka tidak benar-benar drop dan kembali dari nol. Dan kita harapkan mereka tetap menjaga kebugaran mereka,” tandasnya. (eri/gin).