Daud Henry Arim. ( FOTO: Erik / Cepos)

JAYAPURA – Hajatan Pekan Olahraga Nasional (PON) XX 2021 Papua tinggal menyisakan waktu 8 bulan lebih, sementara angka pasien Covid-19 di Tanah Air khususnya di Bumi Papua sebagai tuan rumah belum menunjukan tanda-tanda meredah.

Event olahraga terbesar Indonesia itu, saat ini masih di ambang kecemasan. Ketua Umum KONI Pusat Marciano Norman membeberkan kemungkinan besar perhelatan olahraga empat tahunan itu akan digelar tanpa penonton.

Bila itu benar-benar terjwujud, tentu akan menjadi kerugian bagi atlet tuan rumah yang mengharapkan suntikan spirit dari para penonton yang memadati stadion.

Sebelumnya, Sekretaris Umum KONI Papua, Kenius Kogoya mengaku, bila PON tanpa penonton tentu sangat berpegaruh bagi penampilan atlet Papua. Sebab itu, Kenius meminta para atlet Papua agar tetap semangat.

Sementara itu, Pelatih Kepala Futsal PON Papua, Daud Henri Arim juga menyangkan bila pertandingan Cabor PON XX Papua benar-benar dilaksanakan tanpa dihadiri penonton.

“Cabor persiapan PON menginginkan ada masyarakat nonton dan ada suporter sebagai pemain di luar lapangan yang bisa memberikan dukungan,” ungkap Daud Arim kepada Cenderawasih Pos saat dihubungi via telepon selulernya, Jumat (29/1).

“Apalagi kami tim Futsal yang akan bertanding di Mimika membutuhkan dukungan suporter. Kami berharap bisa ada masyarakat yang datang nonton dan memberi semangat bagi atlet-atlet saat bertanding,” ujar Daud.

Menurut Daud, bila PON dilaksanakan tanpa penonton akan merugikan mereka sebagai tuan rumah. Pasalnya, peran suporter atau penonton sangat dibutuhkan bagi atlet tuan rumah untuk membangkitkan semangat para atlet, serta memberikan tekanan mental bagi tim lawan.

“Kalau tanpa penonton atau suporter sama saja kita main di luar Papua, ini dapat memberi peluang bagi provinsi lain karena tidak ada tekanan bagi mereka,” ucap Daud.

Mantan pemain Persipura itu juga membeberkan, PON XX akan menjadi sejarah bagi masyarakat Papua. Sehingga sangat disayangkan bila PON kali ini tak bisa disaksikan langsung oleh masyarakat Papua.

“Ini moment pertama kali di Papua, kemudian kalau tidak ditonton oleh masyarakat Papua sangat disayangkan. Sebab kapan lagi akan dilaksanakan di Papua, pasti 50 atau 100 tahun lagi. Apa yang sudah diperjuangkan oleh Gubernur dan Wakil Gubernur dan pengurus KONI Papua ini harus bisa disaksikan oleh masyarakat atau orang Papua,” paparnya.(eri/tho)