Brigjen TNI Izak Pangemanan ( FOTO: Robert Mboik/Cepos)

Jenazah Dua Anggota TNI Diterbangkan 

JAYAPURA – Upaya pengejaran terus dilakukan anggota gabungan TNI-Polri terhadap pelaku pembacokan yang mengakibatkan  gugurnya dua anggota TNI AD bernama Prada Ardi Yudi Ardiyanto dan Praka Muhammad Alif Nur di seputaran penggalian material  di ujung Bandara Nop Goliat, Dekai Kabupaten Yahukimo, Selasa (18/5). 

Danrem 172/PWY Brigjen TNI Izak Pangemanan mengatakan, pengejaran merupakan hal normal yang harus dilakukan, agar pelaku tidak menganggu keamanan di daerah Yahukimo.

“Kita mendorong semua pihak ikut berperan, supaya dua pucuk senjata yang dirampas pelaku segera dikembalikan. Karena dengan adanya dua pucuk senjata yang beredar di masyarakat, akan membuat ketidaknyamanan kehidupan di Yahukimo dan bisa menganggu keselamatan setiap orang yang ada di sana,” ungkap Danrem Izak Pangemanan, Rabu (19/5).

Sehubungan dengan peristiwa itu, pihaknya akan menyikapinya dengan pendekatan teritorial. Untuk itu, dia juga meminta kepada semua  pihak harus ikut bertanggung jawab, baik itu Pemda setempat  selaku pemilik masyarakat,  dan juga pihak gereja. 

“Terkait dengan ini kita menyikapi ini dengan pendekatan teritorial, jangan karena kejadian ini kita menjadikan Yahukimo menjadi daerah perang, medan perang, tidak. Tetapi dengan adanya kejadian ini kita melibatkan semua pihak bahwa untuk menciptakan damai di Papua tidak bisa hanya TNI,” ujarnya.

Dia juga berjanji akan tetap mengendalikan pergerakan pasukanya yang saat ini sedang bertugas di lapangan. Sehingga tidak menimbulkan korban jiwa lagi dan pertumpahan darah. 

“Saya akan mengendalikan pasukan saya agar tidak menumpahkan darah, masyarakat Papua. Dan sampai hari ini saya sudah tunjukan, tidak ada pasukan saya yang menumpahkan darah masyarakat Papua. Tetapi kemarin oknum masyarakat  Papua menumpahkan darah prajurit saya. Di sini gereja harus bertanggung jawab, karena tidak akan mungkin kita bisa menciptakan damai kalau masih terjadi pertumpahan darah,” tandasnya. 

Danrem berharap dua pucuk senjata bisa diserahkan kepada TNI dan tidak disalahgunakan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Sementara untuk para pelaku sendiri, Danrem belum bisa memastikan dari kelompok mana dan  masih didalami. Namun, jika dilihat dari bekas luka bacok dan cara pelaku membacok korbannya, hampir sama dengan luka  atau  cara pelaku menghabisi nyawa staf KPU Yahukimo dan dua warga di Yahukimo pada Agustus 2020 lalu.

“Pelaku diduga ada kaitannya dengan pelaku pembacokan terhadap staf KPU Yahukimo. Karena  cara dia menghabisi korbannya sama. Namun kita masih dalami dan masih dilakukan pengejaran terhadap yang bersangkutan. Jangan sampai dia menimbulkan korban lainnya dengan senjata yang dirampasnya,” kata Danrem.

Untuk dua jenazah anggota TNI yang gugur, Danrem Izak Pangemanan menyebutkan sudah dievakuasi dari Yahukimo ke Sentani lalu selanjutnya diterbangkan ke kampung halamannya masing-masing.

“Prada Ardi Yudi Ardiyanto akan diterbangkan dan dimakamkan ke Kampung halamannya di Flores, sementara Praka Muhammad Alif Nur diterbangkan dan dimakamkan di kampung halamannya di Ambon,” jelasnya.

Sementara itu, Kapolres Yahukimo AKBP Deni Hardiana menyampaikan, lima orang telah dilimintai keterangan terkait pembacokan dua anggota TNI hingga meninggal dunia di Yahukimo.

“Lima saksi yang dimintai keterangan adalah para pekerja perusahaan PT. Pentagon pembuatan talud. Para saksi sedang dilakukan pendalaman,” kata Kapolres saat dikonfirmasi Cenderawasih Pos, kemarin (19/5).

Dikatakan, pasca kejadian tersebut pihaknya bersama bupati melakukan pertemuan dengan para tokoh untuk melakukan konsolidasi agar tidak berkembang hal-hal yang tidak diinginkan. Selain konsolidasi, TNI-Polri melakukan pengejaran dan penyisiran.

“Kita sedang melakukan penyisiran dan penyekatan di beberapa daerah supaya mereka tidak keluar dari Yahukimo. Keberadaan mereka masih di Yahukimo dan dan senjata masih ada di tangan mereka,” kata Kapolres.

Disinggung apakah pelaku ada kaitannya dengan pembacokan staf KPU yang terjadi pada Agustus 2020 lalu, Kapolres mengaku belum bisa menyimpulkan. Karena sedang dilakukan pendalaman. (fia/roy/nat)