Muliadi Anangkota, S.IP, M.KP

JAYAPURA- Pada Pilkada 2020 ini, beberapa pasangan calon (paslon) petahana atau incumben harus mengalami kekalahan. Dari hasil rapat pleno terbuka rekapitulasi penghitungan suara yang sudah dilakukan di 10 kabupaten, empat petahana yaitu di Kabupaten Keerom, Pegunungan Bintang, Mamberamo Raya dan Yahukimo, tumbang.
Menanggapi tumbangnya beberapa petahana atau incumbent dalam Pilkada di Papua, dosen Program Studi Ilmu Pemerintahan, Jurusan Politik, Fisip Uncen, Muliadi Anangkota, S.IP, M.KP mengatakan, politik selalu dinamis dalam mencari massa atau dukungan dari konstituen.
Menurut Anangkota, pelaksanaan Pilkada ini masih melakukan pola-pola lama, seperti doktrinisasi, kampanye hitam, politik uang dan janji-janji politik. Hal ini sebenarnya merupakan pola lama yang selalu digunakan oleh calon kandidat dalam Pilkada.
“Sementara masyarakat kita sekarang ini sudah hidup diera yang transparan dengan kecanggihan teknologi, sehingga tinggal diakses bisa langsung dapat,” ungkapnya kepada Cenderawasih Pos saat dihubungi melalui telepon selulernya, Jumat (18/12).
Dikatakan, figur calon kepala daerah dan wakil kepala daerah sebenarnya mengikuti budaya politik masyarakat. Dimana dalam budaya politik ada budaya parokial, partisipan dan budaya kaula.
Budaya-budaya ini sebenarnya seorang figur itu tampilkan, tetapi kemudian figur itu tidak sesuai dengan karakter masyarakat. Menurutnya, walaupun figur tersebut dikenal masyarakat, tetapi yang dikenal hanya karir di luar politik. Tetapi saat masuk dalam politik, sorang akan menilai bahwa calon kandidat ini tidak cocok dengan latar belakangnya.
“Tapi juga ada figur yang diidam-idamkan oleh masyarakat, secara kebetulan figur itu dimunculkan. Ini tentu cocok dan bisa merebut hati masyarakat untuk memilihnya,” katanya.
Anangkota melihat para petahana yang bertarung dalam Pilkada ini kebanyakan masih menggunakan cara-cara lama. Dalam melakukan pendekatan untuk meraup suara dan simpati masyarakat. Hal ini sebenarnya menunjukkan tidak ada taji.
“Malah terkesan para petahana ini lebih menonjolkan pola lama. Saya lihatnya di situ. Tidak ada tajilah. Kalau bahasa keren itu politik yang tidak ada taji,” ucapnya.
“Meskipun dari awal para petahana optimis bisa menang, tetapi inikan bukan jaminan. Sebab masyarakat sekarang sudah pintar dan cerdas,” sambungnya.
Anangkota menyampaikan, dalam politik saat ini tidak lagi menampilkan politik lama yang lebih menonjolkan kekuasaan atau lebih menonjolkan status quo. Ini justru tidak cocok. Karena dengan adanya calon independen yang dimunculkan sedikit mengganggu para petahana yang lebih menonjolkan status quo.
“Yang saya lihat dan paling penting di luar dari yang biasa disampaikan para pengamat, yaitu dilihat dari mesin politik petahana. Dimana partai pengusung terlalu gemuk dan besar, sehingga bisa berbenturan strategi. Ini akhirnya berdampak pada performa dalam menyakinkan masyarakat dari segi suara,” pungkasnya. (bet/nat)