LAYANI PEMBELI: Seorang pedagang di Pasar Youtefa saat melayani pembeli, Selasa (23/6). Mulai, Sabtu (27/6) besok, aktivitas di pasar Youtefa ditutup hingga Jumat (3/7). (FOTO :Yohana/Cepos)

JAYAPURA-Pemkot Jayapura melalui Gugus Tugas Covid-19 Kota Jayapura akhirnya mengambil keputusan menutup aktivitas di Pasar Youtefa selama satu minggu terhitung mulai Sabtu (27/6) hingga Jumat (3/7) mendatang. 

Penutupan ini tidak terlepas dari hasil rapid test terhadap pedagang di Pasar Youtefa yang telah dilakukan Gugus Tugas Covid-19 Kota Jayapura selama tiga hari 22-24 Juni 2020. 

Dari hasil rapid test terhadap 1.948 pedagang, terdapat 394 orang yang dinyatakan reaktif. 

Terkait dengan penutupan tersebut Ketua Tim Gugus Tugas Covid-19 Kota Jayapura, Ir. H. Rustan Saru, MM., mengatakan, pihaknya sudah mensosialisasikan rencana penutupan Pasar Youtefa untuk sementara. Diakuinya, Pemkot Jayapura berharap aktivitas di pasar tersebut tidak ditutup. Sebab Pasar Youtefa merupakan sentra perekonomian di Kota Jayapera dan sekitarnya. 

Namun dengan pertimbangan keselamatan warga serta untuk memutus penyebaran virus Corona atau Covid-19, mau tidak mau aktivitas pasar harus ditutup. “Pedagang dan masyarakat harus bisa menerima keputusan ini,” ucap Rustan Saru yang juga Wakil Wali Kota Jayapura kepada Cenderawasih Pos, Kamis (25/6). 

Selain melakukan sosialisasi, Rustan Saru mengaku sudah berkoordinasi dengan Pemkot Jayapura. Pihaknya juga akan berkoordinasi dengan Pansus Covid-19 DPRD Kota Jayapura. “Kami akan menyampaikan dan menjelaskan kepada Pansus kenapa aktivitas pasar terpaksa ditutup,” tuturnya. 

Selama penutupan pasar, Tim Gugus Tugas Covid-19 Kota Jayapura menurut Rustan Saru akan turun ke Pasar Youtefa untuk melakukan sterilisasi. Pihaknya akan melakukan penyemprotan desinfektan di Pasar Youtefa, agar virus yang menempel di benda-benda atau tempat jualan bisa mati. 

“Kita harap setelah pasar dibuka minggu depan, sudah steril. Meskipun demikian, pedagang dan warga yang beraktivitas di pasar setelah dibuka kembali, tetap menerapkan protokol kesehatan,” pintanya.

Terkait penutupan Pasar Youtefa ini, salah satu anggota DPR Papua, Darwis Massi menilai penutupan ini bukanlah solusi untuk memutus mata rantai penyebaran.

Malah menurut dia penutupan tersebut justru akan menimbulkan masalah baru ke arah sosial dan  ekonomi  para pedagang terutama pedagang kecil. Massi menyarankan agar mereka yang dinyatakan positif maupun reaktif itulah yang “diambil” dan ditangani secara medis, sedangkan yang dinyatakan negatif bisa tetap beraktivitas di pasar dan berjualan seperti biasa. 

“Kalau hanya menutup saya pikir akan muncul masalah baru. Banyak yang hidupnya tergantung dari lokasi pasar sehingga menurut saja akan lebih tepat jika mereka yang reaktif dan positif dikarantina atau dilakukan isolasi dan selanjutnya diobati,” bebernya. 

“Sedangkan lokasi pasar diberlakukan protokoler kesehatan yang ketat namun tidak dengan menutup. “Pemerintah harus jeli agar ada solusi dan keduanya baik penanganan rapid maupun aktifitas berjualan tetap bisa berjalan apalagi ini menuju normal live,” sambungnya. 

Karena itu lanjut Massi sedari sekarang seharusnya secara perlahan mulai disosialisasilakan bagaimana kehidupan roda ekonomi, pemerintahan dan seluruh aspek yang tetap berjalan normal namun melekatkan aspek protokoler kesehatan.

 “Bila perlu berikan tanda bagi pedagang yang negatif untuk tetap jualan sedangkan yang positif menjalankan karantina, saya pikir ini juga baik tanpa harus ditutup,” tuturnya. 

Saran lainnya adalah pasar ditutup sehari untuk dilakukan pembersihan kemudian dilakukan penyemprotan disinfektan secara masive. “Jadi hanya mereka yang  positif saja yang diminta untuk tidak berjualan sedangkan yang lain boleh tetap beraktifitas,” pungkasnya. 

Sementara itu, terkait data yang dikeluarkan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 yang menyebutkan Kota Jayapura menjadi daerah dengan rasio kasus positif Covid-19 tertinggi kedua setelah Jakarta,  dengan rasio 108 kasus per 100.000 penduduk, Rustan Saru tidak menampik hal tersebut. Sebab jumlah penduduk di Kota Jayapura hanya sekira 422 ribu. Sehingga kumulatif data penyebaran Covid-19 sampai sekarang sudah mencapai 700 lebih kasus tentu memang tinggi. 

Namun walaupun demikian, jumlah pasien Covid-19 yang sembuh menurutnya juga luar biasa sudah mencapai ratusan. Dirinya juga menyebutkan bahwa kasus positif Covid-19 Kota Jayapura beda dengan kota-kota besar lainnya. Dimana yang terkena Covid-19 kebanyakan kategori Orang Tanpa Gejala (OTG). 

“Jadi yang terpapar Covid-19 tidak banyak yang mempunyai riwayat sakit bawaan. Sehingga bagi pasien Covid-19 OTG rata-rata bisa disembuhkan dengan cepat,” tuturnya.

“Kita tidak khawatir dengan data ini karena tim surveilance kita banyak menemukan kasus dari dilakukan rapid test massal bukan dari tracking. Jadi tidak masalah dengan data ini dan ini sebagai warning dari kita untuk terus bergerak melakukan penanganan secara sistematis,” sambungnya.

 Selain itu, dengan adanya Perwal Wali Kota Jayapura tentang penggunaan masker saat aktivitas di luar rumah, maupun penyediaan APD di tempat usaha, instansi, BUMN/BUMD dalam menerapkan protokol kesehatan, tentunya masyarakat sudah mulai sadar akan pentingnya menjaga keselamatan diri masing-masing. Sehingga nantinya penyebaran Covid-19 juga semakin bisa menurun.  

“Kenapa dari data banyak pasien Covid-19 yang bisa ditemukan, karena Tim Gugus Tugas berusaha semaksimal mungkin dalam memutus mata rantai penyebaran Covid-19 dengan cara melakukan rapid massal baik di terminal maupun pasar. Dengan demikian dalam penjaringan ini sangat penting sekali, supaya warga yang reaktif bisa langsung diperiksa swab sambil menunggu hasilnya dan yang sudah dinyatakan hasil swab positif langsung ditangani penyembuhannya,” pungkasnya. (dil/ade/nat)