PASAR IKAN: Pemkot Jayapura akan menutup sementara aktivitas di Pasar Ikan Hamadi terkait adanya 10 penjual ikan keliling yang positif Covid-19. Tampak aktivitas bongkar muat ikan di dermaga TPI Hamadi. Gambar ini diambil Juni 2019 sebelum terjadi masa pandemi Covid-19. (FOTO: GAMEL/CEPOS)

Termasuk Hamadi Rawa, Hamadi Pontong dan Belakang Kompleks SMAN 4  

JAYAPURA-Hasil evaluasi yang disampaikan tim Gugus Tugas Pandemi Covid-19 Kota Jayapura dari hasil pantauan dan perkembangan beberapa hari terakhir merekomendasikan  untuk dilakukan penutupan akses atau beberapa wilayah di Kota Jayapura. Ini juga berkaitan dengan adanya penambahan 10 orang yang dinyatakan positif hasil dari pemeriksaan Polymerase Chain Reaction (PCR).

 Pemerintah Kota Jayapura harus bergegas, mengingat diyakini jumlah ini akan bertambah bila dilakukan rapid tes. Langkah pertama yang dilakukan adalah dengan menutup akses. Menurut Ketua Tim Gugus Tugas Covid-19 Kota Jayapura, Ir. H. Rustan Saru, MM.,  lokasi yang akan ditutup adalah Pasar Ikan Hamadi. Selain itu titik yang juga akan ditutup  adalah lorong – lorong di Hamadi Rawa 1, Rawa 2   termasuk Hamadi Pontong. 

 Penutupan ini kemungkinan akan dilakukan hingga Kamis (14/5). Masyarakat juga diminta memahami situasi ini. Informasi lain menyebutkan bahwa tak hanya Hamadi melainkan  akses menuju SMAN 4 Jayapura juga akan ditutup. “Ini untuk mempercepat penanganannya. Tadikan ada penjual ikan yang dilaporkan sebanyak 10 orang yang positif di Pasar Hamadi dan agar tidak menyebar kami coba tutup dulu untuk mempercepat penanganannya,” kata Rustan Saru melalui ponselnya, Jumat (8/5) malam. 

 Dari penutupan ini paling tidak akan mempermudah tim gugus covid mengambil langkah – langkah termasuk melakukan rapid test. Pengecekan lewat rapid test sendiri akan dimulai Sabtu (9/5) hari ini dengan sasaran penjual ikan. Rustan menyebut ada sekitar 500 pedagang ikan dan dari jumlah ini diprediksi ada sekira 300 yang bisa berstatus reaktif karena berjualan tidak hanya di Kota Jayapura tetapi sampai ke Kabupaten Jayapura maupun Keerom.

 “Jadi kami tutup dulu dan mulai besok penjual ikan mulai dirapit test. Ada sekira 500 pedagang dan kemungkinan kalau dites semua jumlah yang reaktif bisa mencapai 300, karena mereka berkeliling,” kata Rustan.  

Hanya saja untuk penularannya hingga kini pihaknya belum mengetahui apakah dari nelayan asing atau lingkungan sekitar. “Ini juga yang ingin kami tahu riwayat kontaknya. Ini harus ditelusuri,” tambahnya.

 Lalu bila ternyata dari tes ini  ada jumlah yang tak sedikit yang dinyatakan reaktif, Rustan menyebut akan segera menyiapkan tempat untuk dilakukan isolasi.  Pihaknya akan menyiapkan tempat untuk para pedagang yang reaktif bisa ditangani secara medis. “Jadi kalau ada yang positif langsung kami minta untuk diisolasi dan ini harus dipatuhi,” kata Rustan. 

Selain pedagang, warga sekitar lokasi pasar juga akan dirapid. Tim Gugus Covid sendiri memiliki sekira 3.700 alat tes dan jumlah ini dianggap masih cukup untuk menangani lokasi tersebut. “Rencana besok (hari ini) sekira 100 orang dulu yang akan kami rapid. Dilanjutkan Senin ke pegawai di Pemkot Jayapura juga. Sebelumnya ada 545 yang sudah dirapid namun masih menunggu hasil swab,” imbuhnya. 

Rustan Saru menambahkan bahwa bagi pedagang keliling yang sudah dilakukan rapid tes akan diberikan stiker dan ini bisa menjadi ajuan masyarakat jika ingin berbelanja. 

 Jadi baik penjual sayur keliling, penjual ikan keliling atau penjual bakso keliling yang sudah menjalani tes dan dinyatakan negatif akan  diberi stiker. Nah untuk yang mau membeli bisa mengecek, jika ternyata belum ada stikernya maka orang atau pedagang tersebut dipastikan belum memeriksakan diri dan sebaiknya berhati-hati. “Konsekwensinya di situ. Jika tidak ada stiker ya mending jangan dibeli sebab pedagang itu belum melakukan pemeriksaan,” sambungnya. 

 Rustan Saru sendiri mengomentari bahwa masyarakat harus paham dan membantu pemerintah agar situasi ini bisa segera berlalu. Jika masih  keras kepala dan berkeliaran sana sini tanpa mengindahkan protokoler covid 19 maka potensi penyebaran sangat terbuka. “Yang jelas kalau ada lokasi yang dinyatakan positif akan langsung kami datangi dan ambil orangnya, tutup akses bila perlu,” tegas Rustan. 

 Disinggung soal pasien termuda yang pernah ditemukan positif, Rustan menyampaikan bahwa di Kota Jayapura  pernah ada bayi yang dinyatakan positif namun setelah menjalani perawatan akhirnya kini statusnya negatif. “Dengar-dengar sedikit sudah, jangan terlalu bikin tau-tau. Kita semua sibuk dan harus menangani ini itu. Situasi sulit berubah jika masyarakat tidak patuh. Kuncinya disitu saja,” pungkasnya.

Secara terpisah, Wali Kota Jayapura, Dr. Benhur Tomi Mano, MM., mengaku sudah mendapat laporan dari Ketua Tim Gugus Tugas Pencegahan Penanganan Covid-19 Kota Jayapura. Wali Kota BTM menyatakan mendukung langkah yang diambil Tim Gugus Tugas Pencegahan Penanganan Covid-19 Kota Jayapura untuk menutup sementara Pasar Ikan Hamadi dan beberapa titik untuk mencegah penyebaran virus Corona. 

 Wali Kota BTM mengatakan, untuk penutupan memang permintaan selama 14 hari. Namun ini sifatnya juga situasional melihat perkembangan di lapangan, karena jika tidak ada yang positif tentu tidak sampai 14 hari. Pasalnya, ini menyangkut perekonomian warga. “Untuk itu, diharapkan warga selalu mentaati instruksi wali kota dalam melawan Covid-19. Bagaimanapun jika tidak ada kesadaran dan kedisiplinan tentu wabah ini tidak bisa cepat musnah dari muka bumi ini,” tutupnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Jayapura, dr. Ni Nyoman Sri Antari menginformasikan bahwa dari 37 sampel swab yang diperiksa Labkesda Provinsi Papua, hasilnya 10 orang penjual ikan dinyatakan 10 positif terpapar Covid-19. “Sepuluh orang yang dinyatakan positif ini tinggal di beberapa kelurahan di Kota Jayapura yaitu Kelurahan Tanjung Ria, Kelurahan Hamadi, Kelurahan Waimhorock dan Yabansai. 

“Ada 58 orang pedagang ikan di Kota Jayapura yang rapid testnya dinyatakan  reaktif Covid-19. Kemudian  dilakukan test PCR sebanyak 37 sampel. Hasilnya ditemukan 10 orang yang positif Covid-19. Saat ini masih ada 21 sampel swab pedagang ikan yg belum  dilakukan test PCR,” bebernya. 

Dari hasil test PCR ini, dr. Sri mengaku langsung berkoordinasi dengan Puskesmas pada setiap kelurahan tempat 10 orang penjual ikan ini berdomisili untuk melakukan penyisiran. “Petugas Puskesmas akan menyisir siapa saja yang pernah kontak pertama dengan keluarganya. Setelah itu, dilakukan pemeriksaan atau pengawasan supaya tidak ada penyebaran lagi,” ujarnya.

Ditambahkan, hingga saat ini sebanyak 2.913 orang di Kota Jayapura telah menjalani rapid test dan hasilnya 148 orang dinyatakan reaktif. “Untuk  35 sampel swab yang belum dilakukan test PCR,  termasuk enam orang dari hasil rapid test di lingkungan  DPRD Kota Jayapura juga akan segera dikirim ke Litbangkes. Karena masih menunggu antrian,” pungkasnya. (ade/dil/nat)