Seorang ibu memeluk anaknya dengan penuh kasih sayang, kemarin (17/5).

Kelalaian orang tua berakibat fatal. Kini semakin banyak anak terjangkit virus korona. Meski demikian, sebagian orang masih menganggap remeh virus ini.

———-

Dua pekan terakhir, jumlah kasus anak terjangkit Covid-19 di NTB bertambah 24 kasus. Total 39 orang anak NTB, usia 0-18 tahun terjangkit virus korona. Satu balita asal Lombok Timur meninggal dunia. ”Ini sangat menghawatirkan, apalagi peningkatannya cukup pesat,” kata Koordinator Divisi Hukum Lembaga Perlindungan Anak (LPA) NTB Joko Jumadi, sekaligus ketua LPA Mataram.

Sebagian besar anak tertular virus yang dibawa orang tuanya. Orang tua yang pernah ke daerah terjangkit tidak menerapkan protokol pencegahan Covid-19 saat pulang.  

Rendahnya pemahaman orang tua terkait cara melindungi anak juga jadi penyebab lain. ”Jarang kami lihat orang tua memberikan APD lengkap pada anaknya ketika dibawa keluar rumah,” tuturnya.

Menurutnya, faktor kelalaian orang tua inilah yang membuat banyak anak terjangkit virus. ”Orang tua yang tidak peka menyebabkan anak-anak terkena,” ujarnya. 

Padahal, pemerintah telah mengimbau agar masyarakat berdiam diri di rumah. ”Semestinya para orang tua menjaga buah hatinya, layaknya menjaga dirinya sendiri,” kata Joko. 

Data LPA NTB menunjukkan, kasus penularan virus korona pada anak cukup beragam. Anak tertular keluarga, orang terdekat, hingga transmisi lokal saat menyentuh barang-barang di area publik. Tapi kelalaian orang tua menjadi faktor utamanya.

Ia mengingatkan, virus korona bukan penyakit gampangan. Vaksinnya belum ada. Jalan satu-satunya untuk memutus mata rantai penyebaran dengan mengurangi aktivitas di tempat keramaian. ”Serta menerapkan protokol kesehatan saat keluar dan di dalam rumah,” katanya.

Dari 39 kasus anak terjangkit covid-19, 20 orang di antaranya di Kota Mataram. Sebagian besar merupakan anak dari keluarga klaster Gowa. ”Kalau anak remaja kluster Magetan dan remaja ponpes,” kata Kepala Dinas Kesehatan NTB dr Hj Nurhandini Eka Dewi. 

Ia mengimbau, orang yang berisiko tinggi harus isolasi. ”Anak-anak jangan diajak keluar rumah ke sembarang tempat,” imbuh dokter spesialis anak itu. 

Membawa anak ke pusat keramaian cukup fatal di tengah pandemi. ”Anak-anak tidak sekolah, bukan berarti di rumah bisa bebas ke mana saja,” kata Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) NTB Hj Putu Selly Andayani.

Faktanya, masih banyak orang tua membawa anak balitanya berbelanja ke pusat-pusat perbelanjaan. ”Ramadan ini, kami lihat banyak anak-anak malah diajak ngabuburit bersama orang tuanya,” terangnya.

Untuk menekan penyebaran virus pada anak, DP3AP2KB NTB meminta para orang tua tidak membawa anak-anaknya keluar rumah. ”Lebih baik anak ini di rumah, rangkul mereka, dan beri pendidikan di dalam rumah,” imbuhnya.

Baiq Nining, salah satu orang tua yang sadar. Ia mengaku waswas saat membawa anaknya keluar rumah. ”Anak-anak ini rentan sekali terpapar, saya lebih memilih tidak membawa anak saat keluar,” katanya.

Meski anak-anak dibekali alat pelindung diri, seperti sabun cair dan masker. Tidak ada yang tahu barang-barang yang ada di fasilitas publik aman dari virus. “Anak-anak ini suka bergerak ke sana dan ke mari, jadi sangat riskan memegang ini dan itu,” jelasnya.

Senada dengan Nining, Imam Ahmadi, salah satu warga Mataram tidak berani mengambil risiko saat membawa membawa anaknya keluar rumah. ”Lebih baik saya dan istri saja yang keluar, anak bisa kami titipkan pada mbahnya,” katanya. (tea/ili/r5/JPG)