Ketua Pansus Covid-19 DPRD Kota Jayapura Yuli Rahman, SH., saat ikut Sidak operasi Prokes dan jam aktivitas malam di wilayah Kota Jayapura bersama aparat gabungan dan mengakui kesadaran warga dan pelaku usaha dalam mendukung memutus mata rantai Covid-19 masih lemah, Sabtu (19/12) pekan kemarin. ( FOTO: Priyadi/Cepos)

JAYAPURA-Ketua Pansus Covid-19 DPRD Kota Jayapura Yuli Rahman, SH.,bersama aparat gabungan TNI/Polri dan Satpol PP Kota Jayapura, hari Sabtu (19/12)pekan kemarin, telah melakukan Sidak penerapan Protokol kesehatan maupun penerapan jam aktivitas malam pukul 22.00 WIT di Kota Jayapura.

Dalam Sidak ini, Yuli mengaku sangat prihatin dan sedih karena sampai pukul 24.00 WIT aktivitas jam malam perekonomian dan masyarakat Kota Jayapura masih begitu ramai bahkan banyak yang tidak menerapkan protokol kesehatan tidak memakai masker, berkerumun di jalan-jalan, termasuk anak-anak muda.

“Kami sangat prihatin dengan kondisi ini disaat kami Satgas, Pansus dan aparat terus gencar-gencarnya memutus mata rantai penyebaran Covid-19 Kota Jayapura, namun masih ada pelaku usaha dan masyarakat yang bandel malas tahu tidak menjalankan instruksi wali kota, jika kita terus lakukan sidak seperti ini tentu tidak mungkin, jadi kesadaran dan peran serta masyarakat dalam membantu memutus mata rantai penyebaran Covid-19 secara diri sendiri ini harus semua ditanamkan dengan baik,’’katanya.

Ditegaskan, jika pelaku usaha dan masyarakat masih seperti ini ia pesimis nanti virus Corona ini tetap ada, jadi kesadaran diri untuk mau menaati Prokes ini harus wajib dijalankan. Masyarakat juga harus tahu bahwa menuju new normal bukan berarti masyarakat sudah bebas tidak seperti ada virus Corona, justru adanya new normal ini masyarakat diminta tetap menerapkan protokol kesehatan.

  Yuli juga meminta kepada para orang tua untuk bisa mengawasi dan mengedukasi anak-anaknya untuk tetap di rumah, jangan seperti saat ini banyak ditemukan anak-anak usia pelajar keluar rumah sampai jam 24. 00 WIT berkumpul di jembatan youtefa tidak memakai masker, karena ini bahaya untuk kesehatan maupun masa depan anak-anak yang masih statusnya pelajar.(dil/wen)