Sejumlah prajurit TNI mengusung peti jenazah Wakasad Letjen TNI Herman Asaribab yang tiba di Bandara Sentani, Selasa (15/12) pukul 11.40 WIT. ( FOTO: Robert Mboik/Cepos)

JAYAPURA-Pangdam XVII/Cenderawasih, Mayjen TNI Ignatius Yogo Triono menegaskan bahwa Wakil Kepala Staf TNI Angkatan Darat (Wakasad), Letnan Jenderal (Letjen) TNI Herman Asaribab meninggal dunia bukan karena Covid-19, sebagiamana ramai diberitakan.

Pangdam mengakui, almarhum sebelumnya pada tanggal 9 November 2020 dinyatakan positif Covid-19. Sejak saat itu, menjalani perawatan di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto hingga dinyatakan negatif Covid-19. Bahkan Wakasad menurutnya juga telah menjalani tiga kali swab dan hasil akhir dinyatakan negatif.  

“Dalam perjalanan perawatan, beliau sudah negatif. Sehingga beliau meninggal bukan karena Covid. Karena selama tiga kali swab hingga terakhir sudah negatif, tapi kondisi beliau masih lemah lantaran virus sudah menyerang organ tubuh lainnya,” ungkap Pangdam kepada wartawan di rumah duka, Selasa (15/12). 

Lanjutnya, usai dinyatakan negatif Covid-19, almarhum tetap berada di ICU non Covid dan menjalani perawatan intensif hingga dinyatakan meninggal dunia setelah menjalani perawatan lebih dari 3 minggu. 

“Atas nama keluarga besar Kodam XVII/Cenderawasih dan atas nama prajurit TNI-AD secara keseluruhan kami mengucapkan turut berduka cita secara mendalam atas meninggalnya Wakasad putra terbaik Papua,” sambungnya.

Mengenai rencana pemakaman, Pangdam mengatakan, setelah disemayamkan di rumah duka Selasa (15/12) kemarin, rencananya hari ini pukul 10.00 WIT jenazah akan dibawa ke Makodam XVII/Cenderawasih untuk disemayamkan sejak. Setelah itu, dilakukan upacara pelepasan jenazah dari Makodam XVII/Cenderawasih untuk selanjutnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Waena sekira pukul 11:00 WIT. “Adapun yang menjadi inspektur upacara pada pemakaman yakni Koordinator Staf Ahli Kepala Staf TNI AD Letnan Jenderal TNI Ali Hamdan Bogra,” tambahnya.

 Dimata Pangdam, Wakasad Letjen TNI Herman Asaribab adalah orang yang begitu berkesan. Pangdam mengenal dekat sosok putra Papua terbaik yang ada di Indonesia itu.

 “Secara  profesionalisme prajurit, beliau perwira yang sangat profesional. Pendekatan terhadap masyarakat sangat humanis dan sabar. Beliau baik  dan dekat dengan masyarakat, dekat dengan anggota, dekat dengan pimpinan dan dekat dengan teman sejawat,” tuturnya.

Sementara itu, Wali Kota Jayapura, Dr. Benhur Tomi Mano, MM.,  yang juga ikut melayat ke rumah duka secara pribadi keluarga dan seluruh masyarakat Kota Jayapura merasa teramat berduka atas terpanggilnya seorang putra terbaik papua.

 “Beliau (Wakasad) sangat dekat dengan saya. Almarhum kakak kelas saya sewaktu duduk di bangku SMA Negeri 1 Jayapura. Saya kelas satu beliau kelas tiga jurusan IPA,” kenangnya.

Sosok Wakasad ini di mata BTM yakni orang yang rendah hati, murah senyum dan  cerdas. Untuk itu, almarhum menurutnya sangat pantas diberikan kepercayaan oleh negara sebagai Wakasad. Ini diakuinya merupakan penghargaan yang luar biasa bagi orang Papua yang memiliki rekam jejak di dunia TNI sangat luar biasa.

 “Kami merasa kehilangan. Beliau punya inovasi dan dedikasi. Setiap kegiatan Kodam selalu menelepon saya untuk hadir. Beliau memberikan ide-ide motivasi kepada kami sehingga kami merasa kehilangan sosok Herman Asaribab,” ucapnya. 

Wali Kota BTM mengaku memiliki banyak kenangan dengan mantan Pangdam XVII/Cenderawasih. “Banyak hal yang beliau lakukan untuk bagaimana membuat Papua ini aman  dan damai. Dengan hatinya yang penuh kasih dalam menjaga Papua, sehingga tidak banyak gejolak di Papua. ini salah satu hal yang almarhum tinggalkan untuk rakyat Papua,” pungkasnya.

 Sementara itu, Kapendam XVII/Cenderawasih Letkol Arm Reza Nur Patria mengatakan jenazah Letjen TNI Herman Asaribab diterbangkan dari Jakarta menggunakan pesawat Garuda Indonesia GA-650 dan tiba di Bandara Sentani, Kabupaten Jayapura, Selasa (15/12) Pukul 11.40 WIT.

Setibanya di Bandara Sentani, jenazah disambut dengan upacara penyambutan yang dipimpin langsung Pangdam XVII/Cenderawasih Mayjen TNI Ignatius Yogo Triyono, M.A dan diikuti oleh seluruh pejabat TNI-Polri dan perwakilan instansi vertikal di wilayah Provinsi Papua.

 “Rencananya jenazah Letjen TNI Herman Asaribab akan dibawa menuju Kodam XVII/Cenderawasih untuk dilakukan upacara pelepasan dan akan dimakamkan dengan tata upacara militer di TMP Kusuma Trikora, Waena Jayapura yang dipimpin oleh Koordinator Staf Ahli Kepala Staf TNI AD, Letnan Jenderal TNI Ali Hamdan Bogra, Rabu (16/12),” jelasnya.

 Adapun upacara penyambutan jenazah di Bandara dihadiri Kapolda Papua Irjen Pol Paulus Waterpauw, Kasdam XVII/Cenderawasih Brigjen Bambang Trisnohadi, Irdam XVII/ Cenderawasih Brigjen TNI Wachid Apriliyanto, Danrem 172/PWY Brigjen TNI Izak Pangemanan M.Han, Danrem 173/PVB Brigjen TNI Iwan Setiawan, Kapoksahli Pangdam XVII/Cenderawasih, Brigjen TNI Heru Setio Paripurnawan, Danlantamal X Jayapura Laksma TNI Yeheskiel Katiandagho, Danlanud Silas Papare Marsma TNI Dr. Budi Achmadi, dan Forkopimda  Provinsi Papua serta Bupati Jayapura, Mathius Awoitau dan pejabat lainnya. 

Dari pantauan Cenderawasih Pos, sesaat sebelum pesawat yang membawa jenazah tiba, sejumlah keluarga, kerabat serta kenalan almarhum serta masyarakat sudah menunggu sejak pagi di ruang VIP Bandara Sentani. 

Komandan Korem (Danrem) 172 Praja Wira Yakthi, Brigjen TNI Izak Pangemanan yang ditemui wartawan di sela-sela penjemputan jenazah almarhum sedikit mengisahkan kebersamaannya selama bertugas sebagai prajurit TNI. 

Menurut Izak, semasa hidup almarhum merupakan sosok yang patut menjadi panutan bagi seluruh anggota TNI di lingkup Kodam  XVII Cenderawasih. Dia mengisahkan kebersamaan dengan almarhum sejak 2006-2020 sudah terhitung 14 tahun. 

“Perjalanan yang jauh itu selama kami bersama-sama. Saya melihat beliau sosoknya sangat lengkap. Sebagai seorang pemimpin, seorang kakak, seorang teman dan sebagai guru. Beliau punya semua itu,” ujarnya.

Dia menyebut, sebelum meninggal dunia, almarhum Herman Asaribab  sudah selesai menulis sebuah buku yang berjudul “Membangun Papua Dengan Hati”. Menurutnya, kecintaan almarhum semasa hidupnya untuk Papua sudah dituangkan dalam bentuk tulisan buku.  Itu merupakan sebuah pemikiran terobosan dalam penanganan masalah Papua yang tidak kunjung selesai sampai hari ini. 

“Beliau ini banyak memberikan hal-hal yang menjadi contoh bagi kami. Bagaimana kami menjadi pemimpin di daerah ini. Beliau selalu mengatakan bahwa kita harus selalu berpikir bahwa penanganan Papua harus tuntas. Bukan hanya sepotong-sepotong. Itulah beliau menulis buku membangun Papua dengan hati,” tambahnya.(fia/roy/nat)