Beberapa rumah warga di Kampung Yoboy, Distrik Sentani yang berada di pesisir Danau Sentani terendam air, Senin (18/3). Banjir di Kampung Yoboy disebabkan naiknya permukaan air Danau Sentani pasca banjir bandang. Robert Mboik/Cepos

Daerah Pesisir Danau Sentani Mulai Terendam Banjir

JAYAPURA-Banjir bandang yang terjadi di Kabupaten Jayapura, Sabtu (16/3) lalu disebabkan oleh beberapa faktor. 

Menurut Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Provinsi Papua, Edward Sembiring, S.Hut., M.Si., selain faktor cuaca dalam hal ini curah hujan yang cukup tinggi pada tanggal 16 Maret 2019 sejak pukul 19.00 hingga pukul 23.30 WIT., makin meluasnya area terbuka atau open area  di daerah Cagar Alam (CA) Pegunungan Cycloop juga turut berpengaruh. 

CA Pegunungan Cycloop menurut Edward memiliki luas 31.479,89 hektar. Dari luasan tersebut, hingga saat ini tercatat 2.612 hektar luasan area terbuka atau sekitar 8,2 persen dari luasan CA Pegunungan Cycloop. 

“Area terbuka di wilayah Kabupaten Jayapura luasnya mencapai 1.624,77 hektar atau 5,1 persen dan Kota Jayapura seluas 987,23 hektar atau 3,1 persen,” ungkap Edward saat ditemui Cenderawasih Pos di ruang kerjanya, Senin (18/3). 

Penyebab open area di CA Pegunungan Cycloop menurut Edward antara lain adanya aktivitas pertanian tradisional, pemukiman dan area yang tidak berhutan. 

  Edward menyebutkan, seminggu sebelum terjadi banjir bandang, tim resort Sentani BBKSDA Papua telah melakukan pengecekan di lokasi dua hulu sungai yaitu di Sereh dan Kemiri. Pengecekan ini dilakukan karena adanya laporan longsor yang terjadi di hulu yang diindikasikan dengan keruhnya air sungai. 

“Di lokasi ditemukan beberapa titik longsor yang mengakibatkan air sungai keruh. Titik longsor terdapat pada E 140 31’2,541″ – S 2 31’45,758 (lokasi Sereh) dan E 140 29’317″ – S 2 30’55, 519 (Kemiri). Adapun open area di lokasi longsor mencapai 6,7 hektar,” jelasnya.

Dikatakan, hasil survey yang dilakukan tim patroli BBKSDA pada tangal 8 hingga 13 Maret lalu,  menunjukkan bahwa besar kemungkinan material longsoran menutup aliran sungai Kemiri dan menjadi tanggul hulu.

“Tanggul alam dari material longsor ini kemungkinan besar runtuh dengan membawa valome air yang cukup besar dalam waktu singkat. Apalagi data Badan Meteorologi Kimatologi dan Geofisika (BMKG) wilayah V Jayapura yang menyebutkan bahwa curah hujan yang mengguyur wilayah Kabupaten Jayapura dan sekitanya tersebut mencapai 114 mm/hari,” ujarnya. 

Secara geologis wilayah Sentani menurutnya di lintasi patahan, sehingga patut diduga karena pergerakan patahan yang disebabkan terjadinya gempa sebanyak tiga kali yaitu 3,3 SR (15 Maret)  dan 5,4 SR (16 Maret) dan 4,1 SR (11 Februari)  dan dipicu adanya curah hujan tinggi menyebabkan kejadian longsor.  

“Dalam situsai tersebut, menyebabkan beberapa sungai menjadi meluap seperti sungai Sere, Tahara dan Kemiri yang berhulu di CA Pegunungan Cycloop,” tambahnya. 

Banyaknya pemukiman di sepanjang sungai Kemiri yang merupakan sungai utama penyebab banjir serta jenis tanah (Acrisol) yang memiliki tingkat saturasi yang cukup rendah menurut Edward menjadi penyebab terjadinya aliran permukaan yang tinggi. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya pohon yang tercabut dari akarnya.

Edward juga menyebutkan bahwa di sekitar lokasi kejadian banjir bandang tidak ditemukan adanya pembalakan liar. Hal tersebut dapat dipastikan karena material kayu yang hanyut terbawa banjir tidak ditemukan pohon bekas tebangan namun pohon yang tercabut dengan akarnya. 

Edward menambahkan, CA Cycloop adalah kawasan suaka alam yang memiliki ciri khas tertentu dan mempunyai fungsi pokok sebagai kawasan pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa, serta ekosistemnya yang juga berfungsi sebagai wilayah sistem penyangga kehidupan.

BBKSDA Papua menurutnya akan melakukan rehabilitasi areal terbuka tersebut  secara bertahap dan melakukan pengamanan bersama masyarakat dan stakeholder terkait agar tidak ada penambahan luas areal terbuka.

“Role model pengelola CA Pegunungan Cycloop berbasis kearifan lokal  diharapkan bisa menciptakan harmonisasi alam dan budaya terjaga dengan baik. Kami juga mengajak masyarakat bersama para pemangku kepentingan untuk ikut berperan aktif menjaga dan melestarikan CA Pegunungan Cycloop untuk kesejahteraan masyarakat,” tutupnya.

Secara terpisah, Bupati Jayapura, Mathius Awoitauw, SE., M.Si., menyebtukan, banjir bandang yang terjadi saat ini merupakan dampak dari perambahan hutan secara liar yang dilakukan oleh masyarakat di sekitar kawasan CA Pegunungan Cycloop.

“Ini akibat dari perambahan hutan secara liar yang dilakukan oknum masyarakat di sekitar kawasan Cycloop,’ ungkap Bupati Mathius Awoitauw kepada wartawan di kantor Bupati Jayapura, di Gunung Merah, Sentani, Senin (18/3).

Dia mengatakan, kawasan hutan Cycloop merupakan salah satu kawasan cagar alam yang sudah ditetapkan oleh pemerintah pusat. Sehingga sudah sangat jelas perambahan hutan untuk dijadikan kawasan pemukiman atau pun untuk perkebunan tidak dibenarkan.
“Tapi yang terjadi saat ini, banyak perumahan yang dibangun di sekitar kawasan cagar alam,” sesalnya.

Dikatakan, hingga saat ini pemerintah daerah bersama seluruh instansi terkait terus berkonsentrasi untuk melakukan evakuasi dan pencarian  terhadap korban yang hingga saat ini  belum ditemukan.
Selain itu  pemerintah terus mengupayakan  pemenuhan kebutuhan bagi para pengungsi   terutama bahan makanan dan beberapa kebutuhan utama lainnya.
“Kita tetap konsentrasi untuk melakukan proses evakuasi dan penanganan secara bersama terhadap para korban yang sedang di posko penampungan,” ungkapnya.
Dia juga mengimbau seluruh masyarakat yang ada di Kabupaten Jayapura untuk tetap waspada terhadap kemungkinan terjadinya banjir bandang susulan. Mengingat BMKG  telah merilis prediksi bahwa ke depan curah hujan tinggi akan terus terjadi di sekitar wilayah kabupaten Jayapura.

Sementara itu, dampak banjir bandang mulai dirasakan warga yang tinggal di pesisir Danau Sentani.Seperti di Kampung Yoboy, Distrik Sentani dimana  ratusan warga minta segera dipindahkan atau direlokasi dari tempat tinggal mereka. Pasalnya hingga kemarin seluruh kawasan pemukiman di kampung tersebut sudah tergenang air yang cukup tinggi.

“Mereka sudah kesulitan tempat tinggal, makanan dan juga pasokan air bersih sulit.  Ini harus segera direlokasi,” kata Kepala Kampung Adat Yoboi,  Zefanya  Wally kepada wartawan di kampung Yoboi, Senin (18/3), kemarin.

Zefanya Wally mengatakan, saat ini masyarakat  mulai khawatir dengan kondisi yang terjadi di kampung, dimana mereka tidak bisa melakukan aktivitasnya seperti biasa. Bahkan  murid SD juga sudah tidak bisa melaksanakan kegiatan belajar mengajar karena sekolah mereka sudah tergenang air yang cukup tinggi.

“Kami berpatokan dengan kondisi gereja, sekarang air sudah tinggi sekitar 2,5 m dan itu sudah merendam gereja,” ungkapnya.

Dirinya berharap masyarakat dapat segera dievakuasi terutama anak sekolah dan ibu-ibu. “Di kampung tersebut saat ini terdapat 123 kepala keluarga dengan total jumlah jiwa sebanyak 347 jiwa yang mendiami 62 rumah,” tambahnya.

Secara terpisah kepala Distrik Sentani, Budi Yoku mengatakan proses evakuasi akan mengutamakan kaum ibu dan anak-anak yang saat ini berjumlah sekira 300-an jiwa.  Pemerintah daerah menurutnya  sudah menurunkan bantuan makanan bagi ratusan warga yang ada di kampung Yoboi.

“Sampai saat ini baru bahan makanan yang sudah diturunkan oleh pemerintah dan kami akan berusaha untuk segera melakukan relokasi bagi masyarakat yang ada di kampung ini,” tambahnya. (kim/roy/nat)