Irjen Pol Paulus Waterpauw  (Foto :Elfira/Cepos)

JAYAPURA-Tim gabungan TNI-Polri berhasil menggagalkan penjualan dua senjata api di Nabire pada Kamis (22/10) dari seorang oknum anggota Brimob Bripka JH. Pelaku telah ditangkap dan dibawa ke Jayapura, Jumat (23/10).
Kapolda Papua Irjen Pol Paulus Waterpauw mengatakan, tim gabungan TNI-Polri menangkap Bripka JH bersama salah seorang warga yang berperan sebagai kurir di Nabire. Dimana seorang warga yang membantu JH telah ditangkap Polisi di Sulawesi Barat.
Dikatakan, saat penangkapan, tim menemukan barang bukti berupa dua pucuk senjata jenis M4 dan M16. Dimana senjata jenis M16 bukan milik Polri. Bripka JH diduga membawa dua pucuk senjata tersebut dari pulau Jawa.
“Modus yang digunakan Bripka JH adalah membawa dua senjata ini menggunakan dokumen resmi dari Mimika ke Nabire. Pelaku diduga akan menyerahkan senjata kepada pembeli di Kabupaten Nabire,” ungkap Kapolda Paulus Waterpauw, Jumat (23/10).
Lanjut Kapolda, intelijen Kepolisian telah lama menyelidiki adanya dugaan penyeludupan senjata ke Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Kabupaten Intan Jaya dan Kabupaten Puncak.
“JH telah ditahan di Markas Brimob Polda Papua. Sesuai arahan Kapolri Jenderal Idham Azis, kami menyelidiki kasus penyeludupan senjata ini hingga tuntas,” tegasnya.
Dirinya prihatin dengan adanya oknum anggota polisi yang menjual dua senjata demi mendapatkan uang. Sebab, perbuatan ini dapat mengancam keselamatan aparat keamanan yang bertugas di daerah rawan konflik.
Sementara itu, Kepala Perwakilan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) RI Perwakilan Papua Frits Ramandey mengatakan, Komnas HAM pernah mengeluarkan data terkait daerah yang rawan menjadi tempat distribusi senjata dan amunisi di wilayah Papua.
“Daerah-daerah yang rawan menjadi tempat distribusi senjata dan amunisi yakni perbatasan Jayapura-Papua Nugini, Merauke dan Sorong. Sementara Nabire menjadi daerah transit mendistribusikan senjata dan amunisi ke sejumlah kabupaten seperti Intan Jaya,” pungkasnya. (fia/nat)