Mereka Berbicara Soal Seni Serta Mimpi Dalam Pelaksanaan PON

Herman Saud, Paulus Waisimon, Nikolas Makanuay dan Hengky Patay (FOTO: Gamel Cepos)

Papua tak pernah kekurangan cerita menarik dibalik seni dan budayanya. Dari ragam bahasanya saja mencapai 200 lebih. Hanya saja harus diakui perjuangan para pekerja seni masih dipandang sebelah mata. 

Laporan : Abdel Gamel Naser 

Kalimat Papua kaya akan seni dan budaya memang tak bisa ditampik. Keetnikan dan keberagaman kebudayaan di provinsi terujung Indonesia  ini masih meyimpan banyak misteri dan rasa penasaran yang tinggi. Bagaimana tidak, untuk melihat pertunjukkan tarian  ataupun cerita rakyat kita harus menunggu adanya sebuah event yang belum tentu rutin dilakukan. Ini juga menjadi PR bagi pemerintah untuk  secara  kontinyu menyiapkan “panggung” bagi para pekerja seni. Bukan hanya sekedar ditampilkan untuk menyambut tamu yang  sehari dua hari mampir ke Papua. 

 Agenda rutin ini sendiri sejatinya sudah disiapkan, hanya terkendala pandemic covid akhirnya dalam dua tahun terakhir kemungkinan tidak akan digelar. Situasi ini membuat para pekerja seni khususnya seni tari harus memutar otak untuk mencari event yang bisa menyalurkan bakat dan kemampuan anggota sanggarnya. Upaya untuk lebih sering mempertontonkan tradisi kebudayaan ke public perlu digarap secara berkelanjutan sebab jika tidak maka generasi muda saat ini akan lupa yang namanya tari pergaulan, maupun tari lemon nipis dan lainnya. 

 Kepala Taman Budaya Provinsi Papua, Herman  Saud S.Pd., M.Sc mengingatkan agar generasi muda tidak terlalu jauh terpapar oleh mudahnya mendapatkan informasi dan hiburan dari sebuah gadget atau ponsel pintar. “Kalau tidak dijaga maka budaya luar akan lebih mudah masuk. Faktor Hp yang penuh hal – hal baru ini bisa menyita rasa kepedulian terhadap budaya sendiri dan itu bahaya,” kata Herman. Nah satu event yang bisa dipakai “berjualan” adalah Pekan Olahraga Nasional (PON). Hanya disini agenda perhelatan PON sempat  terusik dengan munculnya nama artis Rafi Ahmad dan Nagita Slafina yang ditunjuk sebagai ikon  PON Papua.

 Secara ketenaran jelas kedua nama ini sudah malang melintang dijagad hiburan namun beberapa pekerja seni khususnya seni tari mengaku keberatan. Pasalnya mereka menganggap masih ada sosok lain yang juga dari Papua yang bisa mengisi status tersebut. “Kami ingin menjadi tuan di negeri sendiri dan menunjukkan jika kami kaya akan seni budaya dan dipertontonkan agar menjadi satu nilai edukasi,” kata Ketua Sanggar Reimue, Nikolas Makanuay SE, MM saat ditemui di Taman Budaya, Expo Waena, Jumat (11/6). 

 Dengan tujuh wilayah budaya ia memastikan ada banyak seni yang bisa dimainkan termasuk sosok yang menggantikan ikon Rafi Ahmad. “Adat selama ini banyak yang sudah tidak mengenal sehingga dalam opening seremoni saya nyatakan bahwa itu ranah kami sebagai seniman dan para penggiat harus diberi kesempatan,” tambahnya. Nikolas menyatakan bahwa untuk tarian ia sendiri siap soal tarian penjemputan. Bahkan jika ingin yang lebih ekstrim bisa dipertontonkan tarian yang berbau kesakralan. 

 “Jadi untuk PON, Kami hanya dikonfirmasi untuk mengisi acara, bukan dalam untuk opening seremoni padahal itu panggung yang sangat bagus buat kami,” imbuh pengelona sangar Reimue Kampung Kayu Batu ini. Akan tetapi hingga kini kata Nikolas,  dari sanggarnya berdiri pada tahun 1992 hingga kini belum ada satupun pihak yang membantu peralatan maupun asesoris,” tambahnya. 

 Nikolas berharap peralatan yang dimaksud bisa dipersiapkan diawal sehingga  agar langsung focus untuk tampil. “Tidak bisa asal jadi tapi benar – benar baik untuk dilihat. Lalu hingga kini kalau mau dibilang peralatan  seperti fita tifa, manik – manik, rumbai – rumbai itu yang paling kami butuhkan,” tambahnya. Selama ini untuk kebutuhan  asesoris dikatakan pihaknya sering menyisihkan uang dari bayaran saat tampil,” elengkapi kostum atau busana yang kurang – kurang. yang berdiri sejak 1992. 

 Lainnya disampaikan Paulus Waisimon yang mengaku hingga kini belum pernah mendapat sentuha dari pemerinah meski ia dan timnya sangat siap untuk dilibatkan dalam PON. “Mau yang  hanya tarian menjemput pejabat atau yang sekalian yang berbau sakral kami bisa menyiapkan asal ada tempatnya,” jelas Ketua Sanggar Kikimane dari Kampung Nembugresi Distrik Kemtukgresi, Kabupaten Jayapura. Ia menyebut saat ini untuk bisa tetap eksis diakui tak mudah mengingat tidak semua event menggundang timnya. “Kadang kami  dibayar  Rp 2 hingga Rp 5 juta dan ini kami bagi rata dengan tim,” beber Paulus. 

 Ditambahkan Sekretaris Sanggar Tari Hehera, Hengky Patay bahwa ada mimpi untuk bisa tampil bergabung dengan  tim tari lainnya untuk tampil dalam opening seremoni. “Kami maupun tim sanggar lainnya sangat siap, tinggal permintaannya seperti apa. Selama ini kami lebih banyak melayani even local tapi untuk PON kami pikir itu kebangaan kami jika dilibatkan,” tutupnya (*/wen)