JAYAPURA –  Sebanyak 223 pasien positif covid yang saat ini bergabung ditempat karantina di Hotel Sahid Entrop dilaporkan mengkonsumsi makanan yang tidak sesuai standart gizi. Para pasien ini sering disajikan makanan yang biasa biasa saja bahkan pernah mendapatkan sayur yang kualitasnya sudah tidak bagus termasuk lauk ikan yang membuat tubuh gatal – gatal. Padahal untuk memulihkan kondisi kesehatan mereka ditekankan untuk mengkonsumsi makanan bergizi agar menumbuhkan imun tubuh. 

 Hal ini sebagaimana disampaikan Ketua Komisi V DPR Papua, Timiles Yikwa yang ikut mengutarakan hal tersebut dalam rapat panja bersama mitra di Horison Kotaraja, Rabu (10/6). Rapat hari pertama tersebut menghadirkan Dinas Kesehatan Provinsi Papua. Kata Timiles ia mendapat laporan dari warga bahwa menu makanan yang disantap oleh para pasien tidak memenuhi standart gizi. Lauk dan sayur yang dihidangkan hanya begitu – begitu saja dan tidak lengkap. Bahkan buah maupun bubur kacang hijau disebutkan sangat jarang diberikan. 

 “Saya mendapat laporan seperti itu, ada yang menginformasikan kepada saya bahwa banyak pasien yang  mengeluh dengan menu makanan  harian mereka dan kalau saya melihat menunya memang jauh dari kata bergizi,” kata Timiles. Bahkan terkadang nasi yang diberikan  kepada pasien juga tidak  masak merata sehingga dirasa keras dan ini tidak cocok bagi mereka yang mengalami gangguan lambung. “Ada usulan untuk melibatkan ahli gizi sehingga apapun yang dimakan oleh pasien harus memenuhi standart gizi untuk menumbuhkan imun. Kami berharap susu maupun multivitamin juga tetap diberikan, jangan justru tidak diberikan,” bebernya. 

 Kalaupun dirasa sulit untuk memenuhi ini, paling tidak tim gugus covid bisa menyampaikan agar pasien boleh membawa bekal dari rumah masing – masing dengan menu yang ditentukan oleh tim ahli gizi. “Saya pikir ini bisa jadi solusi, tidak perlu malu karena ini musibah jadi tidak terlalu membebani tim  gugus tugas juga karena pasien membawa bekal dari rumah sesuai rekomendasi ahli gizi. Saya pikir ini bisa dipakai untuk jalan keluar,” saran Timiles. Namun Timiles juga meminta agar pihak hotel tidak lagi menyajikan makanan menggunakan stereofoam karena berbahaya bagi kesehatan. 

 “Harus pahami baik – baik, pasien ini ingin sembuh dan jangan kita mengambil langkah dengan memberikan sesuatu yang sebenarnya berbahaya dan mengancam kesehatan. Jangan lagi pakai stereofoam,” tegasnya. 

 Sementara terkait ini Sekretaris Tim Gugus Tugas Covid 19 Provinsi Papua, dr Aaron Rumainum tak membantah hal tersebut. Ia menyampaikan bahwa hal tersebut bisa terjadi karena minimnya anggaran yang tersedia. Aaron bahkan menduga jika anggaran yang dikelola oleh tim gugus tugas covid 19 Kota Jayapura sudah menipis. 

 Ia berharap kondisi ini tak berlarut – larut dan berharap ada dukungan anggarand ari provinsi untuk tim covid Kota Jayapura. “Saya pikir itu informasi yang tidak salah, dan memang situasinya sedang tidak bagus. Saya menduga tim covid kota mulai kehabisan anggaran dan ini perlu didukung oleh pemerintah provinsi,” kata Aaron disela-sela kegiatan.

 Bahkan Aaron menyebut bahwa untuk 1 pasien covid dalam penanganannya setiap hari paling tidak membutuhkan dana Rp 2 juta untuk tiap pasien. Ini tak lepas dari apa yang dibutuhkan pasien dan yang diperlukan tim medis terkait APD. “Bukan sesuatu yang murah memang karena untuk 1 pasien saja  dalam sehari paling tidak membutuhkan anggaran Rp 2 juta sehingga dukungan anggaran sangat penting untuk memastikan semua berjalan sesuai rencana,” imbuhnya. (ade/wen)