MERAUKE – Empat orang warga di Merauke meregang nyawa  usai mengonsumsi minuman keras oplosan, spritus dan air aki. Keempat orang tersebut adalah Yohanes, Edi, Frederikus dan Linus.

Mirisnya, dua diantaranya berstatus ASN yakni Frederikus yang merupakan salah seorang guru di salah satu sekolah dasar (SD) di Distrik Kimaam dan Linus ASN di salah satu OPD di lingkungan Pemkab Merauke. Sementara dua korban lainnya, bekerja sebagai TKBM Pelabuhan Merauke.

Soter Awi

Soter Awi, mantan anggota DPRD Kabupaten Merauke periode 2009-2014 yang merupakan paman  dari  2 orang korban meninggal saat ditemui di kediamannya di Mangga  Dua, Kelurahan Kelapa Lima Merauke menjelaskan bahwa keempat korban meninggal tidak sekaligus.
Korban pertama Yohanes meninggal dunia, Senin (16/11) sekira pukul 18.00 WIT di rumahnya di Mangga Dua. Selanjutnya, Edi menghembuskan nafas terakhir di RSUD Merauke, Selasa (17/11) sekira pukul 09.00 WIT. Sedangkan Frederikus meninggal dunia pada hari yang sama pukul 17.00 WIT. “Korban Linus juga meninggal dunia Selasa malam  sekira pukul 24.00 WIT di RSUD Merauke,” jelasnya.

Soter mengungkapkan bahwa keempat orang tersebut diperkirakan mengonsumsi minum minuman keras di Hutan Matandi, Gudang Arang Kelurahan Kamahedoga Merauke sejak Jumat (13/11).  “Hari pertama saya telepon anak perempuan dari Frederikus dan sampaikan bapak lagi mabuk,” katanya.

“Begitu juga hari kedua saya telepon lagi anaknya dan sampaikan bapak lagi mabuk. Hari ketiga juga saya telepon jawaban anaknya jika bapak lagi mabuk dan hari keempat  Senin pagi saya telepon lagi anaknya, kembali sampaikan kalau bapaknya masih mabuk,” sambungnya.
Soter menyebutkan Senin (16/11) lalu keempat korban keluar dari hutan usai mengonsumsi Miras oplosan. Keempat korban awalnya mengonsumsi Miras Sopi. Setelah Sopi habis, mereka membeli spritus dan setelah spritus habis, mereka membeli air aki. Soter mengaku tidak mengetahui siapa yang menjadi bandar.

Para korban diakuinya tidak mengalami gejala yang bersamaan. Menurut Soter, salah satu dari korban masih sempat melayat ke rumah duka korban Yohanes yang meninggal pertama. “Di situ dia masih suntuk semalam menunggu temannya yang meninggal,” jelasnya.

Namun setelah pulang dari rumah duka, korban mulai merasakan tidak enak badan  kemudian dibawa ke RSUD Merauke. Sampai di rumah sakit, dokter meminta untuk balik dan sampaikan jika terjadi apa-apa untuk segera dibawa balik ke rumah sakit.

“Setelah pulang rumah beberapa saat kemudian yang bersangkutan kesehatannya semakin menurun dan dibawa kembali ke rumah sakit dan meninggal Selasa sore sekira pukul 17.00 WIT kemarin,” tuturnya.

Soal minuman keras ini, Soter mengatakan Polres Merauke selama ini sudah berupaya memberantas minuman keras ilegal tersebut. Namun kembali kepada masyarakat yang tidak memiliki kesadaran untuk berhenti mengonsumsi Miras utamanya Miras oplosan. Sebab peristiwa ini bukan pertama kali terjadi. Bahkan  sudah ketiga kalinya bagi warga Mangga Dua tersebut. “Lima tahun lalu juga merenggut beberapa warga dan beberapa tahun kemudian peristiwa seperti ini terulang lagi. Bahkan hampir setiap saat kita menyaksikan saudara-saudara kita yang meninggal akibat miras, tapi tidak membuat masyarakat sadar untuk berhenti minum minuman keras oplosan apalagi dengan spritus dan soda api ini, ” jelasnya.

Diakuinya saat ini tidak ada aturan yang melarang masyarakat untuk tidak minum minuman keras, tapi pihaknya menyarankan Polisi Adat yang harus berperan soal minuman keras ini untuk mengontrol masyarakat. “Kalau ada yang susah minum minuman keras apalagi dengan spritus, ” tutupnya.

Secara terpisah, Kapolres Merauke AKBP Ir. Untung Sangaji, M.Hum melalui Kasubag Humas AKP Ariffin, S.Sos, dikonfirmasi membenarkan  meninggalnya 4 orang usai mengonsumsi Miras oplosan berupa sopi yang diduga dicampur dengan spritus dan air aki.   “Benar bahwa ada empat warga Mangga Dua yang meninggal dunia akibat mengonsumsi  Miras oplosan sopi  yang diduga dicampur dengan spritus dan air aki,” katanya.

Informasi  ini diperoleh dari salah seorang saksi  yang sempat mengantar salah satu dari korban  meninggal di Wendu Hutan. Saksi sempat melihat korban membeli  cairan menyerupai  air aki. “Kita juga masih  mengumpulkan keterangan kapan acara  minum-minuman keras itu mereka mulai,” tuturnya.

Dari keempat korban Miras oplosan ini, Ariffin satu di antaranta sudah dimakamnya, Selasa (17/11) kemarin. “Kemungkinan  hari ini (kemarin) ada yang dimakamkan,” tambahnya. (ulo/nat)