Para santri Pesantren Al-Istiqomah Walesi saat belajar mengaji dan ilmu agama di Masjid  Kampung Walessi, Senin (3/6).( FOTO : Denny/Cepos)

Melihat Aktifitas Umat Muslim di Kampung Walesi selama Bulan Ramadan

Seperti halnya umat muslim di daerah lain, pada bulan Ramadan ini umat muslim di Kampung Walesi Distrik Walesi Kabupaten Jayawijaya juga menjalankan ibadah puasa. Lantas apa saja kegiatan yang mereka lakukan di sela ibadah puasa? 

Laporan: Denny Tonjauw_Wamena

Dengan mengendarai sepeda motor, Cenderawasih Pos, Senin (3/6) kemarin mengunjungi Kampung Walesi yang berjarak sekira 3,5 km dari Kota Wamena. Suasana Ramadan sangat terasa saat melihat aktifitas para santri, melakukan berbagai kegiatan untuk mengisi ibadah puasa mereka. 

 Umat muslim yang ada di wilayah Distrik Walesi memang tak sebanyak di Kota Wamena. Namun yang menarik, dari sekitar 400 kepala keluarga yang dikenal dengan kampung Muslim asli Papua ini,  juga ada yang beragama Kristen dan Katolik. Meski berbeda keyakinan, namun rasa persaudaraan dan toleransi hidup beragama tetap terjalin dengan baik. 

   Seperti halnya memasuki bulan Ramadan tahun ini,  warga yang beragama muslim bisa menjalankan ibadah puasa dengan tenang. Bahkan mereka bisa lebih fokus untuk belajar agama lebih dalam dengan dipandu oleh para pengajar atau ustadz di masjid yang ada di Welesi. Dimana anak- anak santri dari pesantren Al Istiqomah Welesi banyak diajarkan  tentang ilmu agama sembari menunggu waktu berbuka puasa.

  Tenaga Pengajar Alquran, Ahmad Zubaidi Hamid menyatakan khusus untuk puasa ini, anak -anak santri lebih sering diajarkan ilmu agama seperti mengaji, tilawah dan berolah raga. Hal ini dilakukan agar mereka tidak terlalu merasakan lapar dan haus karena berbagai aktifitas yang dilakukan oleh para santri tentunya ini sangat membantu mereka dalam mengetahui ilmu agama dan terus mendalaminya.

   “Kita coba mengisi puasa ini dengan lebih mendalami ilmu agama dan beberapa aktifitas lainnya agar anak -anak santri ini bisa belajar lebih banyak pemahaman keagamaan,” ungkapnya Senin (3/6) kemarin.

  Selain itu, selama ini juga banyak donatur yang datang ke Masjid Welesi untuk melakukan buka bersama dengan warga di Walesi. Apabila tak ada donatur yang datang maka ada juru masak yang selalu menyediakakan menu berbuka. Sementara untuk menu sahur para santri dibuat jadwal masak sehingga mereka harus bangun pukul 01.00 WIT  untuk masak serta menunggu imsak.

    Tercatat ada 74 santri pesantren Al Istiqomah Welesi, namun hanya 55 santri yang ada, karena sebagian pulang ke kampung. Dimana mereka belajar di beberapa jenjang pendidikan mulai dari Madin setingkat TK, Madrasah Ibtidaiyah atau setara SD, dan MTs atau setara SMP. 

   “Kemarin sudah ada yang membantu para santri dengan pakaian dari kepala Bandara Wamena, dimana sudah mengambil data, juga ada donatur dari Bali yang sudah meminta ukuran pakaian dari anak -anak santri,” bebernya.

  Ada juga bantuan dari yayasan di Luar Papua, hanya saja, kata ustad Zubaidi, bantuan di hari lebaran ini dialihkan ke perlengkapan sekolah dari para santri, sehingga masuk tahun ajaran baru perlengkapan mereka sudah terpenuhi semuanya dan bisa melanjutkan sekolahnya kembali. 

   Sementara salah satu siswa Santri Legina Asso, berharap agar pemerintah Jayawijaya juga bisa melihat mereka dalam perayaan lebaran dengan apa yang dibutuhkan, karena selama ini pemda tidak melihat itu, padahal mereka juga bagian dari masyarakat Jayawijaya.

  “Kami harapkan bapa bupati bisa lihat kami di Welesi , kami juga bagian dari Warga Jayawijaya yang ada di Wamena ,” ujarnya tersipu. (*/tri)