Beranda OLAHRAGA PON PAPUA Menjadi Pertaruhan Harga Diri, Tapi Tak Kunjung Tri Out

Menjadi Pertaruhan Harga Diri, Tapi Tak Kunjung Tri Out

0
Menjadi Pertaruhan Harga Diri, Tapi Tak Kunjung Tri Out
Pemain sepakbola Papua saat tampil dalam laga uji coba kontra Jawa Timur di Stadion Lukas Enembe pada tahun 20219 silam. ( FOTO: Erik / Cepos)

Menakar Target Medali Emas Sepakbola Papua di PON 2021 Papua

Pelatih kepala Sepakbola Papua, Eduard Ivakdalam dan  Gerald Pangkali saat berfose bersama pelatih sepakbola Jawa Timur Rudy Keltjes di Stadion Lukas Enembe pada tahun 2019 silam. (Erik / Cepos)

Seperti Apa Persiapan dan Peluang Sepak Bola PON Papua di ‘Rumah Sendiri’ yang menjadi perhelatan PON XX Papua?

Laporan: Erianto-Jayapura

Sejak mengambil bagian dalam pelaksanaan Pekan Olahraga Nasional (PON), cabang olahraga sepakbola Papua telah mengemas 2 keping medali emas. Sejatinya, Papua baru pertama kali terlibat dalam pesta olahraga empat tahunan itu saat PON VII Jawa Timur 1969 silam. Papua kala itu masih bernama Irian Jaya.

Cabor sepakbola Papua dengan keterbatasan mulai menjadi perhitungan saat menembus babak final PON IX 1977, sayangnya, sepakbola Papua hanya mampu menjadi runner up atau meraih medali perak usai menelan kekalahan dari tim sepakbola Sumatera Utara. Barulah di PON XIII tahun 1993 di Jakarta, sepakbola Papua kembali ke partai final dan meraih medali emas untuk pertama kalinya.

Kala itu, sepakbola Papua diperkuat oleh nama-nama beken seperti Ferdiando Fairyo, Cristian Leo Yarangga dan David Saidui. Mereka pun kemudian menjadi juga menjadi pangeran Persipura Jayapura.

Berselang 3 episode PON berikutnya, tepatnya pada PON XVI 2004 yang diselenggarakan di Sumatera Selatan, sepakbola Papua akhirnya kembali menapaki babak final dan meraih gelar juara kembar bersama sepakbola Jawa Timur. Sama halnya PON XIII, PON XVI juga melahirkan talenta hebat Bumi Cenderawasih.

Beberapa jebolan sepakbola Papua saat itu berhasil bersinar dan menghiasi kasta sepakbola tanah air. Sebut saja generasi Boaz Solossa, Ricardo Salampessy, Gerald Pangkali, Christian Worobay, Korinus Fingkreuw dan Imanuel Padwa dan deretan pemain bintang lainnya.

Beranjak dari situ, sepakbola Papua kembali puasa gelar juara (medali emas) dalam tiga kali pelaksanaan PON. Namun kini Papua memiliki kans besar untuk bisa kembali meraih medali emas. Pasalnya, PON XX 2021 akan diselenggarakan di rumah sendiri, tentu sepakbola Papua menjadi kandidat yang paling dijagokan meraih medali emas.

Keberadaan Eduard Ivakdalam sebagai pelatih kepala dengan dibantu asistennya Gerald Pangkali menjadi nilai plus sepakbola Papua kali ini. Sebab, kedua lengenda hidup Persipura itu memiliki segudang pengalaman, termasuk Gerald yang pernah mrncicipi medali emas untuk sepakbola Papua. Apalagi durasi persiapan, sepakbola Papua lebih banyak dari kontestan lainnya.

Di masa pandemi Covid 19, hampir seluruh kontingen meliburkan atletnya. Berbeda dengan KONI Papua yang tetap meminta atletnya tetap melakukan persiapan dengan memperketat protokol kesehatan.

Kelemahan sepakbola Papua saat ini hanya minim uji coba dengan tim-tim yang levelnya sepadan bahkan yang berada di atas mereka. Selama menjalani pemusatan latihan di Kota Jayapura, asuha Eduard Ivakdalam hanya melakukan uji coba sesama tim lokal di Papua.

Tim yang terbilang sepadan mungkin saat benamkan tim sepakbola Jawa Timur dalam dua leg sekaligus (5-0) saat persemian Stadion Lukas Enembe pada tahun 2019 silam. Pada leg pertama, Ricky Cawor dan kawan-kawan sukses menang 1-0, kemudian leg kedua 4-0.

Bahkan untuk menutupi kurangnya jam tanding, sepakbola Papua juga aktif mengikuti turnamen lokal di Kota Jayapura. Terakhir, sepakbola Papua keluar sebagai kampiun Waena Cup 2021. Di partai final, sepakbola Papua mengalahkan Ifan Sport FC melalui adu pinalti (4-3). Partai final tersebut mungkin menjadi satu-satunya pertandingan paling menguji kesiapan sepakbola Papua, pasalnya Ifan Sport FC diperkuat 95 persen pemain dari Persipura Jayapura saat ini.

Sepakbola Papua kini hanya menyisahkan 4 bulan lagi menuju pertandingan yang sesungguhnya. Untungnya, harapan sepakbola Papua selama ini untuk menjalani try out ke luar Papua mendapatkan lampu kuning dari KONI Papua. Sepakbola Papua dikabarkan akan bertolak ke Pulau Jawa pada awal Juni.

Eduard Ivakdalam berharap, dalam rangkain try out mereka bisa menjajal kontestan Liga 1 mau pun Liga 2 yang berbasis di daerah Jawa Timur. Menurut Edu, Jawa Timur memiliki banyak klub Liga 1 dan Liga 2 yang sedang melakukan persiapan.

“Sebagai pelatih dan pemain kita sudah siap untuk try out, kami belum melakukan uji coba dengan tim yang kualitasnya jauh di atas kami. Sehingga kami berharap banyak bisa berangkat keluar untuk melakukan try out dengan tim selevel Liga 1 dan Liga 2,” ungkap Edu kepada Cenderawsih Pos saat ditemui di Stadion Mandala Jayapura pekan lalu.

“Dengan try out kita bisa menambah jam bermain dan melihat kekurangan Kami. Kami sendiri kemarin memanfaatkan turnamen di Jayapura, kita coba berkompetisi untuk mengurangi kejenuhan setiap pemain. Di Jatim banyak klub Liga 1 dan Liga 2, di mana kalau kita diberikan kesempatan dalam waktu dekat ini kami akan ke Jatim,” ujar Edu.

Legenda hidup Persipura Jayapura dan Persidafon Dafonsoro itu menyebutkan, jika mereka diizinkan, mereka tidak akan berlama-lama di luar Papua. Menurutnya, waktu satu bulan dengan minimal 10 pertandingan dianggap cukup bagi timnya.

“Mungkin 10 game di sana sudah cukup dengan waktu yang sangat mepet, kita juga harus was-was karena kita menghindari cedera. Kita juga tidak akan lama di luar, karena pasti banyak tim-tim lawan yang akan datang mengintip persiapan kita. Sehingga waktu satu bulan saya rasa sudah cukup dengan 10 pertandingan. Setelah itu, kami akan kembali untuk menyempurnakan persiapan kami di Jayapura jelang PON XX 2021,” ucap Edu.

PON kali ini juga sedikit berbeda dengan PON sebelumnya, dimana untuk cabang olahraga sepakbola tidak menggunakan pemain profesional, murni menggunakan pemain amatir. Regulasi tersebut juga telah direstui oleh federasi PSSI sebagai induk cabang olahraga sepakbola Indonesia.

Edu juga merasa bahwa putusan tersebut sudah sangat tepat. Apalagi kata Edu, dirinya juga jauh hari sudah mengusulkan agar PON XX Papua murni menggunakan pemain amatir, jauh sebelum PSSI memutuskan regulasi tersebut.

“Awalnya kami memang tidak setuju menggunakan pemain profesional dan sudah kami laporkan ke Asprov (Papua). Pada dasarnya putusan dari PSSI yang tidak boleh menggunakan pemain profesional itu jauh lebih baik,” jelas Edu.

Bagi Edu, putusan tersebut sangat adil bagi semua kontingen. Pasalnya setiap tim yang lolos kualifikasi Pra PON telah melakukan persiapan tanpa pemain profesional, termasuk tim sepakbola PON Papua itu sendiri. Meski sempat menyiapkan nama Osvaldo Haay, Todd Rivaldo Ferre dan Yakob Sayuri sebagai persiapan kuota pemain profesional.

Selain itu, kata Edu, tanpa menggunakan pemain profesional juga akan memberikan kesempatan kepada setiap pemain untuk menunjukan kualitas mereka. Pasalnya, setiap hajatan PON kerap mengorbitkan pemain bintang lapangan hijau.

“Jika semua menggunakan pemain amatir, akan memberikan kesempatan bermain bagi mereka, karena nanti akan banyak pasang mata yang bisa melihat mereka. Kita lihat daerah lain juga tidak menyiapkan pemain profesional,” ujar Edu.

Sementara itu, generasi emas PON XVI 2004, Boaz Solossa berharap tim sepakbola PON Papua yang kini ditukangi oleh mantan rekannya Eduad Ivakdalam dan Gerald Pangkali itu bisa menorehkan prestasi gemilang di rumah sendiri.

“Dan saya beberapa kali mengikuti latihan mereka, dan saya lihat peluang mereka untuk berbicara di PON cukup besar,” ungkap Boaz.

Apalagi menurut Boaz, keberadaan Eduard Ivakdalam dan Gerald akan membuat tim sepakbola PON Papua kian solid. 

“Untuk segi permainan dan teknik, saya yakin dan percaya dengan kaka Edu dengan teman-teman di staf pelatih akan membantu kaka Edu dan tim sepakbola untuk menjadi tim yang baik. Semasa jadi pemain, kaka Edu merupakan pemain yang sangat bagus dan menjadi pelatih ke-2 di lapangan, saya yakin kaka Edu bisa sukses di PON,”  jelas Boaz.

Boaz hanya menyangkan, Cabor sepakbola yang ditarget medali emas tapi tak kunjung melakukan try out ke luar Papua. Ia pun berharap, KONI maupun Puslatprov agar bisa memberikan lampu hijau segera bagi sepakbola Papua untuk menjalani rangkaian ujicoba. Selain itu, Boaz juga menantang para pemain-pemain yang berada dalam tim untuk bisa mewujudkan target yang telah diembankan.

“Pesan saya kalau bisa emas, di luar saja kita bisa dapat medali emas, masa di rumah tidak bisa. Sukses selalu buat adik-adik di PON, karena apapun yang terjadi kami semua pemain yang masih aktif mendukung penuh untuk berbicara yang terbaik untuk Papua,” pungkasnya.

Cabang olahraga sepakbola memang merupakan salah satu cabang olahraga paling bergengsi dalam pelaksanaan PON. Bahkan banyak yang menilai bahwa meraih medali emas pada Cabor sepakbola serasa telah merengkuh juara umum dalam pesta olahraga nasional empat tahunan tersebut.

Tak heran, bila setiap pelaksanaan PON, pertandingan pada Cabor sepakbola kerap menghadirkan tensi pertandingan yang cukup tinggi. Sehingga perseteruan pemain dalam lapangan pun kerap menjadi bumbu dari sebuah pertandingan sepakbola.

Sehingga Cabor sepakbola Papua dapat dikatakan sebagai Cabor yang paling mengamban tanggungjawab paling besar dari 37 cabang olahraga yang akan dipertandingkan. Tentu target berat kini berada di pundak punggewa sepakbola Papua.

Kapten sepakbola PON Papua, Ricky Cawor mengaku bahwa dirinya bersama rekan setimnya akan berusaha untuk memberikan yang terbaik bagi masyarakat Papua. Bahkan kata Ricky, mereka akan berupaya untuk mewujudkan target yang diembankan oleh KONI Papua untuk meraih medali emas.

“Pertama, saya senang bisa masuk skuat PON Papua dan ada rasa dapat tantangan baru yaitu membawa nama besar Papua di kanca nasional. Persiapan sejauh ini sudah sangat siap untuk menghadapi PON, target meraih medali emas,” tegas Ricky.

Juru taktik Persipura Jayapura, Jacksen F. Tiago juga optimis, sepakbola PON Papua bisa berbicara banyak kali. Pelatih asal Brasil itu juga yakin, tim asuhan Eduard Ivakdalam akan menjadi cikal bakal pemain Persipura kelak. Bahkan, dengan terang-terangan, Jacksen mengaku akan membuka pintu selebar-lebarnya bagi pemain yang dianggap mentereng.

“Jangan lupa juga kita juga punya tim PON Papua, kita punya beberapa putra terbaik kita di sana. Siapa tahu paska PON usai ada beberapa anak dari sana yang bisa bergabung dengan kita dan menjadi muka baru di Liga 1 Indonesia,” pungkas Jacksen. (eri/gin). 

error: Content is protected !!