JAYAPURA- Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Provinsi Papua, Dr. Petrus Bactiar, S.T, M.T mengatakan bahwa untuk memasuki new normal, maka penting sekali dilakukan pengawasan terhadap angkutan transportasi umum dalam mengangkut penumpang di setiap Kabupaten/Kota yang ada di Papua.

 Menurut Bactiar, sebelum new normal saat ini saja tidak ada pengawasan yang dilakukan maupun pemberian jarak terhadap setiap penumpang yang mengikuti angkutan umum. Hal ini bisa disebabkan karena kurangnya sumber daya yang mengawasi ataupun kurangnya kesadaran dari masyarakat.

“Kita lihat dalam angkutan transportasi umum di darat sejauh ini tidak ada pengawasan yang dilakukan oleh petugas dan juga kurangnya kesadaran masyarakat untuk mematuhi protokol kesehatan. Hal ini tentu harus menjadi perhatian sebelum nanti benar-benar penerapkan new normal di Papua,” katanya saat dikonfirmasi Cenderawasih Pos melalui telepon selulernya, Senin (6/7) kemarin.

 Bactiar membeberkan, untuk memasuki new normal maka penting dilakukan sistem partisi atau sekat bagi para angkutan umum di jalan raya atau diberikan jarak dengan tetap melakukan pengawasan terhadap transportasi umum yang ada di darat. 

Namun demikian, masa pandemi Covid-19 saat ini membuat para sopir trayek angkutan umum sudah mendapatkan dana. Hal ini tentu berbanding terbalik pada saat sebelum Covid-19 atau dalam kondisi normal dulu baru sopir bisa mendapatkan anggaran Rp 1 juta dalam sehari, kini dengan adanya Covid-19 justru membuat para sopir susah sekali mendapatkan uang.

Untuk memasuki new normal saat ini, maka Bactiar mengatakan,  disiplin antara masyarakat perlu dibangun kembali secara bersama-sama, kondisi ekonomi yang membuat sehingga pelaku-pelaku operator transportasi, baik sopir dan pemilik kendaraan yang tidak mampu bertahan dalam kondisi saat ini, dan pengawasan terhadap transportasi umum oleh para petugas rendah.

“Solusinya adalah kalau pengawasan rendah, maka libatkan komponen lain, bahkan libatkan sopir itu sendiri dengan memberikan subsidi kepada mereka, sehingga bisa menjadi bagian dari petugas yang melakukan pengawasan. Artinya bukan lagi yang diatas mengawasi yang dibawah, tetapi yang dibawah saling mengawasi dan harus memberdayakan mereka,” ujarnya.

 “Karena virus itu beredar di terminal, di pasar, di angkutan-angkutan transportasi, sehingga kalau mereka tidak dianggap, maka akan penuh rumah sakit, tetapi kalau mereka dianggap, maka orang rumah sakit tidak akan terima pasien, karena sudah di stop di terminal, angkutan umum, dan pasar,” pungkasnya. (bet/wen)