Souvenir khas Papua yang dijual di depan Pasar Sentral Hamadi, Kamis (18/2)kemarin. ( FOTO: Priyadi/Cepos)

JAYAPURA-Para penjual souvenir khas Papua di sepanjang jalan depan Pasar Sentral Hamadi masih dilema dalam menyambut PON XX tahun 2021. Pasalnya, tahun 2020 akibat ada pendemi Covid-19 pelaksanaan PON ditunda ke tahun 2021 dan sampai saat ini juga pandemi Covid-19 tidak kunjung selesai. Hal inilah yang membuat penjual souvenir khas Papua di Hamadi masih dilema.

  “Saya masih dilema apakah PON jadi atau tidak, kalau memang jadi apakah ada penonton atau tidak. Kalau tidak ada penonton pasti pengunjung juga tidak maksimal. Daripada mengeluarkan modal besar untuk mendatangkan atau membuat souvenir khas Papua jika tidak yang yang  membeli pasti rugi sekali, karena saat ini orang yang minat membeli souvenir khas Papua juga sudah menurun akibat ada pandemi Covid-19, jadi keuangan tidak stabil,’’kata Irsul penjual souvenir khas Papua di depan Pasar Sentral Hamadi, Kamis (18/2)kemarin.

 Irsul mengaku, sejatinya jika nanti di bulan Mei 2021 sudah dipastikan PON ada penonton atau tidak maka dia berani putuskan untuk mendatangkan souvenir khas Papua dari Wamena atau Raja Ampat. 

 Untuk dari Wamena biasanya ada koteka, noken, lukisan serat kayu, patung dan manik-manik. Sedangkan dari Raja Ampat biasanya hiasan bahan dasar  kerang bisa dijadikan lampu dari kerang  ada gambarnya, gelang-gelang /manik-manik dari kerang juga dan lainnya.

 Irsul mengakui, tahun 2020 penjualan souvenir khas Papua menurun karena ada Covid-19. ”Harga souvenir khas Papua masih tetap tidak ada perubahan karena kalau mahal-mahal juga pembeli tidak minat jadi kita jual juga harus lihat keadaan sesuai dengan keinginan pembeli,’’tandasnya.

 Lain halnya dengan Acok yang juga penjual souvenir khas Papua di depan Pasar Sentral Hamadi. Ia sudah menambah stok souvenir khas Papua pada tahun lalu, karena PON di tunda tahun ini akibat ada Covid-19 maka ia belum mendatangkan lagi. Namun jika PON benar-benar dilaksanakan dengan maksimal ia akan mendatangkan souvenir khas Papua atau membuatnya sendiri.

 “Ya berdoa saja semoga PON XX tahun 2021 jadi. Kalau memang dilaksanakan tidak maksimal masih ada Covid-19 ya kita tetap perhitungkan, karena semenjak ada Covid-19 tahun 2020 lalu penjualan souvenir khas Papua menurun,’’tandasnya.(dil/ary)