Mereka yang Menemukan ”Rumah” di Indonesia (3)

DEDIKASI PANJANG: Peter Carey bersama siswa SMA dan guru sejarah SMAN 1 Geger, Kabupaten Madiun.

Sebuah sketsa mempertautkan Peter Carey dengan Diponegoro. Dia pun mendedikasikan hidupnya untuk meneliti pangeran Jawa itu. Tapi, seandainya ada mesin waktu, ada masa tak terkait dengan Diponegoro yang ingin sekali dia kunjungi.

DEBORA D. SITANGGANG, Jakarta, Jawa Pos

KETIKA ditunjukkan kerangka konsep disertasi Peter Carey tentang Pangeran Diponegoro, Merle C. Ricklefs serta-merta memujinya. ”Itu akan jadi salah satu buku paling penting dalam sejarah modern Indonesia,” kata sejarawan asal Australia ini kepada koleganya dari Inggris tersebut.

Tapi, seperti yang ditulis Ricklefs dalam pengantar buku Urip iku Urub: Untaian Persembahan 70 Tahun Profesor Peter Carey, itu sejatinya jawaban diplomatis. Dalam hati dia masih meragukan. ”Sosok aneh ini mau menjadi Multatuli zaman kini? Ah, ini hanya mimpi di siang hari bolong saja,” tulis Ricklefs.

Pertemuan Carey dan Ricklefs itu terjadi pada 1970-an. Dan, puluhan tahun kemudian, sampai sekarang The Power of Prophecy: Prince Dipanegara and the End of an Old Order in Java, 1785–1855 (Kuasa Ramalan: Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama di Jawa, 1785–1855) karya agung Carey menjadi buku babon tentang Diponegoro.

Carey lahir di Rangoon (sekarang Yangon), Myanmar, pada 30 April 1948 dari ayah dan ibu yang berasal dari Inggris. Perjumpaan pertamanya dengan Diponegoro terjadi saat dia menempuh program doktoral sejarah Asia Tenggara di Universitas Cornell, New York, Amerika Serikat, pada 1969–1970. 

Dari awalnya hendak menulis disertasi tentang Gubernur Jenderal Hindia Belanda Herman Willem Daendels, para profesornya di Cornell menyarankan dia belajar bahasa lokal Asia Tenggara (khususnya bahasa Indonesia dan Jawa) sebelum memastikan pilihan topik. Sebuah sketsa karya Mayor F.V.H.A. Ridder de Stuers (1792–1881) tentang Diponegoro menarik perhatiannya.

Demi mendalami kisah Pangeran Diponegoro, Carey melebur ke dalam jejak-jejak tokoh sejarah ini di tanah Jawa. Dia tinggal di kediaman milik Pangeran Tejokusumo untuk belajar bahasa Jawa. Carey menghabiskan waktunya di sana selama dua tahun, mulai 1971 hingga 1973, setelah membekali diri dengan teks dari ANRI (Arsip Nasional Republik Indonesia) yang dikumpulkan selama 1971. Bertahun-tahun berikutnya, Carey terus mendedikasikan waktu untuk mempelajari sejarah tentang pangeran yang meninggal dalam pengasingan di Makassar tersebut.

Tapi, pandemi sekarang ini membuat dia tak bisa bebas bergerak seperti dulu. Berkeliling ke tempat-tempat bersejarah yang ingin dia kunjungi. Namun, di sisi lain, Carey justru merasa terbantu dengan semakin mudahnya teknologi untuk berkomunikasi. 

Dengan adanya ruang pertemuan virtual, dia lebih mudah membagikan pengetahuannya tentang sejarah kepada khalayak. ”Biasanya kalau seminar langsung hanya 100–200 orang. Tapi, di ruang virtual bisa lebih banyak, bisa 500 orang. Justru saya lebih mudah bicara dengan banyak orang,” ungkapnya kepada Jawa Pos.

Sebagai sejarawan, tentu Carey senang jika semakin banyak orang yang menunjukkan ketertarikan untuk belajar sejarah. Namun, dia menyadari bahwa masih banyak pekerjaan rumah yang harus dilakukan agar generasi muda tertarik belajar tentang masa lalu. Sebab, zaman sudah berubah. Kini mempelajari sejarah bukan lagi dari manuskrip fisik.

Bicara tentang masa lalu, Carey juga punya angan-angan: kalau saja mesin waktu bisa diciptakan, dirinya ingin sekali ”mampir” ke salah satu zaman lampau yang selama ini hanya dipelajarinya lewat teks. Tapi, bukan masa Pangeran Diponegoro yang ingin dia datangi. Justru Carey ingin bertemu dengan sosok Mpu Bharada pada zaman yang lebih lampau: Kahuripan, kerajaan yang pusat wilayahnya berada di Sidoarjo, Jawa Timur, saat ini.

”Pertanyaan saya adalah bagaimana ajaran supaya kita bisa mencapai tingkat Aksobhya (pengetahuan tentang apa yang nyata dan apa yang khayalan, Red) dan bagaimana menjalankan laku kasunyatan atau the path of emptiness,” ungkap penulis Babad Dipanagara: An Account of the Outbreak of the Java War (1825–1830) tersebut.

Kalaupun Mpu Bharada tak bisa atau tak mau menjawab, Carey punya tujuan lain yang ingin disinggahinya: universitas Buddha di Sriwijaya abad ke-8 dan menemui guru yang membawa ajaran Buddha ke Tibet, Suvarnadvipa Dharmakirti.

Diponegoro tak ubahnya buku yang terbuka untuk terus digali. Meski telah mengeluarkan karya agung tentang pangeran Jawa itu, Carey merasa masih ada tabir yang harus dikuaknya dari kisah pahlawan nasional tersebut. ”Yang belum diungkap sampai sekarang adalah bagaimana dia dididik dan ditempa untuk menjadi insan al kamil dengan ajaran Islam sufi aliran Syattariyah oleh eyang buyutnya,” jelas Carey.

Eyang buyut Pangeran Diponegoro, Ratu Ageng, mengajari Pangeran Diponegoro pada umur 7–18 tahun. Selain itu, Carey ingin mengunjungi kediaman sang pangeran di Tegalrejo dan panepen di Selorejo.

Carey meyakini bahwa setiap budaya lahir dari kearifan dan saling melengkapi. Tidak semua budaya dari luar lebih unggul. Justru tampaknya ada banyak hal baru yang dipelajari orang Eropa ketika merasakan kehidupan di tengah masyarakat Asia. ”Di dalam hidup, sebenarnya kita melaksanakan darma atau takdir seperti Tuhan yang menjadi dalang dan kita mementaskan adegan tertentu. Saya yakin bahwa setiap budaya bermanfaat untuk kelestarian bumi manusia,” jelasnya. (*/c14/ttg/JPG)