Para penggiat lingkungan di Jayapura melakukan aksi  kampanye lingkungan mengingatkan publik soal terjadinya perubahan iklim dunia. Aksi ini dilakukan di depan Kantor Gubernur Papua, Jl Soa Siu Jayapura beberapa waktu lalu dan memperingati hari lingkungan hidup sedunia publik diingatkan statusnya sebagai tamu di bumi. (Gamel Cepos)

Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang Diperingati Tanpa Perayaan

Jumat (5 Juni) kemarin seluruh penggiat lingkungan memperingati hari lingkungan hidup sedunia. Berbeda dengan tahun tahun sebelumnya. Kali ini perayaannya dilakukan dengan memberikan penguatan satu dengan yang lain.

Laporan : Abdel Gamel Naser 

Moment hari lingkungan hidup tahun 2020 ini memang tanpa perayaan. Pandemi covid 19 membuat seluruh sendi kehidupan manusia terganggu dan pincang. Tak ada perayaan yang dilakukan namun komitmen untuk tetap menyuarakan isu penyelamatan terus dilakukan. Tak harus menunggu moment tetapi bagaimana tertanam sejak dini. Tahun ini tema hari lingkungan hidup sedunia adalah Time for Nature yang menempelkan pesan bahwa ketika ekosistem alam terganggu maka ada banyak hal yang juga akan terganggu.

 Waktunya berfikir dan melihat kembali apa yang sudah dilakukan untuk alam dari semua yang sudah diberikan selama ini. “Kalau saya mengibaratkan adalah kita adalah tamu di bumi dan layaknya sebagai tamu kita harus sadar diri bahwa tidak boleh seenaknya memperlakukan bumi ini,” kata Kepala Balai Besar Sumber Daya Alam (BBKSDA) Papua, Edward Sembiring, Jumat (5/6). Pasalnya jika seenaknya memperlakukan bumi atau  alam maka sewaktu-waktu ada kondisi yang bisa terjadi dan itu tak pernah diinginkan dan tidak diketahui kapan terjadi.

 “Semua sudah disediakan, alam sudah  menyiapkan makan minum dan ruang untuk hidup sehingga sangat pantas untuk membalas dengan menjaga, bukan sebaliknya. Edward meyakini jika manusia menjaga alam maka alam dengan sendirinya akan ikut menjaga manusia. Namun disini kata Edward masih ada ancaman yang perlu disikapi secara bijak. Ini berkaitan dengan biodiversitas di Papua. Hutan dan kekayaan keanekaragaman hayati yang patut dijaga.

 Ia menegaskan bahwa pihaknya tak anti pembangunan, tetapi ekstensifikasi pertanian dalam arti luas akan menjadi ancaman yang sulit dihindarkan. Selain itu, penambangan emas secara illegal menggunakan merkuri juga merupakan ancaman terkini yang tak bisa diabaikan. Nah untuk mengatasi ancaman tersebut menurutnya tiga pilar pembangunan berkelanjutan yaitu lingkungan, sosial dan ekonomi harus menjadi pertimbangan dalam mengambil kebijakan di Papua.

 “Itu yang saya lihat, pembukaan lahan skala besar menjadi ancaman nyata. Selin itu penggunaan mercuri saat menjadi emas juga masih terjadi,”  bebernya. Disini Edward Sembiring mengaku tak bisa kerja sendiri – sendiri tetapi aksi bersama  stakeholders perlu dilakukan.  Dijabarkan bahwa secara umum, BBKSDA Papua mengelola 19 kawasan konservasi di Papua dengan total luas kawasan 4,3 juta hektar. Dari luasan ini kekuatan BBKSDA hanya diperkuat degan PNS yang jumlahnya hanya 108 orang dan tersebar di daerah. 

 Selain kawasan konservasi, 108 personil ini juga melakukan pengawasan dan peredaran tumbuhan dan satwa liar di pintu- pintu keluar seperti bandara dan pelabuhan laut di seluruh Papua. “Rasio jumlah pegawai dan luasnya wilayah kerja tersebut menjadi pertimbangan bagi BBKSDA Papua untuk bersinergi dengan berbagai stakeholders terkait. BBKSDA Papua tdk mungkin kerja sendiri. Dukungan para pihak termasuk media massa sangat diperlukan,” imbuhnya. 

 Sementara Koordinator Rumah Bakau Jayapura, Theresia Paganggi menyampaikan bahwa peringatan hari lingkungan hidup sedunia ini dilakukan dengan melakukan diskusi virtual dengan webinar. “Temanya tentang harmoni alam dan kearifan lokal dan ini kolaborasi antara teman teman earth hour di Papua dan Medan. Kami ingin menyuarakan isu lokal Papua yang berkaitan dengan cenderawasih,” bebernya.

 Papua kata Theresia menjadi daerah yang kaya akan keanekaragaman hayati bahkan bisa dibilang benteng terakhir kekayaan tersebut dan tak bisa hanya menunggu sebab perilaku manusia memiliki kecenderungan untuk merubah apa yang ada dan itu merusak. “Sulit kalau hanya mengatakan harus dilakukan oleh institusi atau  lembaga ini itu sebab kalau rusak kita semua yang terkena dampaknya,” kata Theresia. Ia sepakat bahwa manusia adalah tamu sebab alam ada lebih dulu barulah manusia ditempatkan. 

 “Ini yang kadang kita lupa padahal banyak sekali yang sudah diberikan oleh alam kepada manusia. Bayangkan saja jika udara itu tak gratis, sudah berapa tahun kita pakai dan berapa besar uang yang harus dikeluarkan. Jadi jika sudah menerima secara gratis seharusnya bisa menghargai apa yang diberi,” imbuhnya. (*/wen)