Lokasi jatuhnya Heli MI-17 Penerband dengan nomor registrasi HA 5138, hasil pantauan udara Pangdam XVII/Cenderawasih, Mayjen TNI Herman Asaribab  bersama Bupati Pegunungan Bintang, Constan Oktemka dan Danrem 172/PWY Kol. Inf Binsar Sianipar, Senin (10/2). ( FOTO: Humas Kodam for Cepos)

Tarius Mul: Tidak Benar Helikopter MI-17 Ditembak TPN-OPM

JAYAPURA-Sejak dinyatakan hilang 8 bulan silam tepatnya 28 Juni tahun 2019, lokasi jatuhnya helikopter MI-17 Penerband dengan nomor registrasi HA 5138 akhirnya telah ditemukan. Ini setelah Pangdam XVII Cenderawasih, Mayjen TNI Herman Asaribab mengonfirmasi penemuan itu, Senin (10/2).

Dalam siaran pers Kodam XVII/Cenderawasih yang diterima Cenderawasih Pos, Pangdam Herman Asaribab menyampaikan, helikopter tersebut ditemukan di salah satu tebing di Pegunungan Mandala tepatnya di Distrik Oksop, Kabupaten Pegunungan Bintang. sekira pukul 09.00 WIT.

Bahkan, Pangdam Herman Asaribab bersama Bupati Pegunungan Bintang, Constan Oktemka dan Danrem 172/PWY Kol. Inf Binsar Sianipar ikut langsung dalam penerbangan pencarian menggunakan helikopter  AS 350 B2 milik Demonim Air dan menemukan  lokasi puing-puing helikopter tersebut.

“Betul, tadi saya melihat langsung lokasi puing dari ketinggian 12.500 feet,” kata Pangdam melalui rilisnya.

Kendati sudah menemukan puing-puing yang diduga kuat helikopter M-17 itu, Asaribab tak menjelaskan secara rinci soal kondisi terakhir para penumpang yang menjadi korban dalam insiden ini. Sementara hingga kini, tim masih berupaya mengevakuasi para korban.

“Kita akan fokus mengevakuasi korban. Evakuasi harus dipersiapkan dengan matang mengingat lokasi berada di tebing dengan sudut hampir 90 derajat,” jelasnya.

Putra asli Papua ini menyampaikan terima kasihnya kepada kepala daerah serta masyarakat Pegunungan Bintang yang memberikan informasi keberadaraan puing helikopter itu. Begitu juga unsur Kepolisian dan TNI yang terlibat dalam pencarian heli selama ini.

“Mengingat lokasi tersebut masih dianggap sakral oleh masyarakat setempat, kami juga mohon izin dan restu dari mereka. Khususnya warga Distrik Oksop untuk mendukung kami dalam misi kemanusiaan ini,” tuturnya saat bertemu dengan tokoh masyarakat serta jajaran pemerintah setempat di Aula Koramil Oksibil.

Adapun helikopter MI 17 Penerbad No Reg HA 5138 dinyatakan hilang sejak tanggal 28 Juni 2019. Heli dinyatakan lost contact ketika terbang dari Oksibil menuju Jayapura sesaat setelah melaksanakan dropping logistik bagi pos TNI yang berada di Kabupaten Pegunungan Bintang.

“Dalam penerbangannya saat itu, Heli mengangkut 7 orang crew Penerbad dan 5 orang prajurit Satgas Yonif 725/Wrg. Dari pengamatan udara terhadap puing-puing helikopter kuat dugaan bahwa heli tersebut menabrak dinding tebing saat cuaca berkabut tebal,” ucap  Wakapendam XVII Cenderawasih, Letkol Inf Dax Sianturi.

Secara terpisah, Danrem 172/PWY Kol. Inf Binsar Sianipar yang ikut langsung dalam penerbangan pencarian helikopter MI 17  menyebutkan secara umum sudah ditemukan lokasi jatuhnya helikopter tersebut.

“Sudah kita lihat dari udara tinggal bagaimana memastikan mekanisme evakuasi para korban. Mengingat jarak koordinatnya cukup tinggi berada di 13 ribu feet dan helicopter kami tidak sanggup untuk landing di lokasi tersebut,” ungkap Danrem insar saat dikonfirmasi Cenderawasih Pos melalui telepon selulernya, Senin (10/2).

Upaya lain yang akan dilakukan nanti yakni pesawat pengangkut tim evakuasi akan landing di  ketinggian 10 ribu hingga 11 ribu feet. Setelah itu mencari alternatif lain untuk mendekat ke sasaran titik jatuh helikopter yang berada di 12.900 feet hingga 13 ribu feet.

Adapun dalam tahap evakuasi helikopter MI-17 ini, melibatkan 1 kompi yang terdiri dari TNI-Polri, masyarakat setempat dan Pemda.

“Hari Selasa (11/2), kami tinjau dulu wilayah jatuhnya helikopter termasuk berkomunikasi dengan masyarakat untuk membantu kami. Sebab masyarakat yang tahu rutenya. Kita cek dulu tempatnya jangan sampai anggota kami yang mengevakuasi malah trouble,” terangnya.

Dalam proses evakuasi nanti, Kodam XVII/Cenderawasih akan menggunakan sebanyak tiga helikopter milik TNI Angkatan Darat dan sipil. Dua  helikopter saat ini sudah standby di Bandara Oksibil, Kabupaten Pegunungan Bintang sementara satu helikopter lainnya akan menyusul hari ini. 

“Tiga Helikopter tersebut milik Angkatan Darat dan sipil. Nanti ada juga pesawat dari TNI Angkatan Udara. Semua alat angkut kita gunakan. Kalaupun seandainya kita butuh pesawat caravan ya kita akan sewa caravan nanti. Tapi kita pelajari dulu medannya sehingga kita bisa putuskan menggunakan alat angkut yang paling cocok sesuai dengan medannya,” tuturnya.

Lanjut Danrem, adapun yang akan dilakukan setiba di lokasi jatuhnya helikopter tersebut yakni mengevakuasi terlebih dahulu para korban. Nantinya ada tim dari pusat yang akan mencari black box, dimana kotak hitam tersebut yang bisa mengungkap penyebab jatuhnya helikopter. 

Tarius Mul, S.Sos ( FOTO: Yewen/Cepos)

Secara terpisah aggota Dewan Perwakilan Rakyat Papua (DPRP), Tarius Mul, S.Sos., menegaskan bahwa tidak benar jika helikopter MI-17 milik TNI AD yang jatuh pada di Pegunungan Bintang sejak 28 Juni 2019 silam itu ditembak oleh TPN-OPM.

“Sangat tidak benar jika ada berita yang mengatakan helikopter MI-17 jatuh karena ditembak oleh TPM-OPM. Itu sangat-sangat tidak benar berita tersebut,” tegasnya kepada Cenderawasih Pos di Hotel Aston Jayapura, Minggu (9/2) malam.

Tarius mengatakan, sejak terbentuknya Kabupaten Pegunungan Bintang pada tahun 2004 sampai sekarang, selalu aman dan kondusif serta tidak ada masalah. Oleh karena itu, dirinya memastikan bahwa tidak benar jika ada informasi dan berita mengenai helikopter MI-17 yang jatuh akibat ditembak oleh TPN-OPM. “Helikopter MI-17 ini jatuh karena murni faktor cuaca yang kurang baik waktu itu,” kata Politisi Partai Demokrat ini.

Kata Tarius, masyarakat yang berada di daerah Meme Pegunungan Bintang merupakan masyarakat biasa. Apalagi dirinya dibesarkan di daerah tersebut, sehingga tahu betul mengenai situasi dan kondisi masyarakat di daerah tersebut.

“Helikopter MI-17 ini jatuh murni, karena faktor cuaca dan tidak ada masalah di sana. Saya dibesarkan dan anak asli dari situ, makanya saya tahu persis itu karena faktor cuaca,” tegasnya.

Tarius mengatakan, di Pegunungan Bintang sendiri terdapat dua suku besar yaitu Ngalum dan Kopel. Helikopter MI-17 ini menurutnya jatuh di pertengahan suku Kopel. Untuk itu, sebagai anak asli Pegunungan Bintang, Tarius memastikan helikopter ini jatuh murni akibat cuaca.

“Saya anggap berita yang mengatakan Helikopter  MI-17 jatuh karena ditembak oleh TPN-OPM adalah berita hoax atau berita bohong,” tutupnya. (fia/bet/nat)