Salah satu wartawan foto di Jayapura, Gusti Tanati memotret dalam acara pelatihan fotografer dan kameramen peliputan PON XX di Hotel Suni Garden Sentani, Senin (8/2). Hari Pers nasional, pekerjaan pers kini dibayang-bayangi media online yang dan media sosial yang makin gencar diminati masyarakat. (Gamel Cepos)

JAYAPURA – Pengurus Besar (PB) PON Papua terus mempersiapkan agenda  yang tidak hanya berkaitan dengan atlet tetapi juga sumber daya untuk menunjang suksesnya PON. Disini pihak yang  nanti mempublish dan mendokumentasikan semua moment dalam PON juga dipersiapkan. Dari rangkaian tersebut panitia PB PON menggelar pelatihan fotografi dan kameramen kepada  hampir 100 orang gabungan fotografer dan kameramen di Papua. 

 Panitia mengundang  enam pemateri yakni Erly Bahtiar selaku konsultan Official Photografer  Asian Para Games yang juga photografer Tabloid Bola, Oscar Matuloh selaku Kepala Divisi Museum dan Galeri Foto Jurnalistik Antara, WS Pramono selaku pendiri Indonesia Strobist Community dan penulis buku Food Photography Series, Charlie Populua Photografer Indo Pos – Jawa Pos, Ignatius Danu Kusworo selaku  editor foto harian Kompas dan Didik Kusjadmika selaku teknisi siaran ahli muda TVRI stasiun Papua. Pelatihan yang dimulai pada Senin (8/2) hingga Rabu malam (10/2) ini tidak hanya berbicara di dalam ruangan tetapi juga dibarengi dengan praktek.

 Puluhan fotografer dan kameramen diminta langsung mendatangi venue – venue dan mengaplikasikan hasil dari teori dalam ruangan.  Hasilnya juga tak mengecewakan dimana menurut Danu Kusworo ia optimis para fotografer dan kameramen di Papua bisa menjawab tantangan dari agenda PON nanti. “Waktu pertama saya diundang menjadi pemateri dalam kegiatan ini jujur saya ragu. Pertama  lokasinya jauh kedua masih pandemi dan ketiga masih meragukan peralatan yang dimiliki. Namun hari ketiga setelah presentase dan melihat semua hasil para peserta pelatihan saya langsung optimis bahwa Papua bisa mendapatkan dokumentasi yang komplit dan menarik dari teman-teman,” kata Danu didampingi empat pemateri lainnya di Sunny Garden Sentani Rabu malam. 

 Ia meminta fotografer dan kameramen di Papua harus bisa menunjukkan kemampuan kepada publik dan dunia luar jika kemampuan fotografer dan kameramen di Papua juga memiliki skill yang tak kalah. Yang jelas Danu puas dengan hasil yang dilihat. Hanya disini ia berharap ada peningkatan dari segi peralatan dimana untuk memotret dengan hasil bagus tentu perlu didukung dengan peralatan yang juga mumpuni. “Minimal lensa yang digunakan 200mm kata Charlie,” bebernya. Danu juga mengingatkan agar dalam bekerja nanti bisa menumbuhkan  feeling terkait aksi, reaksi dan ekspresi. 

 Sementara Nasa Bisay selaku panitia menyampaikan bahwa pihaknya akan memprioritaskan fotografer dan kameramen dari Papua untuk menjadi official fotografer dalam PON nanti. “Untuk panitia kami khususkan lebih kepada teman – teman di Papua. Saya pikir kemampuan teman – teman tidak perlu diragukan dan kita akan bikin yang sedikit berbeda,” singkatnya. (ade/wen)