Tersangka  pembunuhan  kakak ipar dengan cara  memotong  tangan kiri korban   hingga putus saat menjalani pemeriksaan lanjutan Selasa (2/6).  (FOTO: Sulo/Cepos )

MERAUKE- Korban  penganiayaan  yang dialami seorang warga Merauke yang  tewas setelah tangan  kirinya   putus akibat  ditebas  oleh tersangka berisial MK (23)  tak  lain  kakak ipar   dari  tersangka  sendiri. “Dia  kakak ipar saya.  Nikah dengan kakak perempuan   saya dan  telah memiliki  3  orang  anak,’’ kata  tersangka  MK saat menjalani     pemeriksaan  lanjutan oleh penyidik  Reserse Kriminal Polres Merauke,  Selasa (2/6), kemarin.   

   Tersangka   yang juga  masih tercatat sebagai  mahasiswa  semester 4 Ilmu Administrasi Universitas Merauke ini, mengaku tidak punya  masalah dengan  kakak iparnya  tersebut. Hanya  pada saat kejadian,  korban maupun tersangka  dalam keadaan  dipengaruhi  minuman keras. Ketika   itu di  depan Kios Nowari Indah, tersangka mengaku terlebih dahulu dirinya diserang dengan kampak. Namun tidak kena karena  masih bisa menghindar. 

  Setelah  dilempar dengan kampak, selanjutnya tersangka mengejar korban masuk  ke dalam  kios. Tersangka  mengaku  4 kali  mengayunkan  parang ke  korban, namun 3  diantaranya  mengenai  korban. Satu   tebasan membuat tangan kiri  korban  terputus.   Tersangka  MK  mengaku minum minuman keras  jenis Sopi  di sebuah dekker dekat  dengan TKP  bersama dengan  temannya   berinisial PM  (30) sejak pukul  09.00 WIT.  “Kami minum dua  botol plastik  kemasan   ukuran 600 ml,’’ terangnya. 

   Tersangka  MK juga mengaku  jika parang yang  digunakan tersebut  memang dibawa  oleh tersangka dari tempatnya kost dengan alasan  mau ke  Buti  untuk  ambil Sagero.   Kapolres Merauke   AKBP  Agustinus  Ary Purwanto, SIK melalui  Kasat Reskrim   AKP  Carollan  Rhamdhani, SIK, SH, MH, dikonfirmasi mengungkapkan, bahwa setelah melalui   pemeriksaan secara intensif, akhirrnya  ditetapkan satu   tersangka   yakni MK. 

   Sementara temannya  MK berinisial PM  hanya  dijadikan saksi, karena  yang bersangkutan  tidak ikut  melakukan  penganiayaan.  Karena  itu, lanjut  Kasat  Reskrim,  tersangka dijerat Pasal Primer 338  KUHP  dan Subsidair Pasal 351 ayat (3) KUHP dengan ancaman hukuman   15 tahun penjara.  Kasus penganiayaan ini  terjadi di  dalam kios  Noari Indah, kelurahan  Karang Indah Merake  pada Sabtu (30/5) sekitar  pukul  12.00  WIT, dimana  tersangka  menebas    tangan kiri korban  hingga putus yang menyebabkan  korban  mneinggal dunia akibat kehabisan darah.  (ulo/tri)