Brigjen TNI Iwan Setiawan ( FOTO: Elfira/Cepos)

TNI Mengklaim Anggota KKSB, Ketua Komisi B DPRD Intan Jaya Sebut Warga Sipil

JAYAPURA- Konflik bersenjata di Intan Jaya yang tak pernah usai. Tiga warga sipil kembali menjadi korban. Ketiganya meninggal dunia diduga lantaran dianiaya oknum aparat keamanan di  Puskesmas Sugapa, Senin (15/2).

Ketua Komisi B DPRD Kabupaten Intan Jaya, Martinus Maisini, mengutuk keras atas tindakan tersebut. Ia menduga adanya kesalahan prosedur.

“Kami kesal dengan tindakan seperti ini yang terus menyiksa sipil dan ini membuat masyarakat  menjadi trauma. Setidaknya kalau salah harus ditangkap dan melakukan pembinaan, bukan langsung disiksa hingga meninggal dunia,” ungkap Martinus kepada Cenderawasih Pos melalui telepon selulernya, Selasa (16/2).

 Dikatakan, tindakan-tindakan seperti ini membuat kepercayaan masyarakat terhadap negara luntur. Padahal tiga korban yakni Ganius Bagauw merupakan tenaga honorer di Dinas Tenaga Kerja. Kemudian dua korban lainnya Soni Bagauw (18) dan Yustinus Bagauw (18) merupakan adik kakak yang berada di pusat kota Sugapa. 

 “Mereka (korban-red) dari kampung Mamba, tidak ada indikasi zona merah dan zona hijaunya. Mereka sehari-hari  beraktivitas di kota,” kata Martinus. 

 Menurut Martinus, perihal kematian tiga warga sipil tersebut, dimana TNI mengklaim korban berusaha merampas senjata milik aparat. Padahal, ini informasi yang tidak benar.

 “Yang sebenarnya Ganius Bagau merupakan korban pertama yang ditembak, lalu dia mendapatkan perawatan medis di Puskesmas Sugapa. Dalam perawatan medis, Ganius ditemani dua adiknya. Namun saat malam hari datang oknum anggota dan melakukan penyiksaan terhadap ketiganya hingga meninggal dunia,” bebernya.

 Adapun ketiga jenazah tersebut sudah diambil pihak gereja dan dilakukan pemakaman pada Selasa (16/2). “Kami kutuk para pelaku yang siksa warga sipil hingga meninggal dunia, semakin  hari semakin kepercayaan masyarakat terhadap negara ini luntur. Setidaknya jika mereka bersalah maka tangkap dan lakukan pembinaan dan hukum, bukan disiksa  hingga meninggal dunia dan kalau  ada pelanggaran harus dibuktikan di ranah hukum bukan langsung dibunuh,” tegasnya.

 Menurut Martinus, akibat rentetan peristiwa di Kabupaten Intan Jaya sejak beberapa hari terakhir, terjadi pengunsian besar-besaran di lima desa yang ada di Intan Jaya yakni Kampung Mamba, Bilogai, Kumbalawupa, Sambili dan Joparu.  “Saat ini mereka mengungsi ke Pastoran Bilogai,” kata Martinus.

Sementara itu, data yang diterima Cenderawasih Pos menyebutkan tiga orang anggota KKSB dilumpuhkan aparat gabungan TNI-Polri karena berusaha merampas senjata aparat gabungan di Puskesmas Sugapa. Senin (15/2).

Kejadian itu bermula, saat tim TNI melakukan pengejaran pelaku penembakan terhadap Prada Ginanjar Arianda anggota Satgas Yonif R 400/BR dan memeriksa satu orang laki-laki. Saat pemeriksaan, seorang pria yang diketahui bernama Janius Bagau tiba-tiba melarikan diri dengan meloncat ke jurang. Tim terpaksa menembak yang bersangkutan setelah tembakan peringatan dan seruan untuk kembali tidak diindahkan. Akibatnya yang bersangkutan mengalami luka tembakan di bagian tangan.

Beberapa waktu kemudian, diperoleh informasi dari warga adanya satu orang warga dengan luka tembak diduga KKSB dibawa ke Puskesmas oleh Kepastoran Gereja Katolik Bilogai dan beberapa orang masyarakat lainnya.

Setelah dilakukan pengecekan dan dicocokkan dengan KTP yang didapatkan saat pemeriksaan, dipastikan orang tersebut adalah Janius Bagau salah satu anggota KKSB yang sering melakukan aksi teror di Sugapa dan menjadi salah satu penandatangan surat pernyataan perang kepada TNI-Polri beberapa waktu lalu.

Saat mendapatkan perawatan di Puskesmas Sugapa, Janius Bagau didatangi oleh dua orang rekannya. Ketiganya berusaha melarikan diri, menyerang dan berusaha merampas senjata dari aparat gabungan TNI-Polri yg berjaga di Puskesmas. Dengan sigap aparat melumpuhkan ketiga orang itu hingga tewas.

Sementara itu, Kapen Kogabwilhan III Kolonel CZI IGN Suriastawa membenarkan kejadian tersebut. 

Dikatakan, setelah dicocokkan dengan identitas dan beberapa barang bukti lain seperti surat pernyataan perang oleh KKSB,  dipastikan ketiganya merupakan anggota dari KKSB yang selama ini sering melakukan aksi teror dan penyerangan terhadap masyarakat dan aparat keamanan di Sugapa.

“Janius Bagau dan Januarius Sani keduanya turut menandatangani surat pernyataan perang kepada TNI-Polri yang beberapa waktu lalu.  Sudah dikoordinasikan dengan Pemda setempat untuk pengurusan tiga jenazah KKSB itu,” kata Suriastawa.

Sementara itu, secara terpisah Danrem 173/PVB Brigjen TNI Iwan Setiawan mengatakan jenazah anggota Yonif Raider 400/BR bernama Prada Ginanjar yang gugur dengan luka tembakan oleh KKSB telah diterbangkan ke kampung halamannya.

 “Jenazah sudah diberangkatkan ke kampung halamannya untuk dimakamkan,” kata Danrem saat dikonfirmasi Cenderawasih Pos.

 Sebelumnya kontak tembak antara Kelompok Kriminal Separatis Bersenjata (KKSB) dengan aparat keamanan kembali terjadi di Kampung Mamba, Distrik Sugapa, Kabupaten Intan Jaya, Senin (15/2).

 Dalam kontak tembak tersebut, satu anggota Yonif Raider 400/BR bernama Prada Ginanjar  gugur dengan luka tembakan dibagian perut. Jenazah dimakamkan di kampung halamannya di Jawa Barat.

Sementara itu, Manajamen Markas Pusat Komnas TPNPB bantah Pernyataan TNI yang mengklaim bahwa mereka telah berhasil menembak mati tiga anggota TPNPB. Menurut TPNPB yang mereka tembak dan bunuh tiga warga sipil. 

“Dengan melihat penipuan publik yang dilakukan oleh TNI dan Polri ini, maka kami dari manajemen Markas Pusat Komnas TPNPB mengeluarkan pernyataan bahwa TNI harus bertanggungjawab atas pembunuhan terhadap tiga warga sipil di Intan Jaya pada tanggal 15 Februari 2021 ini,” Juru bicara TPNPB-OPM, Sebby Sembom dalam rilisnya kepada Cenderawasih Pos, kemarin. 

Manajemen Markas Pusat Komnas TPNPB menurut Sebby Sembom selalu mendapat konfirmasi dari pimpinan TPNPB di setiap wilayah perang bahwa pasukan TPNPB tidak ada yang menjadi korban. “Hal ini mereka biasa laporkan setelah baku tembak dengan pasukan militer dan Polisi Indonesia. Kalau ada pasukan TPNPB yang dibunuh TNI, maka dengan berani mereka umumkan bahwa anggota kami ada ditembak oleh TNI-Polri,” ucapnya. 

Dengan dasar keberanian TPNPB ini, maka Manajemen Markas Pusat bertanggung jawab untuk semua aktivitas perang pembebasan nasional yang telah dan sedang dilakukan oleh Pasukan TPNPB. 

Oleh karena itu, Sebby meminta militer dan Polisi Indonesia segera menghentikan penipuan publik, yang mana berdalil bahwa pasukan TNI-Polri berhasil menembak anggota TPNPB.

Dalam rilis yang diterima Cenderawasih Pos, Sebby Sembom juga membeberkan kronoligis kejadian versi TPNPB. Menurutnya, enin (15/2/2021) pagi telah terjadi penembakan dari TPNPB Intan Jaya yang menewaskan seorang anggota TNI. 

Dalam upaya mengejar pelaku penembakan, aparat TNI menurut Sebby Sembom melakukan penyisiran di sekitar kampung Mamba hingga mengakibatkan seorang pemuda atas nama Janius Bagau tertembak di lengan kiri hingga tulang hancur.

“Dari sejumlah informasi yang dikumpulkan, Senin tanggal 15 Februari 2021 siang Janius Bagau dievakuasi ke Puskesmas menggunakan mobil milik bupati dari TKP di Amaesiga. Dalam mobil tersebut dua pemuda lain dari keluarga korban ikut serta untuk menjaga korban di Puskesmas sambil mendapat perawatan dari pihak medis. Kedua pemuda itu adalah Justinus Bagau dan Soni Bagau. Semuanya berasal dari satu keluaraga.

“Saat ketiga korban tersebut berada di Puskemas, TNI datang pada malam hari lalu interogasi ketiganya sambil siksa dan pukul hingga meninggal dunia pada Senin 15 Februari 2021 malam. Janius itu korban yang sebelumnya tertembak dari Amaesiga. Dua orang Soni dan Justinus itu sehat. Mereka ada di Puskesmas untuk jaga Janius. Tetapi mereka diperiksa dan diinterogasi lalu dipukul sampai ketiganya meninggal dunia di Puskesmas tadi malam,” bebernya.(fia/nat)