GUNDUL: Kondisi hutan angkasa yang difoto awal bulan Februari kemarin terlihat makin terbuka dan minim pepohonan. Penggiat lingkungan mencatat ada puluhan hektar lahan yang rusak dan terjadi penurunan status.  (Jance For Cepos)

JAYAPURA – Hasil penelitian dari salah satu penggiat lingkungan di Kota Jayapura, Jance menyebut bahwa kondisi hutan di Angkasa Distrik Jayapura Utara kini makin parah. Perkebunan terus merambah hingga ke atas dan salah satu kali yang disurvey kini tak lagi mengaliri air. Bahkan dari hasil penelitiannya ia berani menyebut ada kawasan sekitar 22 hektar yang rusak. Tak hanya itu, ada sekitar 44 Hektar kawasan yang  habis menjadi kawasan pertanian lahan kering bercampur semak.

Jance menyebut pada tahun 2000 lalu status hutan masih sekunder namun seiring perambahan dalam bentuk perkebunan yang masuk  akhirnya peta udara berubah menjadi kuning akibat perkebunan nenas. “Saya dan beberapa teman mencoba melakukan penelitian dan ini data berdasar hasil analisis spasial peta indikatif tutupan lahan yang bersumber dari KLHK tahun 2000 – 2018 dan sudah dilakukan growncek ke lapangan,” kata Jance saat ditemui bersama rekannya, Valentin di Jayapura, Senin (15/2).

 Lokasi yang dilakukan penelitian adalah kawasan sekitar kali APO dengan jarak bentangan sekitar 500 meter dari badan kali dimana disebutkan bahwa dari luasan hutan primer seluas 146.56 hektar dengan hutan lahan kering sekunder seluas 44,8 hektar  terus mengalami penyusutan dan tercatat ada 22 hektar yang mengalami penyusutan. “Ada puluhan  hektar yang statusnya mengalami penurunan dan ini akibat bukaan lahan perkebunan oleh warga yang tak paham,” jelasnya.  Dia juga menceritakan bahwa dalam melakukan penelitian ini ia dan rekan – rekannya masih mendapati penolakan dan ancaman dari warga yang berkebun.

 “Kami ditanya  dari instansi mana dan awalnya mereka menolak untuk kami naik namun karena ada kenalan yang mengenal mereka akhirnya kami bisa naik. Disini saya mau katakan bahwa Kayu Soang populasinya sangat terancam, saya hampir tak melihat lagi sebab kawasan sudah berubah menjadi kebun nenas,” beber Jance. 

 Pemuda yang melakukan penelitian sejak 2011 di gunung angkasa ini mengaku juga mendapatkan tekanan dari pemilik kebun untuk tidak mengganggu keberadaan lahan perkebunan mereka. “Ancaman – ancaman itu ada  dan ini jika terus terbiar maka Kota Jayapura terancam berbagai soal lingkungan, mulai dari banjir, longsor hingga kesulitan air. Dari penelitian ini kami berharap ada tindakan yang diambil pihak terkait,” imbuhnya. (ade/wen)