Komisioner Komnas HAM Chairul Anam

*Dalami Insiden Penembakan Pendeta Yeremia

JAKARTA, Jawa Pos – Penembakan yang menyebabkan Pendeta Yeremia Zanambani meninggal dunia mendapat perhatian Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM). Untuk memastikan pelaku penembakan yang masih simpang siur, mereka mengirim tim ke Intan Jaya, Papua untuk mencari tahu bagaimana peristiwa itu terjadi.

Sepanjang pekan lalu, Intan Jaya memang tidak henti digempur Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB). Rentetan serangan kelompok itu menyebabkan korban berjatuhan. Baik masyarakat sipil maupun aparat keamanan. Menurut Komisioner Komnas HAM Chairul Anam, instansinya sudah memberi atensi lebih terhadap insiden-insiden di Intan Jaya.

Khususnya penembakan Pendeta Yeremia. Anam memastikan, Komnas HAM turun tangan. ”Melakukan pendalaman terhadap fakta-fakta yang terjadi,” kata dia kemarin (22/9). Bersama Komnas HAM Papua, dia menyatakan, informasi yang mereka butuhkan sudah mulai dikumpulkan. Menurut dia, Komnas HAM turun tangan supaya tidak ada lagi kabar simpang siur.

Lebih dari itu, Komnas HAM ingin melihat secara lebih komprehensif kondisi di Intan Jaya pasca rentetan tidak kekerasan terjadi di sana. ”Sehingga terdapat modalitas yang baik untuk melakukan evaluasi,” beber dia. Termasuk terkait dengan manajemen keamanan. Anam tegas menyatakan, tidak boleh ada pendekatakan kekerasan di mana pun. Tidak terkecuali di Papua.

Menurut Anam, apapun alasan dan latar belakangnya, pendekatan kekerasan bakal melahirkan pelanggaran HAM dan potensi kekerasan lain. ”Oleh karena itu, Komnas HAM menyerukan penghentian kekerasan. Khususnya kekerasan bersenjata agar perdamaian berwujud di Papua,” beber dia. Jangan sampai tindak kekerasan di sana tidak kunjung habis.

Selain Komnas HAM, Polri juga didorong bergerak cepat mengusut kasus penembakan Pendeta Yeremia. Tujuannya tidak lain mengungkap penembak pendeta yang juga tokoh Suku Moni tersebut. Kemudian, pelaku harus diadili sesuai ketentuan yang berlaku. ”Dari awal tahun sudah ada setidaknya 15 kasus penembakan di luar hukum di (Papua) sana,” kata Usman Hamid.

Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia itu menyatakan, penembakan-penembakan yang menelan korban di Papua menunjukkan kegagalan negara menghadirkan perdamaian di sana. ”Kapan orang Papua bisa bebas untuk hidup tenang,” sesalnya. Kabar simpang siur mengenai pelaku penembakan Pendeta Yeremia harus diungkap secara terbuka.

Usman mengakui, pihaknya mendapat informasi dari masyarakat di Intan Jaya yang menyatakan pelaku diduga merupakan oknum tentara. Sementara dari pihak TNI dan Polri menyatakan,  KKB yang menembak Pendeta Yeremia. ”Penyelidikan menyeluruh yang independen dan tidak memihak harus segera dilakukan untuk mengungkap siapa pelaku,” tegas Usman. (syn/JPG)