Jenderal, Rocker, dan Bintang-Bintang Dunia di Liga Indonesia

Habel Boas Inzaghi Isir adalah buah kecintaan sang ayah kepada Juventus dan hubungan darahnya dengan Boaz Solossa. Kalau pas kangen jadi Boaz atau Inzaghi, dia melampiaskannya saat tarkam.

Bagus Putra Pamungkas, Surabaya, Jawa Pos

SAMPAI usia sang anak 11 tahun, harapan Eduard Isir seperti sudah tercapai sepenuhnya. Si buah hati jadi pesepak bola dan main sebagai striker.

Tak sia-sia dia menamai sang putra Habel Boas Inzaghi Isir. Ada gabungan dua nama penyerang besar di situ: Boaz Solossa, legenda Persipura Jayapura dan tim nasional (timnas) Indonesia, dan Filippo Inzaghi, mantan tukang gedor andalan Juventus, AC Milan, dan timnas Italia.

Sampai ketika Boci, panggilan si buyung, turun bersama SSB Emsyik dalam kejuaraan Danone Nations Cup 2010. Posturnya lebih tinggi dari anak seusianya ketika itu.

’’Saya tiba-tiba langsung ditunjuk oleh pelatih untuk main jadi bek,’’ kenang Boci yang oleh sebagian kawan juga dipanggil Boas itu.

Jadilah harapan sang bapak berbelok sedikit. Si penyandang dua nama penyerang hebat itu tetap jadi pesepak bola, namun sebagai bek. Sampai di klubnya yang sekarang, Kalteng Putra.

Tapi, ya itu risikonya, di mana pun dia bermain, mereka yang baru kenal selalu bertanya dengan nada heran, ’’Kok Boas sama Inzaghi jadi bek?”

Boas dan Inzaghi itu memang bersumber dari sang bapak. Eduard Isir yang juga mantan pemain Persipura itu pengagum Juventus. Dia juga punya hubungan darah dengan Boaz dan Ortizan Solossa.

Ketika Juventus menjuarai Serie A 1996?1997, Eduard tentu bungah. Tapi, pemain yang paling menarik perhatiannya justru si kurus yang bertahun-tahun kemudian dijuluki Sir Alex Ferguson ’’terlahir offside”, Filippo Inzaghi.

Pippo, sapaan akrab Filippo Inzaghi, tampil gemilang bersama Atalanta saat itu dengan mencetak 24 gol. Kegemilangan itu yang mendorong Juventus membelinya jelang bergulirnya musim 1997?1998. Eduard pun makin menggemarinya.

Tak mengherankan ketika kemudian sang putra lahir pada 24 Juni 1999, dia menamainya Habel Boas Inzaghi Isir. ’’Habel itu diambil dari Alkitab. Artinya napas. Kalau Inzaghi memang ayah (Eduard Isir) ngefans berat sama Inzaghi,’’ kata Boas saat dihubungi Jawa Pos.

Begitu cintanya dengan Juventus dan Inzaghi, ketika Boci mulai tumbuh besar, tiap sore dia diminta mengenakan jersey Juventus dengan nama Inzaghi di punggung.

Bagaimana dengan Boas? ’’Kaka Boaz (Solossa) kalau manggil ayah saya itu Bapak Tua,’’ terang Habel.

Di Papua, Bapak Tua bisa diartikan paman. Eduard merupakan paman dari Boaz dan sang kakak, Ortizan Solossa.

Artinya, Habel dan Boaz maupun Ortizan adalah sepupu. Karena itu, Habel tidak kaget kalau ada Boas dalam namanya. Hanya beda di huruf terakhir, ’’s” dan ’’z”.

Pemain Kalteng Putra itu justru bangga. Sebab, Boaz Solossa yang sehari-hari juga dipanggil Boci itu merupakan panutan bagi pemain muda. Tak hanya di Papua, tapi juga di Indonesia.

Boas memang tidak pernah satu tim dengan Boaz. Tapi, keduanya masih sering bertemu. Bersama penggawa senior Persipura lainnya, Ricardo Salampessy, mereka kerap melakoni laga uji coba.

Dengan intensitas pertemuan yang makin tinggi, kekaguman Habel kepada Boaz malah makin menjadi. ’’Kaka Boaz sudah hebat, tapi rendah hati. Dia humble, selalu kasih motivasi ke pemain muda. Tidak pelit ilmu,’’ kata pesepak bola yang juga tercatat sebagai mahasiswa jurusan internasional di Universitas Cenderawasih, Jayapura, itu.

Ada pesan yang paling dia ingat. ’’Selama jadi pemain bola, kalau sudah terkenal, jangan pernah sombong,’’ kata Boas menirukan ucapan Boaz.

Boaz sang idola, tapi karena kini bermain sebagai bek, Boas pun harus beradaptasi. Ricardo Salampessy, bek senior Persipura, termasuk yang dia jadikan cermin untuk belajar. ’’Mainnya tenang dan simpel,’’ katanya.

Sementara itu, untuk pemain luar negeri, dia sangat kagum dengan bek Real Madrid Sergio Ramos. ’’Dia punya tekel-tekel yang bagus,’’ tambah pemain yang mengikat kontrak profesional pertamanya dengan Perseru Serui pada musim 2018 itu.

Tentu saja dia dikontrak Perseru sebagai bek. Begitu pula ketika Kalteng Putra memboyongnya untuk tampil di musim ini yang belum jelas kelanjutannya itu.

Tapi, kerinduan menjadi seperti Boaz atau Inzaghi sesekali datang. ’’Biasanya kalau ada pertandingan (tarkam) sparing di Jayapura saya masih sering jadi striker. Tapi, sudah nggak kayak dulu sih. Harus lebih banyak latihan lagi,’’ terang pemain yang pernah memperkuat Persewar Waropen tersebut.

Karena kompetisi ditunda sampai tahun depan, kans Boas mengasah naluri mencetak gol masih terbuka. Asal nanti saat sudah berkompetisi lagi dengan posisi sebagai bek dia tidak lupa ke gawang mana bola harus diceploskan. (*/c17/ttg)