Jumpa Pers  Tim Solidaritas Peduli Konflik Nduga halaman Gereja Wene Roma Sinakma, Kamis (1/8). ( FOTO : Denny/ Cepos )

WAMENA-Tim Solidaritas Peduli Konflik Nduga merilis data kematian dari warga Kabupaten Nduga yang melakukan pengungsian dari 11 Disrik yang menjadi wilayah operasi aparat Gabungan TNI/ Polri, dimana korban yang dinyatakan telah meninggal dunia sebanyak `182 orang dimana data ini telah diverifikasi selama 13 hari.

  Pemerhati HAM Pegunungan Tengah Papua Theo Hesegem menyebutkan jika data yang ditemukan tim solidaritas peduli Konflik Ndiga sangat berbeda dengan data yang dikeluarkan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Nduga yang menjadi acuan dari Kementerian sosial yakni sebanyak 53 orang yang meninggal dunia, dinilai tidak relevan karena hanya mengambil data dari 3 Distrik seperti Mapenduma, Kagayem dan Paro

  “Laporan itu yang diberikan kepada Presiden yang menjadi acuan kementerian Sosial yang menyatakan jika jumlah korban yang meninggal dunia itu hanya 53 orang karena laporan dari Dinas kesehatan itu hanya meliputi tiga distrik yang ada di sana,”ungkapnya Kamis (1/8) kemarin.

  Theo menyampaikan jika sejak  18 Juli lalu, tim solidaritas peduli konflik Nduga yang terdiri dari berbagai lembaga kemanusiaan merilis laporan yang didata dari 139 Korban yang meninggal namun dari data tersebut terjadi perdebatan antara pemerintah Pusat, Provinsi dan Kabupaten bahkan pihak keamanan menyatakan jika itu hoaks yang tak bisa dipertanggungjawabkan.

  “Kami pemerhati HAM bersama dengan Klasis Gereja Kingme di Nduga, MRP, tim kemanusiaan Kabupaten Nduga melibatkan seluruh pengungsi melakukan verifikasi data korban yang meninggal dunia yang tersebar di hutan maupun dalam pengungsian itu sebanyak 182 orang,”katanya

  Dari korban yang meninggal. Kata Theo Hesegem, Korban perempuan dewasa yang meninggal sebanyak 21 orang, korban laki –laki dewasa yang meninggal dunia 69 orang, korban anak perempuan yang meninggal 21 orang, korban anak laki-laki yang meninggal 20 orang, sementara untuk balita perempuan yang meninggal 14 orang , balita laki-laki 12 orang yang meninggal, sementara untuk bayi perempuan yang meninggal 17 orang dan bayi laki-laki 8 orang meninggal.    

  “Data yang kami keluarkan ini telah diverifikasi oleh seluruh hamba Tuhan yang mempunyai umat dan masyarakat pengungsi, sehingga kami tidak ragu sedikitpun untuk mengeluarkan pernyataan ini karena kami punya bukti yang akuran untuk dipertanggungjawabkan,”tegas Theo.

  Menurut Theo, dari182 korban yang meninggal dunia karena adanya kekerasan fisik, tertembak, ada yang meninggal di hutan karena lapar dan tak ada makanan yang bisa mereka konsumsi, bagi ibu hamil yang bersalin itu tak ada pertolongan medis yang bisa membantu dan menolong mereka, pengungsian di hutan itu daerahnya sangat dingin.(jo/oel/tri)