Wakil Mentri Agraria dan Tata Ruang / Wakil Kepala Badan Pentanahan Nasional (BPN) Surya Tjandra saat mengunjungi lahan kosong yang akan disertifikasi untuk dijadikan lahan pertanian Kopi Arabika di Kapung Yagara Distrik Welesi jayawijaya Rabu (27/1) ( FOTO: Denny/ Cepos)

WAMENA – Kementrian Agrarian dan Tata Ruang Dan Badan Penatanahan Nasional (ATR BPN) memastikan untuk menyusun reformasi agraria konteks Papua sesuai dengan inpres no 9 tahun 2020 tentang percepatan pembangunan Papua dan Papua Barat artinya ada pengakuan wilayah masyarakat adat dan tanahnya sebab ini yang paling penting untuk disertifikasi tanahnya.

Wakil Mentri Agraria dan Tata Ruang / Wakil Kepala Badan Pentanahan Nasional (BPN) Surya Tjandra saat melakukan kunjungan ke Kabupaten Jayawijaya dan melihat lahan pengembangan kopi arabika di Kampung Yagara Distrik Welesi mengakui dari kunjungannya ke Papua dan Papua barat rupanya dari adat di Papua telah memiliki pemetaan wilayah adat namun belum disesuai kan dengan pemetaan dari BPN.

“ Dari pemetaan itu kalau ada yang sudah clear itu bisa diberikan sertifikat tanah akan kita kasih , sementara yang masih masuk dalam kawasan hutan kita akan minta kepada Kehutanan untukl dilepas agar dikasi ke masyarakat dan memetakan mana hutan dan bukan,”ungkapnya Senin (27/1) kemarin.

Menurutnya, dalam jangka panjang pihaknya ingin ada pemberdayaan, sehingga setelah pengakuan dilakukan perlindungan agar bisa menjadi peningkatan pendapatan bagi warga, sehinggadari Direktorat pemberdayaan juga bergabung dan kemarin sudah membuat perjanjian kerjasama dengan Bupati Jayapura dan sudah melakukan pertemuan dengan Pjs Sekda Provinsi Papua.

“ Besok itu akan dilakukan pertemuan dengan Bupati Jayawijaya juga , termasuk akan ke daerah – daerah yang rawan, Negara harus hadir, sebab inti dari tuntutan ini negara wajib lebih semangat, bukti kongkrit bagaimana saya datang ke tempat yang paling jauh dan bertahan selama 5 hari ,”jelas Surya Tjandra.

   Dari Komuditas yang dikembangkan kata Surya Tjandra, yang jelas komunitas unggulan kopi dan buah naga, dan juga kedalai, khusus komunitas kedelai memang harganya sedang tinggi, diJayawijaya tak perlu menggunakan pupuk dan bahan kimia lainnya tanaman tersebut bisa bertumbuh, sehingga Wamena ini memang tanahnya subur namun tidak semua ada daerah yang masih gersang.

“Untuk daerah yang masih gersang ini sebenarnya masih perlu diolah lagi dan membutuhkan traktor, sayangnya ATR BPN tidak punya anggaran untuk pengadaan traktor, kalau ada saya sudah kasih, sehingga kami harus koordinasi dengan kementrian pertanian dan kementrian desa,”katanya

  Ia juga mnemastikan jika dari hasil kunjungan ini maka akan dibuatkan nota dinas, untuk melaporkan ada harapan dari masyarakat di Jayawijaya, kalau memang memungkinan akan dibantu, namun itu masih perlu dianalisis secara nasional, selain analisis parsial (Peta), pihaknya juga mengumpulkan analisissosial dan budaya.

“Ttujuannya bantuan ini tepat sasaran dan dapat digunakan oleh masyarakat, tidak Cuma satu dua orang yang menguasai tetapi semua, dimana masyarakat yang kuat adalah masyarakat adat kalau di kampung,”bebernya. (jo)