Perwakilan Kementerian Sosial Burhanudin saat menggunakan Speedboat melihat lahan pertanian yang rusak akibat banjir didampingi tim Basarnas dan Kepala BPBD Jayawijaya Amsal Wamo. ( FOTO: Denny/ Cepos)

WAMENA-Kementerian Sosial memberi perhatian serius terhadap dampak banjir yang dirasakan masyarakat di 23 Distrik di Jayawijaya. Dimana tim dari Kemensos turun langsung ke wilayah dusun Ukulaga Kampung Wesagenya Distrik Wesaput, dimana masyarakat mulai memperbaiki kebunnya yang rusak akibat banjir, namun mereka tak bisa panen.

  Perwakilan Kemensos Provinsi Papua Burhanudin mengakui jika, ia ditugaskan memantau langsung kondisi masyarakat khususnya petani yang terdampak banjir di Kabupaten Jayawijaya yang terjadi sebulan lalu, namun dampaknya masih dirasakan, setelah melihat dan mengambil keterangan dari masyarakat bisa diambil kesimpulan.

  “Mata pencarian masyarakat yang terdampak banjir ini dari hasil kebun, kebun yang  dibuat terletak sepanjang bantaran Kali Baliem yang panjangnya mencapai 30 Km, dan kita mengambil sampel di beberapa titik pada Distrik Wesaput,”ungkapnya Jumat (12/2) kemarin

  Ia melihat sendiri dampak dari banjir ini, masyarakat pemilik kebun terpaksa harus memanen hipere baik yang sudah waktunya maupun yang belum waktunya untuk dipanen dan kebanyakan yang belum waktunya terpaksa harus dipanen ketika  terjadi banjir yang menggenangi tanaman mereka.

  “Resikonya dalam jangka waktu 3-6 bulan warga harus menanam ulang dan mereka kehilangan mata pencarian mereka, tentunya ini memerlukan penanganan yang baik dan sesuai dengan kebutuhan,” jelas Burhanudin.

   Kata Burhanudin, mereka masih bertahan dan kembali menggarap kebun dengan kondisi air Kali Baliem yang belum stabil karena naik dan turun. Namun dalam masa bertahan ini perlu dipikirkan melalui bantuan pemerintah paling tidak ada bahan makanan yang bisa membantu petani sampai bisa menghasilkan lagi dari kebun mereka.

  “Kebutuhan kedua, karena banyak warga yang tinggal di bantaran Kali Baliem, ketika air meluap mereka butuh alat transportasi, seperti perahu yang sesuai atau bisa mengangkut hasil kebun masyarakat dan juga ternak, bahkan juga warga apabila sewaktu -waktu butuh evakuasi kalau banjir besar di Kali Baliem.” katanya.

  Burhanudin melihat masyarakat butuh alat transportasi yang bisa mengangkut hasil kebunnya, ternak dan juga menyelamatkan dirinya. Ia juga menilai jika perlengkapan pemerintah daerah juga masih minim, sehingga ini  akan menjadi rekomendasi agar pemprov Papua atau Kemensos bisa menangani masalah ini.

  “Semoga usulan yang kami masukan bisa segera ditindaklanjuti oleh Pemprov maupun di pusat, sehingga yang masuk dalam laporan ini masalah nama dan alat transportasi yang dibutuhkan masyarakat, nanti apakah dari Kemensos atau Basarnas pusat yang melihat masalah ini,”bebernya.

  Di tempat yang sama Kepala Kelurahan Ilokoma Distrik Wesaput Vicktor Haluk mengaku, jika karena masyarakatnya saat ini mengalami gagal panen akibatnya, warga kekurangan bahan makanan, khusus untuk mereka yang menggantungkan hidupnya pada pertanian.

  “Kebun masyarakat ini tak bisa diolah lagi karena tanaman semua mati akibat banjir, masyarakat baru mulai menanam kembali Hipere (ubi jalar) karena semua tanaman rusak sehingga pangan yang digunakan untuk makan tak bisa diperoleh,”ucapnya.

   “Sebenarnya ada yang bisa dipanen, namun karena tertutup air sulit bagi warga untuk bisa mengambil hasil kebunnya, oleh karena itu kita butuh perahu,”tambahnya. (jo/tri)