Esau Miram saat bersama rekan-rekannya membuat pagar di Asrama Yahukimo di Biak Numfor.  (FOTO: Dokumen pribadi)

Kisah Esau Miram, SIP., Jurnalis Cenderawasih Pos yang Menjadi Wabup Yahukimo (Bagian-2)

Tidak mudah bagi Esau Miram, SIP., menjalani hidupnya saat dia memutuskan untuk melanjutkan sekolah di Kota Karang Panas, Biak. Apa saja yang dilakukan Esau selama menempuh pendidikan SMA dan perguruan tinggi di Biak ? Berikut laporannya.

Laporan: Yonathan, Jayapura

SAAT mendarat di Lanud Manuhua Biak pada bulan Juli 2004 lalu, Esau Miram memulai lembaran barunya untuk mengejar cita-citanya sebagai seorang guru. Anak ketiga dari bersaudara ini, terbang ke Biak bersama salah seorang kerabatnya yang kuliah di Biak dan pulang berlibur ke kampung halamannya.

Keputusannya untuk terbang ke Biak, guna melanjutkan sekolah ke jenjang SMA tidak dikomunikasikan dengan kakak kandungnya Renid Miram (anak kedua) yang saat itu sedang menempuh pendidikan di Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Yapis sekarang Uniyap Biak. ”Saya ke Biak tanpa memberi tahu kakak saya nomor dua, Renid. Karena saya pikir kalau saya belajar di Wamena sama saja, lebih bagus saya keluar supaya ada perubahan. Kakak waktu itu kaget ketika saya tiba di Biak saat itu,” ungkapnya.

Ayah dari dua orang putra Juledo L.A. Lotis Miram dan Junedi Eleazar Bestartiano Albertho Miram  ini mengaku butuh penyesuaian saat pertama kali tinggal di Biak. Diakuinya tidak mudah baginya yang sejak kecil tinggal di daerah pegunungan yang dingin dan harus tinggal di daerah pantai yang panas. 

Selain penyesuaian lingkungan, di sekolah Esau juga mengaku butuh waktu satu semestar untuk bisa bersaing dengan rekan-rekan satu kelasnya di SMA YPK 1 Biak. “Sampai di Biak, terus terang saya butuh banyak waktu untuk penyesuaian. Termasuk di sekolah saya juga butuh penyesuaian dan bahkan semester satu itu, nilai saya semester pertama tertinggal jauh dari teman-teman. Karena memang kami di Wamena belajar apa adanya, sementara Biak untuk ukuran Papua termasuk daerah yang maju dalam bidang pendidikan,” tuturnya.

Meskipun demikian, Esau mengaku tidak malu dan justru hal itu memotivasi dirinya untuk belajar lebih giat lagi agar dirinya bisa setara dengan rekan-rekannya. Usaha dan kerja kerasnya akhirnya membuahkan hasil. Ketika naik ke kelas XII, Esau berhasil duduk di peringkat dua. 

“Di kelas X nilai saya buruk, tapi saya tidak pernah malu. Saya terus berusaha agar bisa sama dengan teman-teman saya yang lain. Meskipun saat itu, bahasa Indonesia masih putus-putus, orang bilang kaki kepala, saya tidak peduli. Ada beberapa teman yang sampai hari tidak bisa saya lupa. Mereka ikut membantu membimbing saya. Salah satunya rekan saya bernama Yemima anak Biak. Kalau saya saya sebut dalam perkataan, dia koreksi,” bebernya.

Dengan tingkat kemajuan pendidikan anak-anak di Biak yang sudah maju, Esau mengaku termotivasi  untuk bisa lebih baik lagi. Bahkan dirinya mempunyai komitmen untuk bisa sama dengan rekan-rekannya hingga akhirnya bisa menyelesaikan pendidikannya di SMA. “Tamat SMA, cita-cita saya berubah yang dulunya guru, saya ingin berkecimpung di bidang kehutanan. Karena saya lihat Yahukimo luas, sehingga saya bisa kelola hutan di sana,” tandasnya. 

Tahun 2007, Esau Miram mencoba ikut seleksi penerimaan mahasiswa dan diterima di Universitas Papua (Unipa) Manokwari jurusan Budaya Kehutanan. Untuk bisa melanjutkan kuliah, Esau mendapat dukungan dari orang tuanya yang menjual ternak babinya dan hasil penjualannya dipakai untuk ke Manokwari kuliah di Unipa.

Diawal kuliah, Esau sempat tinggal di asrama Unipa dan harus mengikuti jadwal kuliah yang padat. Namun persoalan mulai muncul saat utamanya terkait masalah keuangan. Esau mengaku sejak tamat SD, dirinya tidak pernah meminta uang untk biaya hidup dan sekolah ke orang tuanya di kampung. Sebab dirinya tahu betul bagaimana kondisi perekonomian keluarganya.

Hal ini pun berlanjut saat ia mengawali kuliah di Unipa Manokwari. Esau mulai mengalami kendala dana yang akhirnya berpengaruh pada kebutuhannya sehari-hari termasuk makan dan minum. Aktivitas kuliah yang tinggi dan tidak diimbangi dengan asuman makanan yang cukup, akhirnya membuat Esau jatuh sakit.

“Setiap hari hanya makan mie instan dan kalau ada beras baru bisa makan nasi. Akibatnya, pertengah semester satu, saya jatuh sakit. Karena kondisi kesehatan itu, kakak-kakak kasi pulang saya ke Biak lagi. Di Biak, saya istirahat untuk memulihkan kondisi. Setelah pulih, saya coba daftar di Yapis Biak. Saya coba daftar di jurusan pemerintahan, tapi dari pihak kampus bilang full. Akhirnya, saya diterima di jurusan politik. Saya pikir-pikir, daripada ketinggalan, saya masuk dan ikut kuliah,” jelasnya.

Selama kuliah, Esau tidak hanya sibuk dengan urusan perkuliahan. Dia juga aktif di berbagai organisasi. Baik itu organisasi kemahasiswaan seperti GMKI hingga organisasi gereja. Esau bahkan terpilih menjadi ketua Asrama Mahasiswa Yahukimo di Biak. Dirinya juga belajar mengatur waktu agar aktivitasnya di kampus dengan kegiatan organisasi bisa berjalan dengan baik. 

Aktivitasnya di berbagai organisasi ini membuat Esau banyak belajar, salah satunya bagaimana menjadi seorang pemimpin. Misalnya saat ia diberi kepercayaan menjadi ketua asrama. Di situ, dirinya belajar mengatur asrama dan seluruh penghuninya. 

Untuk biaya kuliah dan kebutuhan sehari-hari, Esau mengaku menggunakan potensi dan kemampuan yang dimilikinya untuk bisa menghasilkan uang. Di kampus, dirinya sering diminta membantu beberapa mahasiswa tugas belajar untuk mengerjakan tugas dan bahkan menyusun skripsi. Selain itu, Esau juga tidak malu bekerja membantu membersihkan di beberapa rumah warga di Biak. 

“Saya bantu-bantu di beberapa rumah, seminggu dua kali datang membersihkan. Satu bulan ada yang kasi Rp 50 ribu dan ada juga yang Rp 100 ribu. Saya juga ikut kerja bangunan untuk bantu-bantu biaya,” katanya.

Esau mengaku tidak malu melakoni semua itu. Bahkan terkadang dirinya diganggu orang yang menyebutkan kalau dirinya cocok jadi petugas kebersihan. Hal itu tidak membuatnya malu. Sebab baginya, apapun yang bisa dikerjakan akan dia lakukan selama itu pekerjaan yang halal. 

“Semua proses yang saya jalani di Biak membuat saya bisa hidup mandiri. Saya berkomitmen, jika kelak sukses dalam pendidikan, hasilnya bukan untuk orang lain tapi untuk diri saya dan keluarga saya sendiri. Saya selalu pakai filosofi bahwa hidup ini keras. Kita tidak boleh bergantung pada orang lain. Lakukan apapun pekerjaannya, yang penting halal,” tegasnya.

Dirinya juga bersyukur dan berterima kasih kepada Pemkab Yahukimo dibawah kepemimpinan Bupati Ones Pahabol. Pasalnya saat kuliah, Bupati Ones Pahabol memberikan perhatian penuh kepada mahasiswa Yahukimo termasuk yang ada di Biak.

 “Kami mendapat bantuan pendidikan dan tahun 2008 Pemkab Yahukimo membangunkan kami asrama di Biak. Bahkan kami juga bisa punya motor dan difasilitasi komputer oleh pemda. Dengan adanya perhatian dari Bupati Ones Pahabol, kami kuliah mulai tenang,” tambahnya.

Dengan adanya dukungan dari Pemkab Yahukimo, Esau akhirnya bisa menyelesaikan kuliahnya tahun 2011 dan meraih gelar SIP (Sarjana Ilmu Politik). “Setelah tamat kuliah, saya kemudian naik kapal ke Kota Jayapura untuk mencoba cari kerja,” bebernya. 

Tiba di Kota Jayapura, Esau melihat ada pengumuman penerimaan wartawan di Harian Cenderawasih Pos. Dirinya kemudian memberanikan diri melamar dan saat itu ada sekitar 70-an yang melamar. 

“Saya sempat kurang percaya diri untuk bisa diterima. Apalagi saya tidak punya dasar jurnalistik atau ilmu komunikasi. Tapi saya ikut seleksi dan akhirnya bisa diterima jadi wartawan bersama tiga rekan seangkatan saya waktu itu Yudhi, Imanuel Itlay dan Denny Tonjau yang saat ini wartawan Cepos di Wamena,” pungkasnya. (besambung)