Pjs Bupati Keerom DR Ridwan Rumasukun SE. MM ketika mencoba menggunakan mesin panen jagung pada acara panen raya jagung di Distrik Skanto Kabupaten Keerom, Minggu (1/11) ( FOTO: Ginting/Cepos)

JAYAPURA-Dengan refocusing anggaran sebesar Rp 4,7 Miliar,  Pemerintah Kabupaten Keerom menyiapkan lahan kurang lebih seribu hektar untuk ditanami jagung. Pada tahap awal Pemkab Keerom telah melakukan panen raya seluas 100 hektar dan hasilnya akan dikirimkan ke Blitar Provinsi Jawa Timur.

  Panen raya tersebut dilakukan langsung oleh Pjs Bupati Keerom DR. Ridwan Rumasukun SE. MM di Distrik Skanto pada Minggu (1/11). “Untuk sekarang kita panen ada 100 hektar dan panen perdananya  ini 12 hektar dimana kami targetkan per hektar mencapai 5 ton,”Ungkap Kadis Pertanian Keerom Sunar disela-sela panen raya tersebut.

  Pihaknya memilih jagung karena interval penanaman dan panen 100 hari dan juga dapat ditanam di setiap lapisan masyarakat. Sedangkan pasarnya pihaknya telah bekerja sama dengan Koperasi Putra Blitar yang ada di Jawa Timur.  “Kita akan jalin komunikasi dan kami pastikan pasarnya ada dan kami berharap nantinya Keerom akan menjadi lumbung jagung dan sistem panennya akan secara terus menerus”bebernya.

  Setelah dilakukan panen,  pihaknya akan melakukan pengeringan dan selanjutnya akan dikirimkan ke Blitar.  Harga yang dibeli oleh Koperasi Blitar akan menyesuaikan harga pasar. Selain itu, jika ada pembeli  yang langsung kepada masyarakat juga diperbolehkan karena tujuannya adalah meningkatkan hasil pendapatan masyarakat Keerom.

  Sementara itu Pjs Bupati Keerom DR Ridwan Rumasukun SE, MM saat melakukan panen raya tersebut mengatakan bahwa dana refocusing yang dilakukan Dinas Pertanian Keerom adalah suatu hal yang positif yang  patut diapresiasi yang telah membuat kondisi Covid menjadi produktif sehingga di masa Pandemi dapat menghasilkan sesuatu yakni pertanian jagung.

  “Yang sudah tersedia panen 100 hektar dan hari ini dipanen itu 12 hektar dan cara penanamannya dilakukan berperiode, sehingga tidak terputus dan dipasarkan di Blitar,”bebernya.

  Dirinya berharap masyarakat lainnya dapat mendukung dan melakukan hal yang sama sehingga nantinya dapat meningkatkan hasil perekonomian masyarakat. Ridwan juga mengapresiasi sistem cara pertanian yang dilakukan dalam pertanian jagung tersebut karena tergolong modern dimana setiap tahapannya telah menggunakan mesin.

  “Dengan mekanisasi modern ini menekan ongkos kerja, sehingga ini sangat positif dan dapat menekan biaya produksi dan harga jual dapat bersaing dengan harga di daerah lain,” bebernya.(gin/tri)