Klemen Tinal, SE., MM ( FOTO: Gratianus Silas/Cepos)

Kecuali Kota Jayapura, 28 Kabupaten Adaptasi New Normal

JAYAPURA-Wakil Gubernur Papua, Klemen Tinal, SE., MM., menyebutkan bahwa Provinsi Papua sudah tidak lagi menerapkan kebijakan Relaksasi Kontekstual Papua, melainkan kini menerapkan Adaptasi New Normal  di Papua.

 “Melihat situasi riil di masyarakat saat ini, maka kita sampaikan kondisi kita bukan lagi Relaksasi Kontekstual Papua, melainkan Adaptasi New Normal. Untuk itu, , 28 daerah sudah bisa new normal, kecuali Kota Jayapura,” ungkap Wagub Klemen Tinal, Kamis (30/7) lalu.

Menurut Wagub Tinal, Adaptasi New Normal di Papua ini belum dapat diterapkan di Kota Jayapura, yang kalau dilihat berdasarkan data Satgas Covid-19 Provinsi Papua, memiliki kasus positif Covid-19 terbanyak di Papua.

“Kota Jayapura saja yang tidak new normal, sedangkan yang lain sudah new normal. Namun, jangan karena Kota Jayapura belum bisa new normal sampai harus merugikan dearah lain. Artinya, mulai dari kegiatan belajar mengajar di sekolah hingga kegiatan peribadatan, jangan karena situasi di Kota Jayapura sehingga membatasi kegiatan ini di daerah lain,” tambahnya.

Dengan kata lain, kegiatan belajar mengajar di sekolah hingga kegiatan peribadatan sudah dapat dilakukan, namun dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan.

“Makanya, bukan lagi Relaksi Kontekstual Papua, melainkan Adaptasi New Normal di Papua, kecuali di Kota Jayapura,” pungkasnya.

Secara terpisah, Juru Bicara Satgas Covid 19 Provinsi Papua, dr. Silwanus Sumule, Sp.OG(K)., mengonfirmasi penambahan kasus positif baru di Provinsi Papua, Minggu (2/8) kemarin. 

Di awal Agustus ini, diketahui bahwa terdapat penambahan sebanyak 30 kasus baru di Papua. Yakni dari Mimika dengan 13 kasus, Kota Jayapura dengan 8 kasus, dan Lanny Jaya dengan 9 kasus.

“Tambahan kasus ini kiranya menjadi perhatian kita semua. Terutama penambahan kasus di Lanny Jaya dalam dua hari belakangan sebanyak 15 kasus. Ini perlu untuk menjadi perhatian khusus dari Gugus Tugas Penanganan Covid-19 di Lanny Jaya dalam mengambil langkah cepat melakukan 3T (trace, test, treat) bagi mereka yang terdampak Covid 19,” jelas dr. Silwanus Sumule.

“Petugas surveilans, termasuk petugas di Dinas Kesehatan Kabupaten Lanny Jaya juga diminta untuk dapat melakukan pemantauan yang ketat terhadap pergerakkan orang yang masuk ke Lanny Jaya, terutama dari Wamena, Jayawijaya,” sambungnya.

Selain menyampaikan penambahan kasus baru, dr. Sumule juga menyebutkan bahwa Orang Dalam Pemantauan (ODP) atau kasus kontak erat di Papua bertambah sebanyak 58 orang. Dimana mayoritas yakni 57 orang berasal dari Kota Jayapura, sementara 1 orang lainnya dari Kabupaten Boven Digoel.

“Untuk Pasien Dalam Pengawasan (PDP) atau kasus suspek bertambah sebanyak 2 pasien. Yakni masing-masing berasal dari Kota Jayapura dan Kabupaten Mimika. Adapun kabar gembira bagi kita semua, di mana terdapat penambahan jumlah kasus sembuh di Papua sebanyak 22 kasus,” terangnya.

Dikatakan, penambahan 22 kasus sembuh tersebut berasal dari Kabupaten Mimika 1 kasus, 6 kasus di Kota Jayapura, 7 kasus di Kabupaten Jayapura, 2 kasus di Jayawijaya, dan 6 kasus di Lanny Jaya.

“Dengan catatan ini, maka diketahui bahwa kasus positif secara kumulatif di Papua telah mencapai 3.070 kasus. Dari jumlah tersebut, 1.573 masih dalam perawatan, 1.464 telah dinyatakan sembuh, dan 33 pasien meninggal dunia. Sedangkan ODP sebanyak 2.728 orang, PDP berjumlah 239 pasien, dan pemeriksaan PCR/TCM telah mencapai 28.800 sampel,” tambahnya.

Sebelumnya, dr. Sumule mengonfirmasi penambahan kasus meninggal dunia di Papua, Kamis (30/7) lalu. Disebutkan dr. Sumule bahwa terjadi penambahan sebanyak 1 kasus meninggal dunia di Kota Jayapura. Adalah seorang pria  berusia 62 tahun yang meninggal dunia di salah satu rumah sakit milik Pemprov Papua di Kota Jayapura.

“Dari hasil pemeriksaan, pasien dinyatakan positif Covid-19 disertai penyakit penyerta, yakni kencing manis dan penyakit paru menahun. Tim kesehatan telah mengupayakan semaksimal mungkin hingga pasien menggunakan alat bantu napas (ventilator), namun Tuhan berkehendak lain, sehingga pasien dinyatakan meninggal dunia. 

Dengan adanya kabar duka ini, Tim Satgas Covid-19 Provinsi Papua turut berbelasungkawa yang sedalam-dalamnya bagi keluarga yang ditinggalkan. “Tuhan pasti akan memberikan penghiburan bagi keluarga yang ditinggalkan,” ucap dr. Silwanus Sumule, Kamis (30/7) lalu. 

Secara terpisah, Ketua Tim Gugus Tugas Covid-19 Kota Jayapura, Ir. H. Rustan Saru, MM., mengakui penyebaran kasus Covid-19 di Kota Jayapura masih tinggi. Dimana sesuai standar WHO, masih mencapai RO2. 

Tingginya penyebaran kasus Covid-19 menurut Rustan Saru karena adanya kontak warga di pasar dan di lokasi penjualan tiket kapal putih dimana warga sempat berdesak-desakan di kantor PT. Pelni Jayapura. Penyebaran lainnya yaitu dari tim medis atau dokter yang terpapar di rumah sakit lalu menyebar lagi di keluarga. 

 “Itulah tiga klaster di Kota Jayapura yang mengakibatkan penyebaran Covid-19 terus meningkat. Ini berdasarkan analisis di lapangan tim gugus tugas,” jelasnya Minggu (3/8) kemarin.

Diakuinya, pasien positif Covid-19 di Kota Jayapura hampir sebagian besar merupakan Otg atau orang tanpa gejala. Untuk itu, dengan penanganan tim medis maka tingkat kesembuhan pasien sangat tinggi. 

Sementara, untuk kasus kematian menurut Rustan Saru saat ini tercatat 22 kasus. Pasien yang meninggal dunia ini menurutnya kebanyakan ada gejala penyakit bawaan atau penyerta.

Rustan Saru juga tidak menampik bahwa penyebaran Covid-19 di Kota Jayapura sudah menyebar di 5 distrik dan 25 kelurahan di Kota Jayapura dan beberapa kampung. Dari data yang ada, Kelurahan Hamadi yang memiliki kasus paling tinggi.

 Untuk itu, Rustan Saru berpesan, jika warga masih bandel atau kepala batu tidak menerapkan protokol kesehatan tidak mungkin wabah Corona bisa berakhir di Kota Jayapura. Apalagi saat ini dana pemerintah dalam penanganan Covid-19 di Kota Jayapura sudah semakin menipis. Bahkan jika kasusnya masih bertambah tidak ada dana lagi, maka pasien Covid-19 bisa tidak dirawat pemerintah di hotel.

“Mereka bisa lakukan isolasi mandiri di rumah. Nanti petugas Puskesmas setempat yang akan melayani pengobatan dan pengawasan dilakukan oleh Ketua RT/RW setempat,” jelasnya,

 Parahnya lagi, jika kasus positif Covid-19 terkena orang dengan gejala punya penyakit bawaan dan Lansia tentu semakin tambah merepotkan. “Jadi diharapkan warga Kota Jayapura bisa saling jaga. Karena sampai saat ini vaksin atau obat virus Corona belum ditemukan. Apalagi perintah wali kota, rapid test massal sudah tidak lagi dilakukan, sehingga semua harus benar-benar bisa jaga diri masing-masing,” pungkasnya. (gr/dil/nat)