Komandan Lanud Silas Papare, Marsma TNI Ir. Tri Bowo Budi Santoso, MM. M.Tr(Han) saat menunjukkan hasil karya anak buahnya,  satu gitar listrik setengah jadi, terbuat dari bahan kayu bekas gelondongan banjir bandang pada Maret 2019 lalu di Meubel Lanud Silas Papare, Senin (24/2). ( FOTO: Robert Mboik Cepos)

Melihat Karya Prajurit TNI AU di Meubel Lanud Silas Papare

Banjir bandang Maret 2019 lalu meninggalkan seribu duka bagi masyarakat Sentani, Kabupaten Jayapura. Berbagai kerusakan terjadi akibat dari amukan air bah itu. Namun dari sekian ribu luka yang tersisa, ternyata ada bagian lain yang tidak terlihat. Dimana kayu gelondongan yang dibawa air bah itu kemudian disulap menjadi hasil karya yang mempunyai nilai ekonomis tinggi oleh anggota  TNI AU Lanud Silas Papare.

Laporan: Robert Mboik- Sentani

Masih membekas diingatan masyarakat Sentani tentang musibah banjir bandang yang menimpah Kota Sentani dan beberapa daerah sekitarnya, Maret 2019 lalu. Akibat dari peristiwa itu, banyak sekali kerugian yang dialami oleh masyarakat khususnya di sekitar Kota Sentani.  Kini hampir setahun berlalu, bekas dan sisa dari banjir bandang itu belum benar-benar hilang.

Terparah, kampung Kemiri Sentani,  banyak korban jiwa hingga rumah penduduk rusak berat bahkan tidak bisa ditempati lagi. Di bagian yang lain Kompleks Lanud  Silas Papare yang berhadapan langsung dengan Kampung Kemiri itu ternyata juga terkena dampak cukup besar. 

Hanya saja, saat kejadian sedikit sekali sumber yang mengekspose mengenai kerugian material di kompleks Lanud itu.

Komandan Lanud Silas Papare, Marsma TNI Ir. Tri Bowo Budi Santoso, MM. M.Tr(Han) rupanya masih menyimpan rapat tentang memori  peristiwa  yang melumpuhkan dan meluluhlantahkkan Kota Sentani itu. Dia mengisahkan, meski tak ada korban jiwa dari personilnya, namun kerugian material seperti bangunan rumah atau mes anggota tercatat 36 bangunan mengalami rusak ringan hingga rusak berat.

“Syukur anggota saya tidak ada yang jadi korban,  kita terkena dampak juga. Ada beberapa rumah diantaranya tidak bisa dipertahankan dan harus dirobohkan,” ungkap Tri Bowo Budi Santoso saat ditemui media ini di Meubel Lanud Silas Papare, Senin (24/2).

Komandan yang memikul bintang satu di pundaknya itu ingat betul, sisa kejadian malam itu cukup sulit digambarkan dengan kata-kata.  Kerusakan terjadi di mana mana, termasuk akses jalan Kemiri lumpuh total. Jalanan dipenuhi kayu gelondongan yang dibawa air. Pihaknya  beruntung karena, sedikit terlindung oleh pagar tembok. Namun di bagian lain, tembok pagarnya tidak mampu menahan derasnya aliran air sehingga menerobos masuk ke perumahan dan perkantoran Lanud Silas Papare.

Satu hal menarik dibalik peristiwa itu, bahwa sebagian besar orang menilai bahwa banjir itu menyisahkan masalah baru di tengah masyarakat Kota Sentani. Namun, tidaklah demikian halnya bagi Tri Bowo Budi Santoso. Dia punya cara pandang lain. Di mana peristiwa itu tidak hanya membawa kerugian yang besar, namun juga memberikan keuntungan bagi masyarakat. Seperti ketika dia memberdayakan potensi yang dimiliki anak buahnya. Kayu gelondongan yang dibawa air itu, kini disulap menjadi karya seni bernilai ekonomi tinggi.

“Meja kerja saya ini sudah ditawarkan Rp 100 juta oleh seseorang dari Jakarta. Nilainya unik, di Jakarta tidak ada yang beginian,” ujarnya sambil memperlihatkan meja setengah bundar hasil olahan kayu utuh gelondongan miliknya.

Menurutnya, saat kejadian banjir bandang, depan Lanud Silas Papare banyak sekali kayu gelondongan yang dibawa air. Anggotanya yang mempunyai jiwa seni kemudian diberikan kesempatan untuk mengubah kayu gelondongan itu menjadi hasil karya yang sangat unik dan indah.

Media ini berkesempatan untuk meninjau langsung Meubel Lanud itu. Di sana terdapat berbagai hasil karya seni yang terbuat dari kayu gelondongan. Mulai dari tempat tidur, kursi, meja, perlengakapan meja kafe, bangku dan masih banyak lagi karya seni lainnya.

“Ini bahannya kayu dan berasal dari kayu yang boleh dikatakan sampah. Tapi di tangan anggota kami, semuanya mempunyai nilai ekonomi tinggi,” katanya.

Dia punya harapan besar, agar anak- anak Papua yang putus sekolah bisa mandiri. Misalnya  pemerintah  bisa menyiapkan balai latihan kerja khusus untuk keterampilan.  Ini tentu sudah didukung dengan kekayaan alam di Papua. Jika itu sudah dijalankan, bukan tidak mungkin anak-anak Papua  kelak tidak bisa mandiri.

“Kalau mereka sudah bisa, hasil karyanya ditawarkan ke bank, perusahaan, perkantoran. Inilh hasil karya anak kita, pasti semua mendukung dan beli. Kami siap bantu melatih, tapi kami tidak punya anggaran,”tutupnya.***