Tugu Pahlawan Nasional Indonesia, Marthen Indey yang berada di pusat Kota Jayapura, tepatnya di samping Terminal Mesran memberikan keindahan di malam hari, Minggu (10/1). Warga Kota Jayapura diminta untuk tidak mengabaikan Prokes dalam rangka menekan penyebaran Covid-19.( FOTO: Robert Yewen/Cepos)

JAYAPURA-Masyarakat di Kota Jayapura diminta untuk sungguh-sungguh mendukung Pemkot Jayapura dan Satgas Covid-19 Kota Jayapura dalam memutus mata rantai penyebaran Covid-19 di Kota Jayapura.

Pasalnya, memasuki awal tahun 2021 kasus meninggal dunia akibat terinfeksi virus Corona di Kota Jayapura mengalami peningkatan.

Wakil Wali Kota Jayapura, Ir. H. Rustan Saru, MM., mengatakan, hingga Minggu (10/1) kemarin tercatat kasus meninggal dunia Covid-19 di Kota Jayapura sebanyak 112 kasus. Angka ini terjadi kenaikan sebanyak 8 kasus, sejak tanggal 1 Januari 2021 yang berjumlah 104 kasus.

“Ini membuktikan masyarakat masih malas tahu dan mengabaikan protokol kesehatan. Saat ini angka komulatif positif Covid-19 sebanyak 6.324 kasus. Dari jumlah tersebut, 305 orang yang masih menjalani perawatan. Semantara angka komulatif sembuh, sebanyak 5.925 orang,” ungkap Rustan Saru kepada Cenderawasih Pos, Minggu (10/1) kemarin.

“Sangat disayangkan angka kesembuhan setiap hari memang bertambah namun juga ada kasus meninggal dunia akibat terinveksi virus Corona. Tentu ini sangat disayangkan, karena pemerintah Kota Jayapura dan tim Satgas Covid-19 Kota Jayapura sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menekan kasus meninggal dunia akibat terinfeksi virus Corona. Walaupun saat ini terus banyak yang sembuh namun jika ada kasus kematian tentu ini menjadi nilai buruk pemerintah kota Jayapura dalam penanganan perawatan pasien Covid- 19,” sambungnya.

Diakuinya, dengan masih adanya kasus meninggal dunia menandakan masyarakat benar-benar tidak bisa menerapkan protokol kesehatan, masih malas tahu dan acuh tak acuh . Hal ini tentu menambah catatan bagi pemerintah pusat dan Provinsi Papua bahwa penanganan pasien covid dianggap tidak maksimal. Padahal sebaliknya pemerintah masih terus berjibaku dalam menekan angka kematian akibat virus Corona maupun memutus mata rantai penyebaran Covid-19 dan berusaha keras dalam menyembuhkan pasien yang dirawat.

Kasus meninggal dunia menurut Rustan Saru seharusnya bisa ditekan dengan baik dan jangan  sampai ada warga Kota Jayapura meninggal dunia akibat terpapar Covid-19.

Rustan Saru menyebutkan, saat ini sudah ada vaksin Covid-19 yang diharapkan bisa menjadi solusi ampuh dalam memutus mata rantai Covid-19 Kota Jayapura. Vaksin ini untuk tahap awal akan diberikan kepada tenaga medis, kemudian pelayanan publik dan masyarakat.

“Kami berharap jangan ada oknum masyarakat yang membuat berita hoax soal pemberian vaksin. Karena semua sudah diatur pemerintah dengan baik. Vaksin terlebih dahulu diberikan kepada tenaga kesehatan dan dokter sebagai garda terdepan dalam membantu merawat pasien Covid-19,” tutupnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Jayapura dr Ni Nyoman Sri Antari menjelaskan, banyaknya kasus meninggal dunia akibat terpapar virus Corona karena  masyarakat saat datang melaporkan ke petugas kesehatan, sudah dalam kondisi sakit parah. Sehingga cukup menyulitkan petugas kesehatan melakukan penanganan. Apalagi bila pasien memiliki penyakit bawaan.

Untuk itu, Sri Antari mengimbau masyarakat apabila mengalami gejala sakit yang belum parah segera memeriksakan diri ke Puskesmas atau rumah sakit.  Supaya bisa diagnosis apa sakitnya dan jika dirawat tentu lebih mudah serta tidak berisiko kepada tenaga kesehatan.

Ditambahkan, dari 25 kelurahan di Kota Jayapura semua sudah masuk zona merah, dan yang masih menduduki peringkat pertama terbanyak Kelurahan Hamadi. Sementara untuk 14 kampung, kini yang masih zona merah adalah Kampung Koya Koso. Untuk itu, semua wajib diwaspadai. Karena selama ini masyarakat menganggap bahwa virus Corona sudah berlalu dan banyak yang mengabaikan protokol kesehatan dengan tidak memakai masker, tidak menjaga jarak, selalu berkumpul. Apalagi mau melakukan cuci tangan dengan air dan sabun setelah memegang barang yang ada di dekatnya.

“Untuk kasus terbanyak pasien Covid-19, dulunya Distrik Jayapura Selatan, namun kini berpindah ke Distrik Abepura. Ini akibat warga di sana masih banyak yang tidak mau menerapkan protokol kesehatan. Sedangkan untuk pasien yang masih dalam perawatan di LPMP Kotaraja sebanyak 24 orang. Sisanya yang ada gejala dan butuh perawatan medis dirawat di rumah sakit yang ada di Kota Jayapura dan ada juga yang melakukan karantina mandiri di rumah masing-masing,” tambahnya.

Diakui, sudah dua hari ini tingkat penambahan pasien positif Covid kembali  meningkat. Dimana hari Sabtu (9/1) ada positif 30 orang dan Minggu (10/1) ada penambahan positif 31 orang. Untuk yang sembuh hanya 9 orang hari Sabtu(9/1) dan 12 orang hari Minggu (10/1) kemarin.

Sementara itu, masyarakat yang beraktivitas di tempat umum utamanya di tempat wisata di Kota Jayapura, masih banyak yang mengabaikan Prokes. Tidak sedikit, warga yang beraktivitas tanpa menerapkan protokol 3M yaitu,  menggunakan masker, menjaga jarak dan mencuci tangan yang membuka peluang pandemi terus berlanjut.

“Kalau mau dibilang memang sampai sekarang masih banyak yang kepala batu. Lihat saja di  lokasi wisata khususnya pantai seperti Pantai Hamadi, banyak yang tidak patuhi 3-M,” kata Wakil Ketua DPRD Kota Jayapura, Johny Betaubun di kantornya, pekan kemarin.

Ia merasa ngeri karena pengunjung yang datang jumlahnya bisa ribuan dalam sepekan dan ketaatan untuk protokol kesehatan tak dilakukan. “Ribuan orang datang silih berganti dan tidak menggunakan masker, saya pikir ini bahaya sekali dan seharusnya ada teguran atau pengawasan. Tidak bisa dibiarkan bgitu saja,” katanya.

John meminta Satpol PP maupun Dinas Pariwisata untuk bersinergi menyampaikan soal aturan main di tengah pandemi. Johny mengaku tidak heran jika akhirnya pemerintah memberlakukan pembatasan aktivitas masyarakat karena semua berdasar evaluasi.

Senada disampaikan anggota DPRD Kota Jayapura lainnya, Yuli Rahman dimana menurutnya setelah sempat dilakukan PSBB awal pandemi di bulan Maret lalu berdampak pada tingkat kejenuhan dan ketika semua akses dibuka ternyata tidak dibarengi dengan protokol kesehatan. “Masyarakat sudah jenuh dan 3M kendor, tatanan hidup sebelum pandemi dan setelah pandemi harusnya berbeda. Lebih ketat setelah pandemi dan bukan justru dibuat sama,” beber Yuli.

Politisi Partai Golkar ini berpendapat bahwa jika kondisinya masih begini terus maka situasi akan semakin menyulitkan.

“Saya pikir pengawasan perlu diperketat. Tatanan hidup baru harus diterapkan dan saya juga melihat tempat wisata banyak sekali dikunjungi tapi banyak yang tidak bermasker dan tak jaga jarak, itu rentan sekali,” pungkasnya. (dil/ade/ulo/nat)