Sementara itu, Dewan Adat Papua (DAP) meminta kepada pemerintah pusat agar menarik pasukan TNI di bawah kendali Komando Gabungan Wilayah Pertahanan III di wilayah Papua. Baik dari Kabupaten Intan Jaya, Paniai, Nduga, dan Kabupaten Mimika.

Penarikan pasukan tersebut menyikapi meningkatnya eskalasi keamanan di wilayah tersebut pasca kasus penembakan yang terjadi di Intan Jaya. Terlebih, pembunuhan seorang tokoh agama  Pdt Yeremia Zanambani.

Sekretaris II Dewan Adat Papua Jhon NR Gobay memandang keberadaan pasukan TNI di Intan Jaya justru memancig perlawanan dari Kelompok Separatis Bersenjata. 

“Dari dulu kami meminta agar pasukan TNI non organik ditarik dari Intan Jaya. Karena kami melihat justru akan meresahkan masyarakat dan itu terbukti,” terang Gobay saat dikonfirmasi Cenderawasih Pos melalui telfon selulernya.

Dirinya juga mendesak presiden Joko Widodo serta Panglima TNI segera membentuk Tim Investigasi untuk memastikan penyebab kematian Pdt Yeremia. Hal ini untuk mengungkap siapa pelaku penembakan tersebut.

“TNI dan pihak Tentara Pembebasan Nasional Papua Merdeka (TPN-OPM) saling tuding di balik penembakan yang merenggut nyawa tokoh agama. Ada versi yang berkembang, TNI mengatakan pelakunya aggota OPM. Sedangkan informasi yang kami terima penembakan diduga dilakukan anggota TNI,” kata Gobay.

Gobay menyarankan sebaiknya semua dibawah kendali Kodam XVII/Cenderawasih dan Polda Papua. Hal ini agar memudahkan berkoordinasi dan sama-sama menjaga keamanan di Papua.

Kabid Humas Polda Papua Kombes Pol AM Kamal

Sementara itu, Kepolisian Daerah Papua mencatat. Sepanjang Januari hingga September 2020. Sebanyak 50-an kasus kekerasan yang dilakukan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di tanah Papua.

Kabid Humas Polda Papua Kombes Pol AM Kamal mengatakan di Kampung Hitadipa, Distrik Hitadipa, Kabupaten Intan Jaya tidak ada anggota Brimob ataupun anggota TNI. Yang ada hanyalah persiapan Koramil.

“Kurun waktu dua pekan ini, telah terjadi  kekerasan yang dilakukan oleh KKB yang mengakibatka dua anggota TNI meninggal dan tiga masyarakat meninggal dunia,” jelas Kamal.

Ia menyebut, di Intan Jaya adalah kelompok KKB pimpinan Jelek Woker. Dimana mereka sengaja memancing aparat kepolisian, sebagaimana daerah tersebut cukup strategis untuk melakukan penyergapan. 

“Kasus ini murni provokasi yang dilakukan KKB, mereka mau pengalihan isu dengan membuat teror dan provokasi,” kata Kamal.

Kamal mengaku, usai penembakan Pdt Yeremia anggota Polisi yang ada di Intan Jaya datangi TKP untuk melakukan pengecekan. Anggota Mapolsek Sugapa bertemu dengan Ketua Klasis GKII Sugapa Pdt. Timotius Miagoni.

“Kami berhadap agar warga khususnya tokoh agama untuk tidak melakukan aktifitas di luar rumah apalagi pada malam hari, mengingat intensitas kekerasan yang dilakukan oleh KKB beberapa hari ini meningkat,” kata Kamal.

Ditambahkan, TNI-Polri saat ini sedang meningkatkan kegiatan kepolisian seperti melakukan patroli gabungan dalam rangka mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan. (syn/fia/oel/nat)