Kapolda Papua Irjen Pol Paulus Waterpau saat berbincang dengan Pangdam XVII/Cenderawasih Mayjen TNI Herman Asaribab dan seorang alumni Universitas Indonesia, Selasa (22/9) ( FOTO: Elfira/Cepos)

JAYAPURA- Kapolda Papua Irjen Pol Paulus Waterpauw tegaskan, akan melakukan penegakan hukum terhadap Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB). Hal ini menyikapi situasi Kamtibmas yang terjadi di wilayah hukum Mapolda Papua selama kurun waktu 2 minggu terakhir, terutama yang terjadi di Kabupaten Intan Jaya pasca meninggalnya Pdt Yerimia Zanambani akibat ditembak KKB di Kampung Hitadipa pada Sabtu (19/9)

Dalam pernyataannya, Kapolda Waterpauw mengatakan pelaku penembakan yang menewaskan Pdt Yerimia Zanambani di Kampung Hitadipa bukan dilakukan oleh aparat Keamanan. Mengingat wilayah tersebut dikuasai oleh KKB.

“Hingga saat ini Hitadipa wilayah kekuasaan KKB dan tidak ada anggota kita di daerah tersebut,” ucap Kapolda saat kegiatan tata muka Forkopinda dan para tokoh di Makodam XVII/Cenderawasih, Selasa (21/9).

Kapolda menduga apa yang terjadi di Kabupaten Intan Jaya hingga meninggalnya Pdt Yerimia pelakunya adalah KKB. Sebab, Intan Jaya merupakan daerah tak bertuan. Dimana pemerintahan tidak ada dan bupatinya berkantor di Nabire sudah 2 hingga 3 tahun.

“Jika kita sandingkan dengan Puncak Jaya yang merupakan daerah rawan. Namun ketika pemerintahnya berjalan baik, bupatinya merangkul saudara-saudara kita yang berbeda pendapat sehingga 3 tahun terakhir tidak ada jatuhnya korban jiwa di Puncak Jaya,” terangnya.

Lanjut Kapolda, demikian juga daerah lain seperti Kabupaten Puncak, Lanny Jaya, Tolikara dan Jayawijaya yang dulunya daerah tersebut merupakan daerah merah. Namun kaena pemerintahannya berjalan dengan baik, sehingga gangguan dari KKB tidak  ada di daerah tersebut.

Terkait dengan kejadian meninggalnya Pdt Yerimia akibat ditembak, Kapolda mengaku pihaknya sudah mencoba masuk untuk melakukan olah TKP. Namun karena faktor keamanan hingga menyulitkan anggota di lapangan.

“Wakapolda sudah berada di Intan Jaya untuk melaksanakan olah TKP, kita akan menunggu hasil olah TKP dan siapa-siapa pelaku ini sebenarnya. Karena ada kekerasan yang selama ini terjadi di daerah tersebut hingga ada yang melansir seakan-akan TNI-Polri yang melakukan itu dan saya mau bantah itu,” tegas Kapolda.

Pihaknya mentengarai ada trik yang sedang dimainkan terkait dengan kejadian di Intan Jaya. Pasalnya Polisi belum mendapat laporan dari satuan wilayah namun kejadiannya sudah viral di medis sosial.

“Pertanyaannya siapa yang mengviralkan hal ini dan itu sedang kami sidik, naif benar tudingannya kepada TNI-Polri,” kata Kapolda.

Dikatakan, duka cita mendalam atas kematian Pdt Yerimi di Intan Jaya. Untuk itu, Kapolda meminta semua pihak untuk bersabar, Polda dan Pangdam akan segera membentuk tim dan melakukan berbagai upaya untuk mengungkap kasus ini.

“Penembakan yang dilakukan oleh KKB terhadap seorang pendeta di Intan Jaya sengaja dipolitisi oleh beberapa oknum untuk mengarah pada sidang PBB nantinya. Ini propaganda yang dilakukan mengingat akan digelarnya sidang PBB, beberapa para pihak yang mencoba mendramatisasi kejadian tersebut,” terang Kapolda.

Diketahui beberapa teror yang dilakukan KKB kini berimbas kepada penerbangan maskapai yang enggan mengangkut aparat keamanan TNI-Polri. Pertimbangan maskapai untuk tidak mengangkut aparat dikarenakan faktor keselamatan. 

Salah satu faktor yang menjadi kendala sehingga maskapai penerbangan enggan mengangkut aparat keamanan ialah beredarnya ancaman dan teror yang dilontarkan oleh juru bicara TPNPB OPM, Sebby Sambon yang berdurasi 1 menit 20 detik yang viral media sosial pada Sabtu (19/9).

Dalam video tersebut, Sebby menyebutkan bahwa prajurit dari TNPN/OPM tidak segan-segan menembaki pesawat yang mengangkut aparat keamanan. (fia/nat)