JENDERAL SAGU: Ketua Komunitas Pengiat Sagu Papua, Marshal Suebu, saat memberikan penobatan jenderal sagu kepada Pangdam XVII/Cenderawasih, Mayjen TNI Herman Asaribab yang diwakili Kepala Staf Korem (Kasrem) 172/PWY, Kolonel Inf Achmad Fauzi, S.IP, MM., pada perayaan hari sagu ke IV di Papua di Falle Sagu Hirosi Papua di Kampung Kemiri Distrik Sentani Kabupaten Jayapura, Minggu (21/6). (FOTO: Yewen/Cepos)

SENTANI- Kapolda Papua, Drs. Irjen Pol Paulus Waterpauw dan Pangdam XVII/Cenderawasih, Mayjen TNI Herman Asaribab dinobatkan oleh Komunitas Pengiat Sagu Papua sebagai jenderal sagu.

Penobatan jenderal sagu kepada dua orang jenderal bintang dua ini bertepatan dengan perayaan hari sagu ke IV di Papua yang berlangsung di Falle Sagu Hirosi Papua di Kampung Kemiri Distrik Sentani Kabupaten Jayapura, Minggu (21/6).

Penobatan jenderal sagu ini dilakukan secara simbolis oleh Ketua Komunitas Pengiat Sagu Papua, Marshal Suebu dengan pemberian noken aspirasi dan piagam yang diterima oleh perwakilan dari Polda Papua yang diwakili salah seorang pejabat di jajaran Polres Jayapura dan Kepala Staf Korem (Kasrem) 172/PWY, Kolonel Inf Achmad Fauzi, S.IP, MM.

Ketua Komunitas Pengiat Sagu Papua, Marshal Suebu mengatakan, penobatan Kapolda Papua dan Pangdam XVII/Cenderawasih sebagai jenderal sagu ini sebenarnya secara filosofi bahwa kedua jenderal ini akan memimpin dalam perang ide dan gagasan. Dalam menjaga sagu untuk tidak dialih fungsikan dan sagu bisa disejejerkan dengan pangan-pangan unggulan lain seperti beras di Indonesia.

Menurut Suebu, kedua jenderal asli Papua ini secara tidak langsung selama ini telah mendukung kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh pengiat sagu sejak lama di Papua. “Misalnya pada saat mencetuskan hari sagu pertama pada tahun 2017 atau 4 tahun lalu kedua jenderal ini sudah memberikan dukungan terhadap kegiatan-kegiatan dalam menjaga dan melestarikan hutan sagu di Papua. Kita lihat selama ini kepada bapak jenderal ini telah lama memberikan dukungan kepada kami untuk menjaga dan melestarikan sagu, tetapi juga selama ini kedua bapak jenderal ini telah berbicara mengenai hutan sagu di Papua,” katanya.

Suebu menyatakan, kedua jenderal ini harus bersama-sama dengan semua pihak. Terutama Komunitas Pengiat Sagu Papua untuk bersama-sama berbicara mengenai ketahanan pangan di Papua, khususnya pengembangan dan pelestarian hutan sagu di Papua.

Suebu menyatakan, pihaknya di Hirosi sebelumnya mendapatkan Kalpatu Indonesia oleh negara di tahun 2006 dan di tahun 2014 Hirosi Papua meraih Wahana Lestari Indonesia. Sehingga pihaknya memiliki kapasitas untuk memberikan legitimasi kepada orang-orang yang peduli. Terutama kedua jenderal bintang dua yang saat ini memimpin institusi Polda Papua dan Kodam XVII/Cenderawasih di Papua.

“Kedua jenderal ini adalah anak-anak Papua yang nobene adalah makan sagu. Kami bangga anak-anak yang makan sagu bisa ada bintang di pundak atau pahunya. Untuk itu, kita mendorong bagaimana sagu itu penting karena memiliki kasiat yang luar biasa dan tidak kala dengan beras. Kita mendorong supaya anak-anak Papua bisa makan sagu dan kedepan bisa berprestasi seperti kedua jenderal asal Papua ini,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup (DKLH) Provinsi Papua, Jan Jap Ormuseray mewakili Pemerintah Provinsi Papua meminta kepada masyarakat di Papua untuk kembali mengonsumsi sagu sebagai salah satu makanan pokok di Papua.

Menurut Ormuseray, dengan adanya virus Corona atau Covid-19 di Papua ternyata memberikan pembelajaran kepada semua pihaknya tentang kerapuhan dalam ketahanan ekonomi atau Ketahanan pangan di Papua.

“Kita malah bergantung kepada beras. Sebenarnya kita kembali ke sagu, karena sumber daya alam menyiapkan segalanya. Baik sagu, ubi-ubian, ikan di laut, dan lain sebagainya,” katanya.

Untuk itu, Ormuseray mengajak masyarakat untuk kembali ke sagu dengan memulai menanam sagu, merawat sagu, menata kembali pohon-pohon sagu yang ada sehingga kualitasnya lebih baik, dan mengkonsumsi sagu sebagai makanan pokok di Papua.

“Kita kembangkan berbagai hasil pengolahan dari sagu. Apalagi hutan sagu kita besar, tetapi cenderung malas dengan meninggalkan hutan sagu kita dan malah berburu beras raskin. Padahal sagu itu luar biasa,” ujarnya.

Ormuseray mengimbau masyarakat di Papua untuk mengoptimalkan potensi sumber daya alam seperti sagu menjadi sumber Ketahanan pangan lokal kedepan, sehingga masyarakat Papua tidak bergantung kepada pihak luar. “Tugas kita adalah kembali tanam sagu, menata sagu, sehingga sagu itu memberikan kita kehidupan,” ucapnya.

Menanggapi banyaknya hutan sagu yang dialihfungsikan saat ini di Papua, menurut Ormuseray hal ini sebenarnya kembali kepada komitmen pemerintah daerah  melalui kepala daerah, baik bupati maupun wali kota. Dimana kepala daerah harus menyiapkan regulasi yang kuat untuk melindungi hutan sagu dan tata ruang yang jelas dan ketat.

“Hal ini supaya pada tempat-tempat dimana ada pohon sagu tidak boleh kita alihkan menjadi bangunan dan seterusnya. Karena sagu merupakan makanan pokok kita dan sagu itu menjaga ekosistem, baik sumber air dan memberikan keseimbangan udara dan lain sebagai. Inilah yang harus kita perhatikan, sehingga diharapkan kedepan ada regulasi yang kuat dan komitmen yang kuat dari para kepala daerah supaya hutan sagu yang ada tidak kita alih fungsikan, tetapi kita pertahankan dan kita kembangkan,” pungkasnya. (bet/nat)