Irjen Pol Paulus Waterpauw ( FOTO: Elfira/Cepos)

Waterpauw: Mereka Terlalu Banyak Nganggur Hingga Melakukan Kekerasan

JAYAPURA-Kapolda Papua Irjen Pol Paulus Waterpauw menginstruksikan anggota yang ada di Polres Intan Jaya untuk mengejar Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) pimpinan Karel Tipagau dan Undius Waker pasca penembakan terhadap dua tukang ojek di Kampung Mamba, Distrik Sugapa, Kabupaten Intan Jaya,  Senin (14/9).

Menurut Kapolda, dua kelompok ini (Karel Tipagau dan Undius Waker-red) merupakan kelompok yang baru muncul dan sedang didalami. Kedua kelompok ini ada hubungan persaudaraan dengan KKB yang berada di Puncak, Puncak Jaya dan Timika.

“Mereka ini terlalu banyak nganggur sehingga kerap melakukan kekerasan terhadap wara sipil maupun aparat yang bertugas di lapangan,” ucap Kapolda Paulus Waterpauw usai memimpin upacara pembukaan Binlat pra Bintara Noken Polri dalam penerimaan anggota Polri tahun 2020 di  SPN Polda Papua, Selasa (15/9).

Terkait dengan beberapa aksi kekerasan tersebut, Waterpauw meminta perlunya sinergitas antara Pemerintah Provinsi Papua dan kabupaten serta TNI-Polri yang didukung dengan MRP. Sebagaimana MRP memiliki tiga unsur utama yakni unsur adat, perempuan dan agama.

“MRP bisa menyuarakan kepada masyarakat untuk tidak membuat kekerasan kepada masyarakat sipil lainnya. Selain itu, tokoh agama mampu mengajak kelompok yang berseberangan untuk tidak melakukan tindakan kekerasan. Sebab, jika nanti aparat tegas nanti aparat lagi yang disalahkan,” ucapnya.

Waterpauw menegaskan akan menindak tegas kelompok yang berseberangan. Prinsipnya kalau mereka tetap dengan cara-cara kekerasan seperti ini.

“Kalau mereka masih mau melawan  negara, perlwawanan yang dimaksud itu dimana bukan di setiap tempat,” tambahnya.

Sementara itu, Komnas HAM RI Perwakilan Papua Frits Ramandey menyayangkan kekerasan  yang berulang yang mengakibatkan hak hidup seseorang hilang kerap terjadi di Papua. Dimana korbannya adalah warga sipil.

“Ada kecurigaan berlebihan hingga langsung melakukan tindakan kekerasan. Dalam prinsip HAM itu melanggar HAM karena melakukan penyerangan pada seseorang secara membabi buta dan sangat disayangkan,” ucap Frits.

Sebelumnya dua tukang ojek bernama Laode Anas (34) dan Fatur Rahman (23) ditembak KKB pimpinan Karel Tipagau di Kampung Mamba, Distrik Sugapa, Kabupaten Intan Jaya,  Senin (14/9) sekira pukul 11.00 WIT.

Dalam insiden tersebut, Laode Anas luka tembak pada bagian tangan kanan diameter 2 x 9 cm. sementara Fatur Rahman luka pada jidat terkenasabetan senjata tajam, hidung luka sayatan dan perut depan bagian bawah diduga luka tembak tembus bagian buah zakar.

Sementara itu, KKB terus menjadi duri dalam daging. Pengejaran yang dilakukan TNI dan Polri masih tidak menghentikan kekerasan Bersenjata yang dilakukan KKB. Sepanjang 2020 ini telah ada 46 kasus serangan Bersenjata yang diduga dilakukan KKB.

Karopenmas Divhumas Polri Brigjen Awi Setiyono menuturkan bahwa dalam sembilan bulan ini terdata ada 46 kasus Penembakan atau serangan Bersenjata yang diduga dilakukan KKB. Penyerangan itu beragam dengan korban dari TNI dan Polri. Serta, yang lebih mengenaskan banyak pula warga sipil yang disasar oleh KKB. “Penyerangan biasanya dilakukan dengan senjata api,” jelasnya.

Untuk korban meninggal Dunia terdapat sembilan orang dari 46 kasus tersebut. Lima diantaranya merupakan warga sipil, lalu dua orang dari TNI dan dua orang dari Polri. “Korban Luka juga banyak,” terang jenderal berbintang satu tersebut.

Menurutnya, sepanjang 2020 terdapat 23 orang yang menjadi Korban Luka berat dan ringan dalam penyerangan KKB. Lagi-lagi jumlah korban paling banyak adalah sipil, dengan sepuluh korban Luka. Lalu ada tujuh korban luka dari TNI dan enam korban anggota Polri. “Semoga tidak ada Korban bertambah,” jelasnya.

Untuk kasus terbaru, terdapat dua warga yang berprofesi sebagai tukang ojek ditembak oleh KKB. Menurutnya, Penembakan terjadi Senin (14/9) di Kampung Mamba. “Keduanya ditembak saat mengantar penumpang dari Kampung Yogatapa menuju Kampung Digidi,” paparnya.

Setelah melakukan Penembakan, KKB juga melakukan penganiayaan kepada kedua Korban yang berinisial LAM dan RF. Karena selain ditemukan Luka tembak juga ditemukan Luka senjata tajam di tubuh korban. “Korban Masih dilakukan perawatan, setelah ditemukan warga,” jelasnya.

Dari olah tempat kejadian perkara, petugas menentukan sebuah proyektil. Diduga proyektil tersebut berasal dari senjata laras panjang yang digunakan oleh KKB. “Saat ini kami Masih melakukan pengejaran,” paparnya kemarin di Mabes Polri.

Sementara Jury Bicara Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat-Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) Debby Sambom mengaku belum mendapatkan informasi bahwa pihaknya melakukan Penembakan terhadap dua warga yang berprofesi sebagai tukang ojek. Namun, akan dilakukan pengecekan terhadap kejadian itu. “Saya mencari informasi dulu,” ujarnya kepada Jawa Pos kemarin.

Namun begitu, beberapa kali TPNPB-OPM mengklaim menembak Intel yang menyamar menjadi warga. Sebby menuturkan, memang sebelumnya ada Intel yang ditembak. “Kemungkinan begitu juga ya,” terangnya.

Dia mengaku bahwa TPNPB-OPM tidak akan berhenti melakukan penyerangan. Bila pemerintah Indonesia tidak memberikan kesempatan bagi warga Papua untuk menentukan nasibnya sendiri melalui referendum. “Itu yang sejak awal kami inginkan,” paparnya.

Diketahui, TPNPB-OPM tidak hanya berupaya melalui jalur militer. Organisasi tersebut juga menghimpun dukungan di luar negeri. Bahkan terus berupaya mengajak Persatuan Bangsa Bangsa untuk melakukan pemantauan di Papua. (fia/idr/nat)