Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian drh I Ketut Diamirta, MP bersama Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Ir Petrus D Pasereng M.Si di dampingi Bupati Kabupaten Keerom, Muh Markum SH MH MM saat memantau hewan ternak di Arso II, Selasa (20/8). ( FOTO : Noel/Cepos)

Kebuntingan dari Inseminasi Buatan Over Target

JAYAPURA-Masyarakat Papua dan khususnya Kabupaten Keerom jika ingin berhasil dan sukses dalam memelihara hewan ternak sapi, maka harus paham kuncinya. Yakni, masalah penyiapan pakan, pengendalian penyakit dan penyediaan air.

   “Jadi kalau pakan ada, air ada, penyakit tidak ada, itu anda sudah sukses, tinggal kasih makan rumput, karena sapi tidak mungkin meminta telur atau susu. Dikasih rumput saja sudah bisa makan sampai selesai kok,” kata Direktur Jendral Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian drh. I Ketut Diamirta, MP pada acara Gebyar Upaya Khusus Sapi Indukan Wajib Bunting (Upsus Siwab)  dan Panen Pedet di Arso II Kabupaten Keerom, (20/8).

  Kata dia, jika kepala daerah memiliki hobi beternak dan memelihara sapi dengan baik, maka ia meyakini Keerom ini bisa menjadi lilin kecil yang mampu menerangi daerah – daerah lain di Papua dari segi peternakan sapi.

  “Pemerintah daerah telah diberikan tanah yang begitu subur di Papua,  sapi yang tidak bunting dibuat bunting, artinya ini kemampuan yang diberikan Tuhan yang tidak dimiliki lainnya, maka manfaatkan semua yang Tuhan berikan ini untuk kemakmuran maayarakat,” katanya.

  Sementara itu, Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Ir Petrus D Pasereng M.Si mengatakan dengan potensi di Keerom tanah yang subur maka peternakan sapi sangat cocok di wilayah ini.

  “Sebelumnya Presiden Jokowi telah membeli sapi dari Keerom, dengan harga Rp. 45 Juta dengan berat 800 kilo yang terberat yang kami survei dua hari dan disumbangkan di masjid di Waena,” tuturnya.

  Maka dengan angka kelahiran hewan mulai Januari, 100 lebih dengan personel 10 orang maka harus ditambah. “Kedepan kita harapkan ada penambahan tenaga, karena ternak kelompok ini di wilayah ada tiga distrik yang dilayani, ini cukup berat kita perlu peningkatan  SDM dalam bidang peternakan,” paparnya.

 Ia mengungkapkan sudah mencapai 75 persen serapan APBN, maka setelah kegiatan ini mencapai 85 persen.

  “Pemberian bantuan tahun ini kepada Keerom, Kabupaten Jayapura dan Kabupaten Merauke maka tahun ini hanya 4 kabupaten sesuai angaran kami harapkan kedepan bisa naik agar bisa naik tahun mendatang,” paparnya.

 Bupati  Keerom Muh Markum SH, MA, MM,  mengatakan Provinsi Papua sejak tahun 2018 sampai dengan 2019, total   sebanyak 5.350 akseptor dengan realisasi akseptor ternak yang di inseminasi buatan sebanyak 5.647 akseptor atau 105,5 persen. Target kebuntingan sebanyak 3.276 ekor dengan realisasi 4.056 ekor atau 123,81 persen, sedang target kelahiran sebanyak 2.996 ekor terealisasi sebanyak 2.851 ekor atau 95,16 persen. 

  Kondisi ini menunjukkan keseriusan dan komitmen Pemerintah Provinsi Papua dan Kabupaten/Kota sasaran UPSUS SIWAB melalui kerja keras semua pihak khususnya petugas Inseminasi Buatan yang merupakan ujung tombak keberhasilan pelaksanaan UPSUS SIWAB di Kabupaten/Kota. 

  “Saya harap program ini terus berlanjut dan terus ditingkatkan dengan penambahan target akseptor inseminasi buatan sehingga sasaran peningkatan populasi ternak sapi dan peningkatan ekonomi masyarakat peternak di Provinsi Papua terus meningkat,” paparnya. (oel/tri)