Andy Ayamiseba ( FOTO: Foto: Andy Ayamiseba)

JAYAPURA- Papua berduka, seorang tokoh besar Papua, Founder ( Pendiri) sekaligus Manajer Grup Band Legenda Black Brothers,  Andy Ayamiseba, Pukul 16:00 waktu Australia berpulang. Banjir ucapan duka dan kehilangan yang mendalam dai berbagai kalangan menghiasi halaman media social di Papua, sejak kemarin. Ucapan dukacita dibarengi ungkapan simpati, respek dan hormat atas jasa dan semangat yang telah dilakukan oleh tokoh penting dalam membangun spirit perjuangan bangsa Papua.

Andy Ayamiseba adalah Inisiator dan Inspirator terbentuknya group Band legendaris Black Brothers.  Group ini bukan sekadar kelompok musisi biasa. Mereka memiliki visi dan misi utama untuk mengangkat martabat bangsanya yang selalu dibilang masih terbelakang, membebaskan bangsanya dari berbagai bentuk penindasan lewat karya dan aluanan music mereka.

Di bahwa pimpinan Andy, Group ini memulai karier music yang bergitu mendarah daging bagi orang Papua. Sekelompok anak muda  Papua dengan skill musikalitas yang mampuni, dari timur Indonesia hingga ke pulau Jawa. Black Brothers kemudian menjadi kiblat music moderen di Kawasan Pasific dan menjadi legenda.  

Dikutip dari tulisan Honi jr.  sosok Andy Ayamiseba adalah tokoh yang merekrut personel Black Brother, yang diseleksi berdasarkan potensi-potensi mereka secara individu agar produksi bisa mencapai hasil yang semaksimal mungkin. Jocky Phu, dijuluki si pena emas karena dia adalah penyair besar yang berwatak cinta damai dan keadilan. Kemudian, Hengky (alm) yang memiliki suara emas yang khas Black Brother dan sulit diganti oleh suara lain.

Sijari emas August Rumaropen (alm) dijuluki George Bensonnya Papua dengan watak halus dan rendah hati. Ada juga Benny pada bass dan Stevie si penabuh drum. Keduanya adalah tulang punggung rythm section-nya. Akhirnya David(Dullah) dan Amry yang menciptakan dandanan rythem musik BB. Paduan musik dan vokal mereka yang harmonis sesuai dengan melodi dan syair lagu-lagunya telah menembus nusantara dan Pasifik Selatan. Hal ini  membuat grup musik Black Brother melegenda di Pasifik Selatan, Indonesia,  dan Eropah dengan lagu Jalikoe.

“Saya selaku pendiri dan manajer sekaligus produser eksekutif supergroup ini sulit untuk mendapatkan musisi-musisi alam yang diberkati dengan talenta oleh Tuhan Yang Maha Kuasa seperti mereka. Saya sangat berterima kasih dan bangga karena diberkati dengan kesempatan untuk bekerja dengan group legendaris ini,”tulis Ayamiseba.

Selain memimpin Group Band Black Brother yang ‘hijrah’ keluar Indonesia karena tekanan politik. Putra sulung pasangan Dirk Ayamiseba (alm) dan Dolfina Tan Ayomi (alm) ini dan Black Brothers mulai menetap di Vanuatu sambil berkampanye bagi Perjuangan Papua.

Andy juga menjadi tokoh penting bersama-sama tokoh Papua lainnya memperjuangkan keikutsertaan WPNCL ( West Papua National for Liberation) dalam MSG Leaders Summit, sejak 2012.  Beberapa tahun belakngan, meskipun dalam keadaan sakit, Andy terus semangat melobi sambil mempersiapkan syarat guna mengajukan status keanggotan penuh bagi West Papua dalam MGS. 

Andy Ayamiseba menjadi tokoh yang bergitu dihormati dan disegani di Papua dan di kawasan negera-negara pasifik karena perjuangannya yang penuh semangat bagi bangsa Papua hingga akhir hayatnya. Andy Ayamiseba meninggal di Autralia, 21 Februari 2020, pada pukul 16.00 waktu setempat karena sakit. (luc)