Respon Masyarakat Perihal Meniadakan Open House Perayaan Natal – Tahun Baru

Suasana malam pergantian tahun baru di Kota Jayapura diwarnaik dengan pesta kembang api. Dalam pergantian malam tahun baru tak ada pesta kembang api lagi menyusul adanya pandemi Covid-19. (Grati/cepos)

Karena Covid 19, tradisi open house dan perayaan tahun baru nampak berbeda. Pemprov Papua dan Pemkot Jayapura menyarankan open house dan perayaan tahun baru tidak dilakukan di tahun ini. Lantas bagaimana respon masyarakat? Berikut laporan Cenderawasih Pos.

Laporan: Gratianus Silas

Open house sudah menjadi tradisi masyarakat di wilayah timur Indonesia, khususnya di Papua, sebagai momen bersilaturahmi, memperkuat jalinan persaudaraan antar umat beragama saat hari raya keagamaan, dalam hal ini saat Idul Fitri dan Natal.

Sama halnya dengan perayaan tahun baru yang menjadi tradisi masyarakat di seluruh dunia. Pergantian tahun menjadi momen yang dirayakan masyarakat di seluruh dunia, termasuk di Papua, yang umumnya dengan pesta kembang api, untuk menyambut tahun baru yang lebih baik dari tahun sebelumnya.

Namun, sejak Covid 19 merebak menjadi pandemi global di sepanjang tahun ini, tradisi open house maupun perayaan tahun baru tidak dianjurkan pemerintah, setidaknya di tahun ini saja. Hal ini tentunya berkaitan erat dengan penyebaran Covid 19.

Pemerintah Provinsi Papua menyarankan open house tidak dilakukan, namun tidak mengurangi makna Natal. Natal dapat tetap dimaknai dnegan doa syukur kepada Tuhan di setiap keluarga masing-masing. Sedangkan Pemerintah Kota Jayapura akan mengeluarkan surat edaran instruksi wali kota terkait perayaan Natal yang tidak boleh dilakukan secara outdoor, namun hanya boleh dilakukan di dalam ruangan dan dibatasi 50 persen dari kapasitas ruangan, di mana standar prosedur protokol kesehatan wajib diterapkan.

“Natal itu tidak perlu ada yang open house dan undang semua. Kita doa saja semua. Tuhan itu Maha Tahu, sehingga dengan berdoa, Tuhan berkati kita semua. Natal di hati masing-masing dan keluarganya untuk sejahtera,” ungkap Wakil Gubernur Papua, Klemen Tinal, SE., MM.

Sedangkan Juru Bicara Satgas Covid 19 Provinsi Papua, dr. Silwanus Sumule, Sp.OG(K)., mengatakan, open house saat Natal dan perayaan tahun baru berpotensi menjadi momen penularan Covid 19.

“Kalau kita bicara open house dan menyebabkan banyak orang berkumpul, lebih baik jangan dilakukan. Kalau open house dan kita bisa jaga jarak, bisa terapkan protokol keseahtan, kenapa tidak dilakukan. Tapi, kalau menyebabkan banyak orang berkerumun, pendapat saya pribadi, jangan dilakukan,” terang dr. Silwanus Sumule, Sp.OG(K).

“Hal yang sama berlaku untuk perayaan tahun baru. Mari kita batasi diri, melakukan kegiatan yang tidak mengakibatkan banyak orang berkumpul,” tambahnya.

Wali Kota Jayapura, Dr. Benhur Tomi Mano, MM., menegaskan bahwa Pemkot Jayapura tidak akan memberikan izin terkait perayaan malam tahun baru, termasuk pesta kembang api pada malam pergantian tahun.

Pemkot Jayapura juga akan mengeluarkan surat edaran instruksi wali kota terkait perayaan Natal yang tidak boleh dilakukan secara outdoor, melainkan hanya boleh di dalam ruangan yang diatur sesuai standard protokol kesehatan.

Demikian, hal ini tentu mendapat berbagai respon dari masyarakat, di mana ada yang pro, namun ada pula yang kontra dengan anjuran pemerintah tersebut. Seperti halnya seorang warga Kota Jayapura, Albryan Beay berharap perayaan tahun baru dan natal tetap ada, namun bagaimana perayaan itu diatur sesuai protokol kesehatan, seperti wajib mengenakan masker, handsanitizer, cuci tangan, jaga jarak, dan tidak mengumpulkan banyak orang atau berkerumun.

“Ini ditekankan pula terlebih kepada kesadaran pribadi dari setiap masyarakat untuk menjalankan protokol kesehatan,” jelas Albryan Beay

Menurutnya, perayaan Natal – tahun baru sudah identik dilakukan tiap tahunnya, sehingga kalau ditiadakan, tentunya akan sangat terasa berbeda. “Tidak mungkin kan kalau natal online atau pegang tangan (silaturahmi/open house) online begitu. Aneh saja begitu,” sebutnya.

Warga masyarakat Kota Jayapura lainnya, Evert Anderson, juga menginginkan momen Natal – tahun baru di akhir tahun tetap dilakukan. “Kalau kekhawatirannya adalah penularan, maka protokol kesehatan yang harus ditekankan pemerintah dari pakai masker, cuci tangan, handsanitizer, jaga jarak, dan lainnya. Itu saya rasa sudah cukup. Karena protokol kesehatan itu dibuat untuk mencegah penularan. Masa sudah pakai protokol kesehatan baru kita masih dilarang lagi untuk keluar?” ungkap Evert Anderson.

“Contohnya saja saat pembatasan sosial, pembatasan waktu aktivitas sampai pukul 14.00 siang, tapi kasus tetap bertambah. Jadi, buat kita masyarakat awam ini menganggap bahwa kita di rumah atau tidak di rumah, kasus tetap bertambah, sehingga untuk itu bagaimana kita lebih menekankan agar protokol kesehatan itu diterapkan,” sambungnya.

Di sisi lain, warga Kota Jayapura lainnya, Arnold Menanti, mendukung sikap pemerintah yang berupaya mencegah terjadinya klaster Natal – tahun baru. “Untuk situasi pandemi seperti ini, sebaiknya kita lakukan apa yang menjadi anjuran dari pemerintah untuk tidak melakukan kegiatan yang mengumpulkan orang, termasuk saat Natal dan tahun baru. Memang harus kita akui kebiasaan kita di Papua yang berkumpul dengan keluarga saat Natal, tapi mungkin ada baiknya bagi kita untuk tetap jalankan protokol kesehatan sesuai anjuran pemerintah,” terang Arnold Menanti.

Kata Arnold, sudah ada aplikasi smartphone yang menunjang komunikasi audio – visual yang dapat digunakan masyarakat untuk berkomunikasi, bersilaturahmi saat Natal maupun tahun baru.  “Kita jaga agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, seperti penularan virus di saat pandemi Covid 19 yang melanda kita di sepanjang tahun ini.

Sedangkan untuk tahun baru, menurut Arnold, kala tidak dirayakan, maka bukan hanya mencegah penularan terjadi, namun bisa lebih menyimpan uang. “Karena kalau tahun baru dirayakan dengan euforia yang berlebihan, selain menambah risiko penularan, kita juga mengeluarkan uang lebih banyak,” pungkasnya.(*/wen